Pengamat Sebut Rumor Dedi Mulyadi ke PSI Berisiko Jadi Bumerang Politik

Rumor perpindahan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dari Partai Gerindra ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan langkah politik yang menguntungkan. 

Pengamat Sebut Rumor Dedi Mulyadi ke PSI Berisiko Jadi Bumerang Politik
Muradi menilai, isu tersebut justru berpotensi menggerus posisi tawar Dedi Mulyadi di panggung politik nasional menjelang Pemilu 2029. (dok)

INILAHKORAN.ID - Rumor perpindahan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dari Partai Gerindra ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan langkah politik yang menguntungkan. 

Pengamat sekaligus Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi menilai, isu tersebut justru berpotensi menggerus posisi tawar Dedi di panggung politik nasional menjelang Pemilu 2029.

Menurut Muradi, Dedi saat ini berada pada posisi strategis sebagai salah satu kepala daerah dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang tinggi. Karena itu, jika suatu saat memilih meninggalkan Gerindra, Dedi dinilai harus berlabuh ke partai yang memiliki kekuatan politik sebanding atau lebih besar.

"Kalau rumor itu betul, saya kira ada downgrade KDM. Banyak partai-partai besar tertarik sama dia, bukan cuma Gerindra. Ada Golkar, PDIP, Nasdem," ujar Muradi, Selasa (25/8/2026).

Muradi menilai, bergabung dengan PSI berisiko menciptakan persepsi baru di publik yang justru dapat menghambat langkah politik Dedi. Salah satu dampaknya adalah hilangnya posisi pembeda yang selama ini melekat pada sosok mantan Bupati Purwakarta tersebut.

"Dia akan dicap sebagai bagian dari yang sama dengan pemerintahan sebelumnya. Artinya dia tidak akan punya pembeda dengan Pak Prabowo, Pak Jokowi," ucapnya.

Akademisi yang kerap mengamati dinamika politik nasional itu menilai, persepsi tersebut dapat membuat masyarakat kembali menimbang dukungan politik yang selama ini diberikan kepada Dedi. Publik, kata dia, bisa saja mencari figur alternatif apabila melihat tidak ada lagi diferensiasi yang kuat.

"Orang akan me-remanajemen ulang, apakah akan tetap mendorong KDM dengan segala hal yang baik itu, atau malah sebaliknya kemudian orang beralih ke tokoh yang lain," ucapnya.

Dedi Dinilai Punya Peluang Besar di Pilpres 2029

Muradi melihat, terdapat dua jalur politik yang realistis bagi Dedi menuju kontestasi nasional 2029. Pertama, tetap bertahan di Gerindra dan membuka peluang menjadi calon wakil presiden apabila Prabowo Subianto kembali maju dalam pemilihan presiden mendatang.

Pilihan kedua adalah mencari kendaraan politik baru. Namun, langkah tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya kekuatan partai yang akan menjadi tempat berlabuh.

"Kalau dia lompat partai, pastikan partainya minimal setara dengan Gerindra. Menurut saya daya tawar elektoralnya tinggi. Bisa setara dia, ada Golkar, ada PDIP," katanya.

Ia menilai, bergabung dengan partai yang kekuatan elektoralnya lebih kecil justru dapat membatasi ruang manuver politik Dedi. Bahkan, langkah tersebut berpotensi menambah beban politik yang tidak perlu.

"Artinya KDM tidak belanja masalah, tapi memunguti masalah. Belanja masalah kan ada problem solving-nya. Dia menumpuk masalah untuk kemudian di pemerintahannya," katanya.

Dedi Mulyadi: Tidak Benar, Bohong

Di tengah berkembangnya spekulasi politik tersebut, Dedi Mulyadi memastikan dirinya tetap berada di Partai Gerindra. Dia menepis kabar yang menyebut dirinya akan hengkang dan bergabung dengan PSI.

"Isu dari mana itu? Ya kami enggak mungkin nanggepin itu loh. Ujug-ujug dari mana kemudian tiba-tiba, hal yang aneh ya," kata Dedi saat ditemui usai menghadiri Musda VI DPD Partai Demokrat Jawa Barat, Senin (24/8/2026) malam.

Dedi menegaskan, statusnya di Gerindra tidak berubah. Hingga saat ini, dia masih menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra.

"Sampai hari ini saya adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra," ujarnya.

Dia bahkan menyebut isu kepindahannya ke PSI sebagai informasi yang tidak memiliki dasar.

"Bukan, tidak benar, bohong," tegasnya.

Dedi memastikan tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai salah satu pimpinan partai besutan Presiden Prabowo Subianto tersebut.


Editor : Doni Ramdhani