Gerindra Buka Peluang Dony Munir di Pilgub Jabar, Dedi Mulyadi Masih di Atas Angin

Peluang Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir maju pada Pilgub Jabar 2029 yang dibuka Gerindra dinilai bukan upaya membatasi langkah Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.

Gerindra Buka Peluang Dony Munir di Pilgub Jabar, Dedi Mulyadi Masih di Atas Angin
Kemunculan nama Dony Ahmad Munir menarik perhatian karena Dedi Mulyadi yang notabene kader Gerindra saat ini memiliki popularitas tinggi di Jabar. (dok)

INILAHKORAN.ID - Peluang Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir maju pada Pilgub Jabar 2029 yang dibuka Gerindra dinilai bukan upaya membatasi langkah Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.

Pakar komunikasi politik Universitas Islam Bandung (Unisba) Muhammad E Fuady menilai pernyataan tersebut lebih menunjukkan keinginan Gerindra memperkenalkan kader, sekaligus menegaskan kewenangan menentukan kandidat tetap berada di tangan partai.

Menurut Fuady, kemunculan nama Dony Ahmad Munir menarik perhatian karena Dedi Mulyadi yang notabene kader Gerindra saat ini memiliki popularitas tinggi di Jabar.

"Saya lebih melihat bahwa, tadi yang pertama, stok visibility, lalu berikutnya mereka ingin menunjukkan bahwa otoritas untuk ticketing dikontestasi politik atau Pilkada Jawa Barat, itu juga ada pada otoritas partai, ya, bukan bukan semata popularitas atau elektabilitas personal," kata Fuady, saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (25/10/2026).

Dia menjelaskan, pernyataan Amir Mahpud perlu dilihat dari konteks kegiatan DPC Gerindra Sumedang. Dalam forum tersebut, Gerindra dinilai ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan Dedi Mulyadi, tetapi juga memiliki kader lain dengan pengalaman politik dan pemerintahan.

Dony Ahmad Munir dinilai mempunyai modal, karena pernah berkiprah di legislatif dan menjabat Bupati Sumedang selama dua periode.

"Jadi memang bukan hanya KDM saja kader terbaik yang mereka punya, ya," ujarnya.

Fuady mengatakan, pengenalan figur alternatif juga berpotensi memancing perhatian publik dan media. Terlebih, setiap pembicaraan mengenai kandidat potensial Pilgub Jabar akan bersinggungan dengan posisi Dedi Mulyadi yang saat ini menjadi salah satu figur politik paling menonjol di Jawa Barat.

Gerindra Tak Sedang Membatasi Dedi Mulyadi

Meski membuka peluang bagi Dony Ahmad Munir, Fuady tidak menafsirkan langkah tersebut sebagai upaya Gerindra mengerem atau mengunci peluang Dedi Mulyadi untuk kembali maju dalam Pilgub Jabar.

Sebaliknya, pernyataan tersebut dinilai menegaskan bahwa popularitas dan elektabilitas seorang tokoh bukan satu-satunya penentu pencalonan. Partai tetap memiliki kewenangan dalam menentukan figur yang akan diusung.

"Nah, kalau menurut saya sih bukan menggerem atau mengunci, ya, tapi ingin menunjukkan bahwa otoritas memang ada pada Gerindra, ada pada partai, ya, ada pada Gerindra Jawa Barat, atau mungkin juga restu dari Gerindra Pusat, ya," tuturnya.

Fuady mengingatkan, jika Gerindra terlalu dini membatasi peluang Dedi Mulyadi, keputusan tersebut justru berpotensi menjadi bumerang bagi partai.

Sebab, Dedi masih memiliki daya tarik politik yang kuat dan berpotensi menjadi pendulang suara bagi Gerindra dalam kontestasi politik mendatang.

"Sementara kan kita juga tidak bisa mengabaikan KDM sebagai vote getter, ya, sebagai pendulang suara, ya, dalam dalam pemilu, gitu," katanya.

Gerindra Uji Respons Publik terhadap Dony Munir

Lebih jauh, Fuady melihat kemunculan nama Dony Ahmad Munir dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi politik untuk membaca respons publik terhadap kader potensial Gerindra.

Respons media, masyarakat, kader internal, hingga pengguna media sosial dapat menjadi perhatian partai dalam menilai penerimaan terhadap figur yang berpeluang maju pada Pilgub Jabar 2029.

Menurut Fuady, isu tersebut juga menjaga perhatian publik terhadap dinamika politik Gerindra di Jawa Barat. Terlebih, pembicaraan mengenai Dedi Mulyadi selama ini memiliki daya tarik tersendiri di ruang publik.

"Partai itu bisa bisa melihat bagaimana respon media kan, respon publik, kader, termasuk juga netizen yang biasanya senang menjadi bagian dari isu mengenai KDM, ya," ujarnya.

