Harga Wortel dan Cabai Gendot Anjlok, Petani Pangalengan Menjerit
Para petani sayuran di Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengeluhkan anjloknya harga hasil panen terutama komoditas wortel dan cabai gendot.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Para petani sayuran di Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengeluhkan anjloknya harga hasil panen terutama komoditas wortel dan cabai gendot.
Saat ini, harga wortel di tingkat petani hanya dihargai Rp2.000 per kilogram. Padahal, agar petani masih mendapatkan keuntungan dan mampu menutup biaya produksi, harga ideal minimal berada di angka Rp6.000 per kilogram.
Tak hanya wortel, harga cabai gendot juga mengalami penurunan tajam. Saat ini cabai gendot hanya dibeli Rp9.000 per kilogram, jauh dari harga ideal yang diharapkan petani yakni minimal Rp15.000 per kilogram.
Salah seorang petani Reki Subagja mengatakan, kondisi tersebut membuat para petani semakin tertekan. Pasalnya, anjloknya harga jual tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi pertanian yang terus naik.
“Sekarang harga pupuk dan obat-obatan naik rata-rata sampai 20 persen. Belum lagi harga plastik mulsa yang melonjak tajam,” kata Reki di Kampung Puncakmulya, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, harga plastik mulsa yang sebelumnya sekitar Rp600 ribu per rol kini melonjak hingga Rp1,5 juta per rol. Kenaikan itu semakin membebani petani di tengah lesunya harga jual hasil panen.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan untuk mencari solusi agar harga sayuran kembali stabil. Jika kondisi ini terus berlangsung, petani khawatir banyak lahan pertanian yang akhirnya tidak lagi digarap karena biaya produksi lebih besar dibanding hasil penjualan panen.
Menurut Reki, tren kenaikan harga diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring belum stabilnya kondisi global.
Kondisi ini semakin memberatkan petani di tengah harga jual sayuran yang cenderung rendah. Situasi tersebut dinilai membuat petani semakin tertekan untuk mempertahankan usaha pertaniannya.
“Selama ini harga sayuran sering di bawah, sekarang biaya produksi malah naik terus," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani


