Gempa-gempa Kecil Terjadi Beruntun, Peneliti BRIN Imbau Masyarakat Waspada Aktivitas Sesar Lembang

Diketahui, Sesar Lembang terdeteksi mengalami peningkatan aktivitas hingga menimbulkan rentetan aktivitas seismik.

Gempa-gempa Kecil Terjadi Beruntun, Peneliti BRIN Imbau Masyarakat Waspada Aktivitas Sesar Lembang
Diketahui, Sesar Lembang terdeteksi mengalami peningkatan aktivitas hingga menimbulkan rentetan aktivitas seismik.

INILAHKORAN, Ngamprah - Aktivitas Sesar atau Patahan Lembang yang menjadi pemicu terjadinya gempa bumi dalam beberapa waktu terakhir terus mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk para ahli.

Diketahui, Sesar Lembang terdeteksi mengalami peningkatan aktivitas hingga menimbulkan rentetan aktivitas seismik. Di pertengahan Agustus 2025, gempa akibat Sesar Lembang terjadi sebanyak tiga kali dalam sepekan. 

Tiga gempa magnitudo rendah itu terjadi pada Kamis 14 Agustus 202 dengan M 1,8, lalu kembali terjadi pada Selasa 19 Agustus 2025 dengan M 2,3 dan Rabu 20 Agustus 2025 dengan M 1,7.

Menanggapi hal itu, peneliti Sesar Lembang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono menegaskan, rentetan gempa Sesar Lembang tak bisa langsung disimpulkan sebagai gempa pendahuluan (foreshock). 

Kendati demikian, dirinya mengimbau masyarakat di wilayah Bandung Raya agar tetap waspada dengan rentetan gempa Sesar Lembang yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir itu.

"Jelas kita merasakan gempa-gempa kecil di KM 6 di Ngamprah dari Sesar Lembang," kata Mudrik dalam kegiatan Geotrack di Gunung Batu Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Sebagai scientist kita belum bisa memastikan apakah ini akan disusul gempa besar, atau hanya gempa kecil terus diam, dua hal yang bisa terjadi," sambungnya.

Namun, Mudrik juga menegaskan bahwa rentetan gempa bumi dari Sesar Lembang dan Sesar Baribis yang mengguncang Kabupaten Bekasi merupakan hal yang patut diwaspadai.

Apalagi, lanjut dia, rentetan gempa merupakan salah ciri utama sebelum adanya gempa utama dengan magnitudo yang cukup besar.

"Saya setuju dengan BMKG, mereka khawatir ini sebagai Foreshock, kemarin setelah Sesar Lembang ada gempa di Bekasi yang juga bisa sebagai Foreshock," jelasnya. 

"Bisa jadi gempa besarnya di sini atau Sesar Baribis, kita tidak tahu mana yang lebih duluan," ucapnya.

Berdasarkan data, ungkap Mudrik, Sesar Lembang telah masuk dalam rentang waktu pelepasan energi besar sejak abad 15, tepatnya dalam tentang tahun 1450-1460. 

Kemudian dari hasil penelitian, Sesar Lembang memiliki siklus pelepasan energi 170 hingga 560 tahun.

"Sudah, dari penelitian yang kita lakukan, dia itu siklusnya dari 170 sampai 670 tahun, berdasarkan rekaman sedimentasi geologi yang kami lakukan itu pada abad ke 15, jadi sudah 560 tahun hingga saat ini," ungkapnya. 

"Jadi 560 itu masuk pada range ulang tahun gempa bumi, jadi bisa terjadi sekarang atau 100 tahun yang akan datang, bisa terjadi," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mudrik juga mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah khususnya di wilayah Bandung Raya yang memasifkan edukasi langkah-langkah preventif dan mitigasi terhadap potensi bencana Sesar Lembang.

"Jadi yang paling bijaksana adalah, kita tetap waspada. Kita ketahui bersama bahwa kita hidup berdampingan dengan sumber gempa bumi, jadi kita harus tahu cara survive dan aman dengan ancamannya," bebernya. 

Sebagai informasi, Sesar Lembang merupakan patahan aktif sepanjang 29 KM. Sesar Lembang membentang dari Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan disebut berakhir di Cilengkrang, Kabupaten Bandung. *** 


Editor : Bsafaat