Gugum Ridho Putra, Nahkoda Baru PBB: Bidik Suara Milenial dan Gen Z untuk Pemilu 2029
Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) periode 2025–2030, Gugum Ridho Putra, menegaskan komitmennya untuk membidik suara generasi muda sebagai strategi menghadapi Pemilu 2029.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Bandung – Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) periode 2025–2030, Gugum Ridho Putra, menegaskan komitmennya untuk membidik suara generasi muda sebagai strategi menghadapi Pemilu 2029.
Politikus muda kelahiran 1988 itu menyadari perubahan besar dalam demografi pemilih di Indonesia, yang kini didominasi oleh milenial dan Gen Z.
“Sekarang demografi pemilih sudah berubah, 70 persen itu milenial dan Gen Z. Mereka adalah masa depan kepemimpinan politik di Indonesia,” ujar Gugum dikutip dari ANTARA.
Sebagai pemimpin muda, Gugum menyadari pentingnya menyelaraskan nilai-nilai perjuangan partai dengan tren dan kebutuhan generasi muda.
Salah satu strateginya adalah melakukan reformasi kaderisasi dengan lebih banyak melibatkan anak muda di dalam tubuh partai.
“Kaderisasi harus diubah, fokusnya adalah membuka lebih banyak ruang bagi anak muda,” tutur Gugum Ridho Putra.
“Kami ingin menciptakan program-program yang relevan dengan mereka, dikemas sesuai tren yang mereka gemari, namun tetap mempertahankan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi PBB,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun PBB terinspirasi dari warisan besar Masyumi, cara penyampaian nilai-nilai tersebut harus disesuaikan dengan zaman.
Menurutnya, era saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih segar dan inovatif agar nilai-nilai Islam dapat diterima dengan baik oleh generasi muda.
“Masyumi itu adalah inspirasi terbesar kami, tetapi era sudah jauh berbeda. Sebagai realitas sejarah, warisan itu tidak bisa dilupakan. Namun, cara pengemasannya harus mengikuti zaman,” imbuh Gugum.
Fokus Gugum pada generasi muda juga menjadi bagian dari upaya besar PBB untuk meloloskan wakilnya ke parlemen.
Sejak diberlakukannya aturan ambang batas parlemen sebesar 4 persen suara sah nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, PBB sudah empat kali gagal meloloskan kadernya ke DPR RI, yakni pada Pemilu 2009, 2014, 2019, dan terakhir 2024.
“Kami menyadari bahwa tantangan terbesar adalah regulasi ambang batas parlemen,” ucap Gugum.
“Untuk itu, kami harus bekerja keras membangun koneksi dengan pemilih muda yang jumlahnya signifikan, sekaligus memberikan program-program konkret yang relevan bagi mereka,” tegasnya.
Menurutnya, perubahan strategi dan pendekatan terhadap pemilih muda adalah kunci untuk mengatasi tantangan tersebut.
Dengan melibatkan lebih banyak milenial dan Gen Z, ia optimistis PBB dapat mengonsolidasikan kekuatannya untuk kembali ke parlemen pada Pemilu 2029.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan
