Malaysia Kecam Penyerbuan Al-Aqsa, Sebut Ada Upaya Ubah Identitas Situs Suci

Malaysia mengecam penyerbuan terbaru ke Kompleks Masjid Al-Aqsa dan menilai aksi berulang tersebut sebagai upaya mengubah identitas umat islam.

Malaysia Kecam Penyerbuan Al-Aqsa, Sebut Ada Upaya Ubah Identitas Situs Suci
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Malaysia mengecam keras penyerbuan terbaru ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki dan menilai aksi berulang tersebut sebagai bagian dari upaya mengubah identitas serta karakter situs suci umat Islam.

Kementerian Luar Negeri Malaysia atau Wisma Putra dalam pernyataannya di Kuala Lumpur, Rabu (30/9/2026), menyebut penyerbuan ke Kompleks Masjid Al-Aqsa pada 28 September melibatkan lebih dari 1.000 pemukim Israel dan pejabat senior Israel di bawah perlindungan pasukan Israel.

"Tindakan-tindakan ini bukan sekadar provokasi yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rezim Zionis Israel untuk mengubah identitas dan karakter Masjid Al-Aqsa serta Yerusalem Timur yang diduduki," demikian pernyataan Wisma Putra.

Malaysia menilai aksi berulang yang dilakukan pemukim Israel dan pejabat senior Israel tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta status quo historis dan hukum yang berlaku di Yerusalem Timur dan kompleks Al-Haram Al-Sharif.

Malaysia juga menolak segala upaya untuk mengubah kondisi tersebut dan menegaskan bahwa kesucian Al-Haram Al-Sharif serta hak beragama jamaah Muslim harus dihormati dan dilindungi.

Wisma Putra selanjutnya mendesak masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk mengambil tindakan segera dan konkret agar Israel menghentikan apa yang disebut Malaysia sebagai pelanggaran serius dan disengaja tersebut.

"Rezim Zionis Israel harus dimintai pertanggungjawaban atas upayanya yang terus-menerus untuk merusak status quo historis dan hukum di Al-Haram Al-Sharif," kata Wisma Putra.

Malaysia juga kembali menyatakan solidaritas terhadap rakyat Palestina, termasuk mendukung hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Dalam pernyataan tersebut, Malaysia kembali menegaskan dukungannya terhadap pembentukan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan sebelum 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.***


Editor : JakaPermana