Gramedia Penerbit Utama Bawa Ekspedisi Leiden ke Bandung: Kisah Sejarah dan Misteri

Hasbunallah Haris, penulis novel Leiden 2020–1920 membuka sesi book talk, buku yang mengulas sejarah dan misteri.

Gramedia Penerbit Utama Bawa Ekspedisi Leiden ke Bandung: Kisah Sejarah dan Misteri
Gramedia Penerbit Utama Bawa Ekspedisi Leiden ke Bandung: Kisah Sejarah dan Misteri

INILAHKORAN.ID - Setelah menyambangi Jakarta, Gramedia melalui Gramedia Penerbit Utama (GPU) melanjutkan rangkaian Ekspedisi Leiden 2020–1920 ke Bandung. 

Bertempat di Gramedia PVJ Bandung pada Sabtu 22 Agustus 2026, kegiatan ini mempertemukan pembaca dengan Hasbunallah Haris, penulis novel Leiden 2020–1920, dalam sesi Book Talk yang dipandu oleh Intan Kusuma.

Acara yang gratis dan terbuka untuk umum ini menjadi kesempatan bagi pembaca untuk berbincang langsung mengenai proses kreatif, riset sejarah, serta gagasan yang melandasi novel tersebut. 

Melalui Leiden 2020–1920, Hasbunallah Haris mengajak pembaca mengikuti perjalanan Syamil, seorang mahasiswa sejarah yang terlibat dalam penelusuran sebuah naskah berusia satu abad. Pertemuannya dengan Maryati dan Kasman di Padang Panjang menjadi awal perjalanan Syamil yang membawanya menelusuri jejak dari Sawahlunto pada 1920 hingga Leiden pada 2020.

Dalam perjalanan tersebut, potongan catatan yang ditulis oleh Alex van der Meer, mantan tentara Belanda, menjadi salah satu petunjuk yang mengarahkan Syamil pada pencarian harta karun lama di negerinya. 

Pencarian tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan yang penuh tantangan. Syamil bertemu dengan berbagai tokoh, menghadapi ancaman, serta menelusuri sejumlah tempat di Sumatra untuk menemukan jawaban atas berbagai petunjuk yang ditemuinya. Perjalanannya bahkan membawanya ke hutan rimba Sumatra dan pencarian terhadap Suku Anak Dalam, sebelum akhirnya berhadapan dengan organisasi gelap yang turut membayangi upayanya mengungkap rahasia masa lalu. 

Tidak hanya menghadirkan latar sejarah, Leiden 2020–1920 menggunakan pendekatan novel detektif untuk membangun misteri di dalam cerita. Perpaduan antara sejarah kolonial, investigasi, dan petualangan tersebut menjadi salah satu kekuatan karya ini. Dewan Juri Sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 turut menyoroti keunggulan Leiden 2020–1920 dalam menghadirkan narasi sejarah kolonial melalui gaya penceritaan novel detektif. novel ini kemudian meraih Juara II dalam Sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2023. 

Di Bandung, pembahasan mengenai novel ini dikembangkan melalui sesi Book Talk bersama Intan Kusuma. Hasbunallah Haris akan berbagi cerita mengenai ketertarikannya terhadap sejarah dan naskah-naskah lama, pengalaman melakukan penelitian filologi, hingga tantangan menerjemahkan berbagai temuan sejarah ke dalam sebuah karya fiksi. Perbincangan juga akan mengangkat pilihan untuk menggunakan unsur misteri dan petualangan sebagai cara membawa pembaca masuk ke dalam cerita sejarah. 

Hasbunallah Haris merupakan lulusan Sastra Arab Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang yang kini melanjutkan pendidikannya di bidang sejarah. Ketertarikannya terhadap sejarah berkembang melalui penelitian filologi ke Sungai Pagu yang kemudian dituangkan dalam bentuk novel fiksi sejarah. Pengalaman tersebut juga membuatnya menaruh perhatian pada keberadaan naskah-naskah yang terkubur maupun dianggap sakral oleh masyarakat. Di luar aktivitas akademik dan kepenulisan, Hasbunallah aktif dalam diskusi sastra di Bukik Ase, Kota Padang, serta turut memprakarsai komunitas Kutub Sastra sejak 2024. 

“Bagi saya, menulis Leiden 2020–1920 merupakan upaya untuk membawa hasil penelitian dan ketertarikan saya terhadap naskah-naskah lama ke dalam bentuk cerita yang dapat dinikmati pembaca. Sejarah tidak hanya hadir sebagai kumpulan fakta, tetapi juga menyimpan banyak cerita, misteri, dan pengalaman manusia yang menarik untuk ditelusuri. Melalui perjalanan Syamil, saya ingin mengajak pembaca melihat bahwa jejak sejarah yang mungkin terasa jauh sebenarnya masih memiliki hubungan dengan kehidupan kita hari ini.” ujar Hasbunallah Haris di Gramedia PVJ, Sabtu (22/08).

Sebagai kota kedua dalam rangkaian Ekspedisi Leiden 2020–1920, Bandung menjadi salah satu ruang pertemuan antara Hasbunallah Haris dan para pembaca di luar Jakarta. Rangkaian kegiatan di Bandung mencakup pengenalan buku, sesi Book Talk, tanya jawab bersama peserta, serta kesempatan bagi pembaca untuk mendapatkan tanda tangan dan berfoto bersama penulis. Setelah Bandung, rangkaian Ekspedisi Leiden 2020–1920 akan berlanjut ke Palembang. 

Melalui perjalanan Ekspedisi Leiden 2020–1920 ke berbagai kota, Gramedia melalui Gramedia Penerbit Utama (GPU) berharap karya Hasbunallah Haris dapat menjangkau semakin banyak pembaca sekaligus memperkenalkan sejarah melalui pendekatan sastra yang dekat dengan pembaca masa kini. Kehadiran kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong pembaca untuk tidak hanya menikmati kisah yang disajikan, tetapi turut menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sejarah, jejak masa lalu, dan cerita-cerita yang masih tersimpan di sekitar mereka.


Editor : Firda Rachmawati