Info bagi Penikmat Kopi, Inilah Kopi Brusel yang Wajib Dicoba Kenikmatannya
Bagi penikmat kopi, menikmati keragaman khas kopi adalah sensasi. Nah, kopi khas Brusel atau Burangrang Selatan patut dicoba cita rasanya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Ngamprah,- Bagi penikmat kopi, menikmati keragaman khas kopi adalah sensasi. Nah, kopi khas Brusel atau Burangrang Selatan patut menjadi sebuah rekomendasi untuk dinikmati.
Siapa yang tak kenal dengan kopi. Minuman yang diolah dari biji kopi yang disangrai dan dihaluskan hingga bubuk ini ternyata memiliki banyak penggemar, termasuk generasi milenial.
Bagi para pecinta kopi, di Desa Cipada, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata memiliki jenis kopi yang wajib dicoba.
Masuk dalam jenis kopi arabika, kopi khas dari Desa Cipada ini memiliki rasa yang khas dan tidak membuat kembung saat dinikmati.
Dikenal dengan nama Kopi Burangrang Selatan (Bursel) kopi yang satu ini ditanam dan diracik sendiri oleh petaninya langsung.
Baca Juga: Kebijakan Gage di Kawasan Puncak Dinilai Kontra Produktif
Petani sekaligus pemilik Kopi Bursel, Sugondo mengatakan, kopi dari kebunnya tidak diolah dipabrik seperti kopi pada umumnya.
"Dari mulai menanam, produksi, proses hingga pengolahan dilakukan sendiri," kata Sugondo kepada INILAH, Rabu, 1 September 2021.
Wa Gondo sapaan akrabnya Sugondo mengaku, awal mula melakukan budidaya kopi ini berangkat dari keprihatinannya terhadap para petani yang menjual kopi kepada tengkulak dengan harga yang tak sebanding.
"Ya kita tahu kalau menjual kopi ke tengkulak pasti harganya lebih murah, sementara tengkulak bisa dapat keuntungan yang lebih besar," ujarnya.
Berangkat dari hal itu, lanjut dia, pihaknya mulai menggali potensi kopi dari hulu ke hilir dengan tujuan mengangkat kembali harga kopi dari petani.
Baca Juga: Inilah Lika-liku Vaksinasi yang Dihadapi Jabar
"Dengan usaha seperti itu mungkin harga kopi dari petani bisa jauh lebih tinggi yang tentunya bisa kembali meningkatkan perekonomian warga, dalam hal ini petani kopi," paparnya.
Kendati demikian, Wa Gondo mengaku, dirinya tidak menjual kopi kepada konsumen dalam jumlah banyak.
Pasalnya, kopi yang diproduksi olehnya hanya untuk konsumsi pribadi dan masyarakat sekitar lantaran produksinya yang masih terbatas.
"Saya batasi karena untuk konsumsi pribadi, kalau ada yang beli saya jual gak nyampe puluhan kilo," ujarnya.
Ia menjelaskan, panen kopi dilakukan setahun sekali dengan masa panen bisa sampai 4 bulan, bahkan lebih. Hal itu juga menjadi salah satu kendala produksi kopi.
Baca Juga: KBRI Kairo dan Asdin Pesantren Dorong UMKM dan Pesantren Menjadi Pelaku Pasar Ekspor ke Mesir
"Untuk harga kopi sendiri cukup bervariasi, kopi dengan kemasan 100 gram dijual dengan harga yang cukup bervariasi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu tergantung varian," jelasnya.
Sedangkan, kata dia, untuk kopi dengan varian honey dihargai Rp 25 ribu, natural Rp 30 ribu, wine Rp35 ribu dan full wash Rp 20 ribu per 100 gram.
Dikatakan Wa Gondo, Kopi Bursel memiliki keunikan tersendiri, yaitu dari cita rasanya. Menurutnya, beberapa barista kopi yang pernah melakukan cuping menyebut kopi Bursel memilik banyak rasa.
"Saat dicoba barista, kopi Bursel memiliki 6 rasa yang berbeda, mungkin karena lokasi penanamannya. Karena cita rasa kopi tergantung kondisi yang ada di sekitarnya," katanya.
Baca Juga: Ingat EYD, Badan Bahasa Lakukan Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia
Disinggung soal kendala yang kini tengah dihadapi, para petani masih belum bisa memproduksi dalam jumlah besar. Selain itu, untuk proses pengolahan hingga jadi bubuk kopi sendiri, pihaknya tidak memiliki mesin roasting dan grinder.
"Saya berharap segera ada bantuan dari pemerintah agar potensi kopi di Bandung Barat bisa tumbuh dan berkembang," bebernya. (agus satia negara)
Editor : inilahkoran


