Hadapi Ancaman Kemarau, Petani di Cihampelas KBB Beralih Tanam Kacang Edamame
Para petani di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) punya cara tersendiri untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2024.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Para petani di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) punya cara tersendiri untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2024.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB tercatat ada ribuan hektare sawah yang digarap petani tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah KBB. Daerah paling rawan berada di 49 desa dari 6 kecamatan meliputi Sindangkerta, Saguling, Cipongkor, Cipatat, Cihampelas, dan Batujajar.
Menyiasati kondisi kemarau tersebut, petani di Desa Tanjungwangi Kecamatan Cihampelas KBB kini beralih dari menanam padi ke tumbuhan kacang-kacangan seperti edamame.
Salah seorang petani, Saepudin, 52 tahun mengaku mulai menanam kacang edamame di wilayahnya sejak beberapa tahun silam, tepatnya sekitar 2018 lalu.
"Alhamdulillah di Desa Tanjungwangi mulai mencoba menanam edamame pada tahun 2018. Namun pada waktu itu ada kendala Covid jadi tidak ada yang beli," katanya, Selasa 8 Agustus 2024
Menurutnya, kacang edamame merupakan salah satu jenis tanaman pangan yang mampu bertahan di saat kemarau seperti saat ini.
"Edamame dalam kondisi kemarau bagus. Bibitnya ga busuk, kadar airnya tidak terlalu kelebihan," tuturnya.
Saat ini, kata Saepudin, harga jual kacang edamame terus mengalami kenaikan dan cukup laku di pasaran.
"Dulu pas awal-awal harga jual kacang edamame hanya Rp 11.500 per kilogram dan untuk sekarang harga paling murah itu Rp 15 ribu bahkan tembus Rp 20 ribu per kilogramnya," ujarnya.
Kemudian, sambung Saepudin, untuk masa tanam dan panen untuk kacang edamame lebih menguntungkan para petani. Sebab, dalam satu tahun dapat panen tiga sampai empat kali.
"Kalau padi setahun tiga kali panen. Tetapi ketika bulan Agustus terjadi kemarau tanaman padi hanya bisa panen hanya dua kali dalam setahun," ujarnya.
Dari sisi pemasaran, kata Saepudin, kacang edamame tidak kekurangan pembeli. Bahkan dengan permintaan yang cukup tinggi dari pembeli belum bisa terpenuhi seluruhnya.
"Untuk saat ini permintaan belum bisa terpenuhi. Dalam satu tahun dari lahan seluas 40 tumbak bisa menghasilkan kurang lebih satu ton kacang edamame," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani

