FKUB Berencana Bikin Riset Ilmiah Soal Toleransi di Jabar

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Barat berencana melakukan riset ilmiah terkait tingkat toleransi dan intoleransi masyarakat di Jawa barat.

FKUB Berencana Bikin Riset Ilmiah Soal Toleransi di Jabar
Ketua FKUB Jawa barat Rafani Achyar/foto: INILAH: RIdwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Barat berencana melakukan riset ilmiah terkait tingkat toleransi dan intoleransi masyarakat di Jawa barat.

Ketua FKUB Jawa barat Rafani Achyar, mengatakan, Riset tersebut, merupakan jawaban atas hasil riset Setara Institut yang mengkategorikan Provinsi Jawa Barat sebagai daerah paling intoleran di Indonesia pada akhir bulan lalu.

"Ketika kita menolak hasil riset itu, didasarkan kepada hasil riset yang ilmiah juga, jadi bukan hanya menolak denhan statmen yang vulgar saja," ucap Rafani saat ditemui di Kantor MUI Jabar, Jalan L. L. R.E. Martadinata, Kota Bandung, Kamis (5/12/2019).

Rencanya sebelum melakukan riset, lanjut Rafani, pihaknya akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) internal terlebih dahulu pada pekan depan. FGD tersebut akan membahas beberapa permasalahan terkini khususnya terkait toleransi dan intoleransi.

Selain itu, Rafani mengungkapkan, FGD tersebut juga bertujuan untuk menyamakan pandangan atau penilaian FKUB di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat tentang indeks kerukunan.

"Kita nanti akan menindaklanjuti dengan FGD tentang indeks kerukunan, sampai hari ini kan belum ada indeks kerukunan antar umat beragama, intern umat beragama. Kemudian kita mendefinisikan apa yang disebut toleransi, intoleransi, dan radikalisme supaya presepsi orang terkait hal itu bisa sama," ujar Rafani.

Tak tanggung-tanggung, Rafani menegaskan dalam FGD tersebut, pihaknya akan melakukan kajian mendalam terkait metodologi yang digunakan Setara Institut atas risetnya terkait intoleransi di Jawa Barat.

"Bahkan kami akan membedah metodologi riset yang dipakai stara institute itu seperti apa, kita juga akan mendiskusikan secara internal," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)


Editor : JakaPermana