Gas Metan Berpotensi Picu Ledakan, Walhi Jabar Desak Pemerintah Tangani Kebakaran TPA Sarimukti Secepatnya
Memasuki hari kelima area kebakaran TPA Sarimukti, api menjalar hingga luasnya sudah mencapai 10 hektare yang tersebar di tiga zona, yakni zona 2, 3, dan 4. Walhi Jabar memprediksi, gas metan di sana berpotensi picu ledakan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Memasuki hari kelima area kebakaran TPA Sarimukti, api menjalar hingga luasnya sudah mencapai 10 hektare yang tersebar di tiga zona, yakni zona 2, 3, dan 4. WALhi Jabar memprediksi, gas metan di sana berpotensi picu ledakan.
Selain dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar kebakaran TPA Sarimukti, Walhi Jabar menilai adanya potensi ledakan sampah akibat tingginya gas metan lantaran sampah yang ada dibuang ke TPA Sarimukti tercampur, salah satunya sampah organik.
"Tidak menutup kemungkinan kebakaran TPS Sarimukti juga bakal terjadi ledakan karena tingginya gas metan. Sebab, sampah di TPA Sarimukti itu tercampur ada organiknya," ungkap Direktur Eksekutif Walhi Jabar Meiki W Paendong saat dihubungi, Rabu 23 Agustus 2023.
"Jadi sampah organiknya ini membusuk di bawah dan menghasilkan gas metan," sambungnya.
Meiki menjelaskan, gas metan ini merupakan zat yang mudah terbakar apabila dipicu api. Jadi, tidak menutup kemungkinan berpotensi terjadi ledakan.
"Makanya kami mendesak supaya buru-buru ada penanganan secara cepat," jelasnya.
Terlepas potensi ledakan bisa terjadi, terang Meiki, namun api ini masih akan bertahan lantaran mengandung metan itu tadi.
Bahkan, lepasan dari sela-sela sampah yang menumpuk tersebut bisa memperparah kondisi.
"Jadi pemicu kebakarannya bukan dari sampah-sampah yang terbakar, tapi dibantu sama gas metan," ucapnya.
Untuk itu, pihaknya tengah mencoba berfikir untuk mengambil perbandingan kebakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut.
"Lahan gambut kan karakteristiknya kering. Makanya meski di atas disemprot air, tapi di bawahnya itu masih terbakar," paparnya.
Namun, secara teknis bisa mengadopsi penanganan kebakaran hutan dan lahan gambut.
Misalnya, secara teknis membuat parameter atau parit untuk membatasi api meluas.
"Jadi tidak hanya disiram air terus menerus, tapi ada parit seperti pola penanganan lahan gambut," pungkasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

