Jangan Latah Ikut-ikutan Budaya Childfree, Psikolog UM Bandung: Menikah itu Ibadah
Fenomena childfree di tengah masyarakat Indonesia mulai menjamur. Dosen Psikolog UM Bandung, Novy Yulianty tidak setuju dengan budaya itu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) Novy Yulianty menyatakan sikapnya yang tidak setuju dengan budaya childfree (menikah tanpa memiliki anak). Menurutnya, hal itu menyelisihi syariat islam.
Novy Yulianty mengatakan, childfree merupakan keputusan yang diambil secara sadar oleh pasangan untuk tidak memiliki anak atau keturunan.
"Menurut saya itu kembali lagi kepada pasangan tersebut. Memang pada dasarnya keputusan pasangan suami-istri untuk memiliki anak tidak bisa sembarangan. Artinya orang tua perlu terlebih dahulu memastikan bahwa dirinya siap menjadi ayah dan ibu," kata Novy Yulianty, Jumat 17 September 2021.
Baca Juga: Keren! Episode Terakhir 'Hospital Playlist 2' Capai Rating Tertinggi Sepanjang Musim
Novy Yulianty mengakui di lapangan banyak ditemukan masalah terkait pengasuhan yang penyebabnya tak lain lantaran ketidaksiapan pasangan suami-istri menjadi orang tua.
”Namun, saya pribadi tidak setuju dengan childfree karena selain dengan adanya anak akan membuat pernikahan lebih bahagia, juga terkait pemahaman saya secara Islam. Karena upaya untuk memiliki keturunan dengan menikah menjadi sebuah ibadah dalam mencari Ridho Allah dan berharap berkah dari doa anak saleh setelah orang tua meninggal,” tutur Novy Yulianty.
Dosen UM Bandung ini kembali menegaskan bahwa banyak faktor mengapa ada di antara pasangan suami-istri mengambil keputusan childfree.
Pertama, bisa jadi karena ketidakmampuan berperan menjadi ayah dan ibu. Kedua, mungkin ada masalah ekonomi serius sehingga dengan sengaja menunda bahkan memutuskan untuk tidak memiliki anak.
Baca Juga: Sejarah Baru IBL, Kompetisi 2022 Diikuti 16 Tim Salah Satunya Milik Raffi Ahmad
”Selain itu, keputusan childfree sering kali disebabkan karena seseorang masih mempunyai ‘luka pengasuhan’ di masa lalu dan hal ini akan menjadi masalah tersendiri. Apalagi jika seseorang memiliki trauma yang berasal dari keluarganya terdahulu, relasi pernikahan kedua orang tua yang tidak sehat, ataupun ketidaksesuaian cara bagaimana orang tua mengasuh serta mendidik kita,” tegas konselor keluarga ini.
Semua itu, lanjut Novy Yulianty, akan menyebabkan seseorang menjadi cemas akan masa depan yang padahal belum tentu terjadi. Namun, fakta demikian memang susah dibantah.
Dia menjelaskan, ketika ada pasangan memutuskan childfree, idealnya masyarakat jangan terburu-buru memberikan stigma negatif kepada pasangan tersebut. Ada baiknya untuk mendengarkan apa alasannya, apakah ada kekhawatiran, dan sejauh mana kekhawatiran itu.
”Saya yakin bahwa sebagai manusia biasa, sebenarnya semua orang memiliki naluri sebagai orang tua karena memang itu fitrah yang sudah Allah install ke dalam diri kita masing-masing,” tuturnya.
Di balik fenomena childfree, penulis buku ”Luka Batin Masa Kecil” ini berpendapat bahwa ada masalah lain yang juga mengakar dan ini yang membuat kita untuk lebih peka.
Baca Juga: UMKM Sukses E-commerce Bagikan Tips di Tengah Pandemi
Misalnya, apakah orang tersebut sebenarnya punya pengalaman tidak menyenangkan dalam relasi orang tua-anak? Atau gambaran orang tua yang didapatkan sejak kecil tidak sesuai dengan harapan sehingga asumsinya dia tidak mau meneruskan mata rantai “luka” itu dengan jalan tidak sama sekali memiliki anak.
”Jika hal ini terjadi, segera berikan support untuk mencari bantuan professional psikolog agar masalah ini bisa cepat diatasi sehingga seseorang bisa kembali pada fitrah perannya sebagai orang tua dan berdampak pada tercapainya kebahagiaan dalam pernikahan,” pungkas Novy Yulianty.*** (okky adiana)
Editor : inilahkoran


