Harga Pangan Mulai Bergerak
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
INILAH, Cimahi - Harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar-pasar Kota Cimahi mulai bergerak. Beberapa komoditas naik, membuat pembeli harus merogoh kocek sedikit lebih dalam untuk membawa pulang kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu terlihat dari pemantauan harga yang dilakukan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi bersama tim dari tingkat Provinsi Jawa Barat. Pemantauan menyasar sejumlah titik strategis, mulai Pasar Cimindi, Pasar Atas, hingga pusat perbelanjaan modern Transmart Cimahi.
Kenaikan tercatat pada sejumlah komoditas. Daging ayam ras kini berada di kisaran Rp42.000 hingga Rp44.000 per kilogram. Harga telur ayam ras bergerak menjadi Rp26.000–Rp27.000 per kilogram, sementara jagung manis mencapai Rp20.000 per kilogram.
Pergerakan paling terasa terjadi pada cabai rawit merah dan buncis. Cabai rawit merah menyentuh Rp80.000 per kilogram, sedangkan harga buncis melonjak dua kali lipat hingga mencapai Rp30.000 per kilogram.
"Lonjakan paling terasa terjadi pada cabai rawit merah yang menyentuh angka Rp80.000 per kg, serta buncis yang harganya naik dua kali lipat menjadi Rp30.000 per kg," kata Kepala Dispangtan Kota Cimahi Tita Mariam, Senin (7/9).
Meski demikian, kenaikan tersebut belum dianggap mengkhawatirkan. Secara umum, harga pangan masih berada dalam rentang kendali dan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Musim kemarau menjadi salah satu penyebab pergerakan harga. Penurunan curah hujan berdampak pada ketersediaan hasil bumi sekaligus memengaruhi pasokan yang masuk ke pasar.
Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran lain sempat muncul menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, hingga kini belum terlihat pengaruh signifikan terhadap harga maupun pasokan pangan di Cimahi.
"Faktor utama yang memicu perubahan harga saat ini murni terkait siklus cuaca dan ketersediaan pasokan alamiah," tutur Tita.
Untuk beras, masyarakat tak perlu khawatir. Dispangtan memastikan cadangan masih aman dan terjaga. Jika pasokan di pasar mulai berkurang, beras penyangga dari Bulog melalui skema penjualan beras SPHP akan diaktifkan.
Penyaluran juga dapat dilakukan melalui program Sibesti dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Langkah tersebut disiapkan untuk menjaga agar kebutuhan pangan tetap tersedia sekaligus membantu menahan gejolak harga. (gin)
Editor : Inilahkoran