Meski demikian, Fuady mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai Pilgub Jabar 2029 masih terlalu dini untuk memastikan arah pencalonan. Gerindra masih memiliki waktu untuk mengevaluasi kader dan menentukan strategi politiknya.

Dedi Mulyadi Masih di Atas Angin

Di tengah munculnya nama Dony Ahmad Munir, Fuady menilai posisi Dedi Mulyadi masih kuat dalam peta politik Jawa Barat.

Popularitas Dedi menjadi modal penting yang tidak bisa diabaikan Gerindra. Karena itu, kemunculan kandidat alternatif tidak serta-merta menunjukkan bahwa partai mulai mengalihkan dukungan dari gubernur petahana tersebut.

"KDM masih di atas angin, ya," kata Fuady.

Sebelumnya, Amir Mahpud membuka peluang bagi Dony Ahmad Munir untuk maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar mendatang.

Ia menilai, pengalaman Dony memimpin Sumedang selama dua periode menjadi modal untuk memperluas kiprah politiknya. Terlebih, Dony kini telah menjadi kader Gerindra.

Meski demikian, Amir menegaskan peluang tersebut belum menjadi keputusan resmi partai. Penentuan kandidat yang akan diusung dalam Pilgub Jabar tetap berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra.

Amir mengatakan, DPD Gerindra Jabar berkewajiban mengidentifikasi kader-kader potensial yang berpeluang mengambil peran lebih besar, baik di pemerintahan maupun dalam memperkuat partai.

“Ketika melihat sosok Kang Dony Munir, KDM kedua lah ya, beliau sudah menjadi bupati dua periode, lalu sudah menjadi kader Gerindra. Mengapresiasi, bahwa Pak Dony Munir ini salah satu bupati yang baik, yang berprestasi,” kata Amir.

Menurut dia, peluang kader untuk menapaki jenjang politik yang lebih tinggi juga bergantung pada kontribusinya dalam membesarkan partai. Salah satunya, melalui peningkatan perolehan kursi Gerindra di DPRD kabupaten, DPRD provinsi, hingga DPR RI.

“Ketika Pak Dony Munir berkomitmen untuk berinvestasi secara politik, berkontribusi serius dengan meningkatkan kursi di DPRD Sumedang, menambah kursi di provinsi, menambah kursi di DPR RI dengan kiprah-kiprah beliau dan ketokohan beliau, tentu saja kan partai akan melihat sejauh mana kesungguhan beliau berjuang di Gerindra dan melihat juga peluang ke depannya seperti apa,” ujarnya.

Amir menilai, berakhirnya masa jabatan kepala daerah setelah dua periode, membuka peluang bagi seorang kader untuk melanjutkan karier politik ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk melalui Pilgub Jabar.

“Kalau sudah jadi bupati dua periode kan ruang peluangnya bisa ke atas. Kalau masih di eksekutif, berarti di ranah Pilgub kan. Atau di ruang-ruang politik yang lain, gitu,” ucapnya.

Peluang Dony menuju Pilgub Jabar turut memunculkan pertanyaan, mengenai arah politik Gerindra terhadap Gubernur Jawa Barat saat ini, Dedi Mulyadi, yang juga dikenal dengan sapaan KDM.

Amir menegaskan, partainya tetap realistis menghadapi dinamika politik yang masih terbuka. Menurut dia, Gerindra perlu menyiapkan sejumlah kader potensial untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan pada kontestasi mendatang.

“Partai Gerindra juga realistis, dan yang paling penting itu harus dipahami bahwa dalam politik itu kan the art of possibilities, seni segala kemungkinan,” tutur Amir.

Selain Dony, Amir menyebut Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, Bupati Karawang Aep Syaepuloh, dan Bupati Bogor Rudy Susmanto sebagai kader yang juga berpotensi mengambil peran lebih besar dalam politik Jawa Barat.

Namun, pemetaan tersebut bukan dimaksudkan untuk memicu persaingan internal Gerindra. Amir menyebut, langkah itu sebagai upaya mengenali kader-kader yang dinilai memiliki kapasitas untuk memperkuat partai, sekaligus membantu menyukseskan program Presiden.

“Saya hanya melihat potensi-potensi di daerah, yang notabene kader-kader baik di Gerindra harus muncul,” ucapnya.

Dia menegaskan, DPD Gerindra Jabar tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kandidat yang akan diusung dalam Pilgub Jabar 2029 mendatang. Keputusan akhir tetap berada di tangan pimpinan pusat partai.

“Jadi tidak dalam kapasitas untuk memunculkan semacam dinamika. Karena yang akan menentukan tetap nanti DPP, pimpinan di atas. Ketua umum, pimpinan-pimpinan partai di tingkat DPP,” katanya.


Editor : Doni Ramdhani