Hati-hati! Orang Sinis Lebih Berisiko Terkena Penyakit Jantung

Sebuah studi menunjukkan bahwa orang sinis bisa lebih berisiko terkena penyakit jantung. Temuan itu terbut pada Jurnal Psychophysiology.

Hati-hati! Orang Sinis Lebih Berisiko Terkena Penyakit Jantung
ilustrasi sakit jantung

INILAHKORAN, Bandung - Sebuah studi menunjukkan bahwa orang sinis bisa lebih berisiko terkena penyakit jantung.

Temuan itu telah terbit di jurnal Psychophysiology pada 2020. Penulis utama studi, Alexandra Tyra, menjelaskan kesinisan yang dimaksud yakni cenderung memandang rendah orang lain. Penelitian melibatkan 196 orang.

"Sinisme yang dimaksud lebih bersifat kognitif, seperti keyakinan, pemikiran, dan sikap negatif tentang motif, niat, dan kepercayaan orang lain," ujar Tyra seperti dilansir dari laman Spring, Minggu 27 Maret 2022.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Minggu 27 Maret 2022: Aries Jujur Pada Diri Sendiri, Cancer Siap-siap Dapat Promosi

Orang yang sinis lazimnya sering merasa curiga dan kurang bisa memercayai orang lain. Berdasarkan hasil studi, sikap demikian dapat berbahaya untuk respons stres jangka pendek dan jangka panjang.

Perilaku sinis bisa termanifestasi sebagai agresi verbal atau fisik dan pada aspek emosional mewujud sebagai kemarahan kronis. Akumulasi sikap ini membuat seseorang sukar beradaptasi dengan berbagai stresor.

Dalam kondisi normal, seseorang yang sehat akan memiliki respons baik terhadap stres. Tyra mewanti-wanti bahwa orang yang sering bersikap sinis dapat mencegah atau menghambat penurunan respons itu.

Baca Juga: Baekho NU'EST Dinyatakan Positif Covid-19, Setelah Lakukan Comebcak Grup Terakhirnya

Sistem kardiovaskular merespons dengan cara sama terhadap stresor yang datang berulang. Dalam pandangan Tyra, itu tidak sehat karena meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular kita dari waktu ke waktu.

Guna mendapat hasil itu, peserta studi menjalani tes kepribadian sekaligus tes respons stres. Tyra berharap penelitiannya dapat meningkatkan kesadaran tentang potensi implikasi kesehatan dari sinisme.

"Mungkin saat lain kali seseorang berpikir negatif tentang motif, niat, atau kepercayaan sahabat, rekan kerja, atau bahkan politisi, mereka akan berpikir dua kali untuk secara aktif terlibat dengan pemikiran itu," ungkap Tyra.***


Editor : inilahkoran