Gema Jabar Jadi Tambal Sulam Krisis Guru, Pengamat: Mahasiswa Jangan Sampai Nombok
Program Gema Jabar resmi bergulir dengan menerjunkan 1.147 mahasiswa UPI ke 364 sekolah di berbagai daerah beberapa waktu lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Program Gerakan mahasiswa Mengajar Jawa Barat (Gema Jabar) resmi bergulir dengan menerjunkan 1.147 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ke 364 sekolah di berbagai daerah beberapa waktu lalu.
Namun, di balik pelaksanaan program tersebut muncul peringatan agar pemerintah tidak menjadikan mahasiswa sebagai solusi permanen atas krisis tenaga pendidik yang terjadi di sekolah-sekolah.
Pengamat Pendidikan dari UPI Cecep Darmawan menilai, kehadiran mahasiswa melalui Program Penguatan Profesional Bidang Kependidikan (Probidik) Gema Jabar merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu pemerintah mengatasi kekurangan guru.
Namun, menurutnya akar persoalan tetap harus diselesaikan melalui percepatan rekrutmen tenaga pendidik.
"Ya, akibat pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat maupun daerah, tidak ada pengangkatan. Tidak ada pengangkatan guru yang sudah sekian lama. Akibatnya kan ada kekosongan-kekosongan," kata Cecep kepada INILAHKORAN.ID, Jumat (17/7/2026).
Dia menegaskan, program yang melibatkan mahasiswa tidak bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menutupi kekurangan guru di sekolah negeri.
"Nah, saya sih berharap pemerintah cepat-cepat merespons, jangan sampai hanya mengandalkan mahasiswa ya yang tidak apa tidak bisa ditangani secara secara berkelanjutan ya. Jadi ini hanya sementara saja. Menurut saya itu sebetulnya jadi sumbangsih UPI kepada provinsi," ujarnya.
Selain menyoroti kebutuhan pengangkatan guru, Cecep juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan mahasiswa yang menjalankan tugas di lapangan, terutama mereka yang ditempatkan di daerah terpencil.
Menurutnya, bantuan yang diterima mahasiswa saat ini belum sebanding dengan beban biaya yang harus mereka keluarkan selama menjalani penugasan.
"Tapi juga provinsi sebaiknya memperhatikan para mahasiswa, khususnya ya di tempat-tempat yang jauh, itu harus difasilitasi, jangan dikasih Rp500.000 dalam sebulan, itu enggak adil," katanya.
Cecep menilai, mahasiswa peserta Gema Jabar telah memberikan kontribusi nyata melalui tenaga dan ilmu yang mereka miliki. Sebab itu, pemerintah perlu memastikan mereka tidak menanggung beban ekonomi tambahan selama bertugas.
"Kasihan juga. Jadi tolong Pemprov juga memerhatikan, bagaimana mahasiswa itu tidak mengeluarkan biaya yang terlalu besar untuk kegiatan itu. Mereka sudah berkorbankan ilmunya, harusnya dihargai," tuturnya.
Dia bahkan mengingatkan agar mahasiswa tidak sampai mengeluarkan biaya pribadi atau atau menombok, demi menjalankan program pemerintah.
"Nah, kalaupun tidak bisa disebut honor seperti ASN, mahasiswa jangan sampai tombok dalam kehidupannya. Mereka juga sudah kos, banyak juga ya di tempat-tempat sini, di kampusnya, terus harus ke sana kos lagi. Jadi ini kan dobel pembiayaan. Jadi mohon Pemprov memperhatikan betul mahasiswa-mahasiswa UPI gitu lah menurut saya," ucap Cecep.
Sebelumnya, Program Gema Jabar secara resmi diluncurkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Kota Bandung, Senin (13/7/2026). Sebanyak 1.147 mahasiswa UPI akan menjalani praktik mengajar selama enam bulan di 364 satuan pendidikan yang terdiri atas 230 SMA, 116 SMK, dan 18 SLB.
Program tersebut dirancang untuk membantu sekolah yang masih mengalami keterbatasan tenaga pendidik, sekaligus memberikan pengalaman mengajar langsung kepada mahasiswa calon guru sebelum memasuki dunia kerja.
Editor : Doni Ramdhani

