Geger Ibu Gorok Anak di Brebes, Psikolog: Ada Frustrasi dan Kemarahan Hebat
Kanti Utami tega menggorok tiga anaknya di Brebes, Minggu 20 maret 2022 lalu. Simak analisa dari psikolog Ratih Ibrahim.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Seorang ibu bernama Kanti Utami di Brebes, Jawa tengah, tega menggorok tiga anaknya, Minggu 20 Maret 2022 lalu. Begini pandangan Psikolog.
Persitiwa nahas itu membuat seorang anak Kanti Utami yang berusia tujuh tahun meninggal dunia. Dua anak lainnya yang berusia 10 dan 4,5 tahun saat ini kritis di rumah sakit.
Menurut Psikolog Ratih Ibrahim, kasus pembunuhan seperti ini harus diamati secara spesifik dengan menunggu hasil pemeriksaan dari tim psikiatri forensik kepolisian.
Baca Juga: Lirik Lagu Berdamai – Raisa
Menurut Ratih Ibrahim, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak masyarakat, terlebih karena hanya melihat melalui video yang beredar.
Meski demikian, Ratih mengidentifikasi perbuatan ibu tersebut sebagai manifestasi dari rasa keputusasaan, frustrasi, hingga kemarahan.
"Saya mengidentifikasi ada perasaan keputusasaan, frustrasi, dan kemarahan yang sangat hebat pada dia. Tapi pertanyaannya marahnya sama siapa, sama anak-anaknya? Belum tentu. Itu bisa kemarahan pada nasib atau suami," kata Ratih, Rabu 23 Maret 2022.
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk hingga kondisi yang terjadi pada suami juga harus diinvestigasi lebih lanjut.
Baca Juga: Pendistribusian Minyak Goreng Curah di Cirebon Diawasi Tim Audit
"Kalau saya baca (dari berita) orangnya tertutup, ya. Mungkin juga mau minta tolong sama siapa. Dan karakteristik kepribadiannya seperti apa, kita enggak tahu, karena itu juga bisa berpengaruh terhadap bagaimana dia mengambil tindakan fatal seperti ini," kata Ratih yang juga menjadi Direktur Personal Growth itu.
Ratih juga mempertanyakan maksud kata-kata yang dilontarkan ibu tersebut yang ingin membebaskan penderitaan anak-anaknya dengan cara membunuh mereka.
"Dia bilang, dengan membunuh itu berarti membebaskan anak-anaknya dari kemungkinan penderitaan yang lebih besar. Pertanyaannya penderitaan apa, apakah memang dia secara sadar melakukannya atau punya pikiran ngawur. Tapi di sisi lain dia juga bilang, 'Saya nggak gila'," kata Ratih.
Baca Juga: Kembali Gelar Operasi Pasar Minyak Goreng, Ini Sasaran Disperindag Jabar
Sementara pada dua anak terdampak, Ratih berharap agar pihak lain turut membantu penanganan dan proses pemulihan dengan tidak membuat kondisi mereka menjadi lebih berat.
Menurut Ratih, tingkatan trauma kedua anak tersebut juga tidak dapat diperkirakan.
Baca Juga: Tambah Dua Guru Besar, Ini Harapan Rektor Unpar Bandung
"Nomor satu dapat tempat berlindung dulu, mudah-mudahan mereka bisa berkembang dan bertumbuh dengan bagus dan sehat, mendapat penanganan psikologis dan terapi yang baik. Itu juga jadi doa dari kita semua agar anak-anak ini bisa sembuh dari trauma," katanya.***
Editor : inilahkoran


