GLN 2019 untuk Bangkitnya Generasi Emas Indonesia
INILAH, Bandung - Apakah literasi dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu? Bagaimana Gerakan Literasi Siswa (GLS) di Sekolah?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Apakah literasi dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu? Bagaimana Gerakan Literasi Siswa (GLS) di Sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan kembali oleh Pengawas SMA Dinas Pendidikan Jawa Barat, Heri Susanto Boaz, saat memberikan materi pada acara Gerakan Literasi Nasional 2019 di Hotel Crown Bandung, Sabtu (23/3/2019).
Pembukaan acara Gerakan Literasi Nasional 2019 ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Barat dan acara dibuka langsung oleh Kepala Balai Bahasa Jawa Barat Sutejo, Sabtu pagi.
Di hadapan peserta acara, Heri Susanto mengajak para hadirin menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas dalam selembar kertas.
Ratusan peserta yang hadir, dari mulai siswa, guru, sampai pegiat taman bacaan masyarakat (TBM), serta pegiat pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) se-Jawa Barat antusias menyerahkan kertas jawabannya ke pembicara.
Menurut Heri Susanto, secara sederhana literasi diterjemahkan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan bentuk bahasa tertulis atau literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.
Perlu diketahui, membaca dan menulis adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca dan menulis pendidikan akan ‘mati’. Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan kelak dalam masyarakat.
Di samping itu, tanpa kemampuan membaca dan menulis yang layak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi tidaklah mungkin.
Hal ini dipertegas oleh pakar pendidikan dari Amerika Serikat, Glenn Doman (1919-2013), bawah membaca dan menulis merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca dan menulis.
Kemudian, Heri Susanto menyampaikan fakta tentang budaya literasi di Indonesia. Bangsa Indonesia sampai saat ini dianggap tidak memiliki budaya membaca.
Menurut OECD, budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur.
Ditambah, berdasarkan statistik UNESCO pada 2012, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001%. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca.
Padahal, di beberapa negara maju, mereka mewajibkan siswanya untuk membaca sejumlah buku karya sastra, kecuali Indonesia.
Hanya siswa-siswa SMA di Indonesialah, mereka tidak wajibkan membaca buku sastra sama sekali (atau nol buku) sehingga dianggap sebagai siswa yang bersekolah tanpa kewajiban membaca.
Padahal, kita tahu Indonesia bahwa akan menghadapi Bangkitnya Generasi Emas Indonesia dan dan Bonus Demografi pada tahun 2045 mendatang.
Untuk itu, kita harus mendorong siswa kita untuk membaca seperti sebanyak siswa lain di negara-negara maju. Karena, sesungguhnya mereka para siswa itu bisa!
Pertanyaan untuk kita, apa program literasi yang hendak dilaksanakan di sekolah/ lembaga/ komunitas kita masing-masing?
Editor : inilahkoran

