Geliat Dakwah dan Kajian Agama Para Penyandang Tunarungu di Kab Bandung
Belajar dan memperdalam ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Kewajiban dan kerelaan untuk berserah diri kepada Allah SWT inilah yang disadari para penyandang disabilitas tunarungu untuk lebih giat mempelajari ajaran agama Islam. Mereka pun turut mengikuti berbagai kajian Alquran, hadis, dan dakwah di berbagai tempat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Belajar dan memperdalam ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Kewajiban dan kerelaan untuk berserah diri kepada Allah SWT inilah yang disadari para penyandang disabilitas tunarungu untuk lebih giat mempelajari ajaran agama Islam. Mereka pun turut mengikuti berbagai kajian Alquran, hadis, dan dakwah di berbagai tempat.
Para penyandang tunarungu di Kabupaten Bandung itu getol mempelajari ilmu agama Islam di beberapa masjid di Kabupaten Bandung. Salah satunya yakni di Masjid Raya Al Fathu Soreang. Ada yang menarik dari kegiatan kajian keagamaan yang dilakukan para penceramah dan penerjemaah dalam kelompok pengajian tersebut. Seorang penceramah membaca dan menerjemaahkan ayat ayat dalam Alquran. Sedangkan, seorang penerjemaah yang duduk disamping penceramah terlihat menggerak-gerakan tangan sebagai bahasa isyarat.
"Setiap bulan kami melakukan itikaf dengan beberapa orang kawan dari tunarungu maupun yang normal itu dilakukan di beberapa masjid di Kota dan Kabupaten Bandung. Kami juga sowan dan silaturahmi kepada para ulama dan mereka mengakui kesulitan untuk melakukan dakwah ataupun mengajari kawan kawan tunarungu ini," kata Abas salah seorang penerjemaah dakwah untuk para penyandang tunarungu, Jumat (5/7/2019).
Diakui Abas, selama ini dakwah dari para penceramah untuk kalangan penyandang tunarungu terbilang minim. Padahal, sebagai seorang muslim para penyandang tunarungu ini juga memiliki kewajiban untuk belajar dan mengamalkan ilmu agama seperti umat Islam yang dikarunia kesempurnaan fisik.
"Selama ini memang kurang atau jarang sekali ada penceramah yang mengajarkan ilmu agama khusus untuk para penyandang tunarungu. Dan di Sekolah Luar Biasa (SLB) juga meskipun ada pelajaran agama namun kurang. Alhamdulilah setelah kami bersama sama menggelar pengajian dan dakwah kepada teman teman tunarungu ini, sedikit sedikit mereka belajar mengenal Allah SWT," ujarnya.
Abas melanjutkan, kajian Alquran dan hadis untuk para penyandang tunarungu ini telah berlangsung relatif lama. Namun, memang untuk di Kabupaten Bandung belum begitu lama karena biasanya kajian keagamaan dan dakwah ini lebih banyak dilakukan diberbagai masjid di Kota Bandung. Sedangkan di Kabupaten Bandung, dilakukan di Masjid Al Muklis di Kamasan Kecamatan Banjaran.
"Kalau di Kota Bandung sudah berlangsung lumayan lama, jamaah dari penyandang tunarungu kurang lebih 20 orang. Sedangkan di Kabupaten Bandung biasanya di Masjid Al Iklas dengan jumlah jamaah sekitar lima orang. Nah sekarang kami mencoba menggelar kegiatan dakwah dan kajian keagamaan ini di Masjid Raya Al Fathu Soreang, semoga saja semakin banyak kawan kawan penyandang tunarungu yang mau berama-sama belajar ilmu agama," katanya. (Dani R Nugraha)
Editor : Doni Ramdhani

