Wali Kota Cimahi Petakan Wilayah Rawan Bencana, Cipadung dan Citeureup Jadi Prioritas

Wali Kota Cimahi Ngatiyana memetakan wilayah rawan longsor dan banjir menjelang musim hujan. Cipadung, Citeureup, dan Melong menjadi perhatian.

Wali Kota Cimahi Petakan Wilayah Rawan Bencana, Cipadung dan Citeureup Jadi Prioritas
Wali Kota Cimahi Ngatiyana memetakan wilayah rawan longsor dan banjir menjelang musim hujan. Cipadung, Citeureup, dan Melong menjadi perhatian.

INILAHKORAN.ID– Pemerintah Kota Cimahi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi menjelang puncak musim hujan. Sejumlah wilayah di bagian utara kota menjadi perhatian karena memiliki potensi tanah longsor, sementara kawasan hilir sungai di wilayah Melong diwaspadai mengalami banjir.

Wali Kota Cimahi Ngatiyana menyebutkan, kawasan Cipadung dan Citeureup menjadi prioritas pemantauan potensi longsor sepanjang November hingga Desember 2026.

Sementara itu, aliran Sungai Cimahi dan Sungai Cigugur juga menjadi perhatian karena berpotensi memicu banjir yang dampaknya dapat menjangkau kawasan Melong.

Pernyataan tersebut disampaikan Ngatiyana saat apel kebersamaan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (4/11/2026).

Apel tersebut digelar untuk menyelaraskan kesiapan personel, peralatan, serta deteksi dini terhadap titik-titik yang berpotensi terdampak bencana sebelum intensitas hujan meningkat.

"Kondisi tanah yang retak akibat kekeringan kemarau panjang membuat air hujan sulit meresap secara normal, sehingga tekanan air di lereng-lereng utara Cimahi meningkat drastis dan memperbesar kemungkinan pergerakan tanah ketika hujan deras turun secara terus-menerus," jelasnya.

Ngatiyana mengungkapkan, pemetaan awal BPBD Kota Cimahi menempatkan Cipadung dan Citeureup sebagai wilayah prioritas pemantauan longsor. Adapun aliran Sungai Cigugur dan Sungai Cimahi masuk dalam daftar perhatian untuk mengantisipasi potensi banjir.

Sesar Lembang Jadi Perhatian

Selain ancaman banjir dan longsor, Ngatiyana mengingatkan adanya potensi gempa bumi yang berkaitan dengan keberadaan Sesar Lembang. Struktur sesar tersebut membentang dari wilayah Kabupaten Bandung Barat hingga kawasan Cileunyi.

"Kesiapan tidak hanya berfokus pada titik-titik yang sudah teridentifikasi, karena dampak Sesar Lembang menambah risiko gempa bumi yang bisa memperparah kerusakan tebing, saluran air, dan bangunan warga sekaligus," ungkapnya.

Untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan bencana, Pemkot Cimahi mulai menggelar simulasi penanganan bersama BPBD, instansi terkait, TNI-Polri, Taruna Siaga Bencana (Tagana), serta unsur masyarakat.

Namun, pemetaan detail titik-titik mikro rawan longsor di lingkungan padat penduduk, khususnya Cipageran dan Citeureup, belum dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. Kondisi tersebut membuat sebagian warga yang tinggal di kawasan lereng belum mengetahui secara pasti apakah rumah mereka masuk dalam zona bahaya.

Ngatiyana juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas wilayah dengan Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, aliran Sungai Cigugur dan Sungai Cimahi melintasi batas administrasi sehingga penanganan di wilayah hulu dapat berpengaruh terhadap kondisi kawasan hilir.

"Koordinasi lintas-wilayah dengan Kabupaten Bandung Barat juga menjadi tantangan karena aliran Sungai Cigugur dan Sungai Cimahi melintasi batas administrasi, sehingga sampah penyumbat saluran air dari hulu bisa memicu banjir di hilir Kota Cimahi tanpa koordinasi pembersihan bersama," imbuhnya.

Mitigasi Harus Sampai Tingkat RT-RW

Ngatiyana menegaskan, pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa saat bencana terjadi.

Seluruh unsur Forkopimda, aparatur kelurahan, hingga masyarakat diminta meningkatkan koordinasi dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda potensi bencana.

"Seluruh unsur Forkopimda, aparatur kelurahan, dan warga diminta saling berkoordinasi apabila menemukan tanda-tanda retakan tanah, pohon miring, air keluar dari tebing, serta saluran air tersumbat sampah di sekitar Sungai Cigugur dan Sungai Cimahi," ujarnya.

Dia menjelaskan, simulasi kebencanaan perlu dilanjutkan hingga tingkat RT dan RW, terutama di Cipageran, Citeureup, serta kawasan hilir Melong. Dengan demikian, masyarakat mengetahui langkah penyelamatan dan titik evakuasi terdekat apabila banjir atau longsor terjadi secara tiba-tiba.

"Tanpa sosialisasi pemetaan zona rawan ke tingkat lingkungan, apel bersama dan simulasi bencana hanya akan menjadi persiapan di tingkat instansi pemerintah saja, sementara warga yang tinggal tepat di zona bahaya belum mendapatkan peringatan dini secara langsung sebelum hujan deras mengguyur wilayah utara Cimahi," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana