Dedi Mulyadi Ingin Batutulis dan Mahkota Binokasih Dikaji Ilmiah untuk Sejarah Sunda
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong lahirnya kajian akademik mendalam terkait Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih untuk meluruskan pemahaman publik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong lahirnya kajian akademik mendalam terkait Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake sebagai upaya meluruskan pemahaman publik tentang sejarah besar Tatar Sunda.
Menurutnya, dua artefak penting tersebut harus dibaca melalui pendekatan ilmiah agar tidak lagi dipersepsikan sebatas benda sarat nuansa mistis.
Dorongan itu disampaikan Dedi, di tengah upaya Pemprov Jabar memperkuat identitas budaya Sunda sebagai pijakan pembangunan daerah. DIa menilai, sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu ditafsirkan secara akademis agar memberi arah bagi masa depan.
"Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama," ujar Dedi baru-baru ini.
Keberadaan Prasasti Batutulis di Kota Bogor, kata dia, menjadi penanda penting bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Sebab itu, keberadaan situs bersejarah tersebut harus dijelaskan secara utuh melalui riset lintas disiplin agar masyarakat memahami nilai sejarahnya secara lebih mendalam.
Tak sekadar menjadi dokumen sejarah, hasil kajian akademik itu juga dipandang dapat menjadi fondasi dalam menentukan arah kebijakan pembangunan Jawa Barat.
Dedi menginginkan nilai-nilai peradaban Sunda tercermin dalam tata ruang kota, pola pembangunan, sistem pendidikan hingga pelayanan kesehatan. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak tercerabut dari akar sejarah, melainkan menjadi kesinambungan antara kejayaan masa lampau dan visi masa depan Jawa Barat.
Prasasti Batutulis selama ini diyakini sebagai salah satu bukti paling otentik kejayaan Kerajaan Sunda, di era Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Situs yang berada di Bogor itu menyimpan catatan penting mengenai kepemimpinan dan pembangunan Pakuan Pajajaran sebagai pusat kerajaan.
Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan, prasasti tersebut dibuat atas titah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa ayahandanya, Prabu Siliwangi, yang dianggap berhasil membangun serta menata ibu kota kerajaan.
Menurut Titi, kepemimpinan Prabu Siliwangi pada 1482-1521 meninggalkan pengaruh besar dalam perkembangan Pakuan Pajajaran sebagai pusat pemerintahan Sunda kala itu.
Namun, seiring perjalanan waktu, jejak fisik Kerajaan Sunda semakin sulit ditemukan. Perubahan lanskap kekuasaan di Pulau Jawa, termasuk masuknya pengaruh kerajaan Islam, menjadi salah satu faktor yang membuat peninggalan Pajajaran tidak banyak tersisa.
Di tengah minimnya artefak peninggalan Sunda, Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake dinilai memiliki posisi istimewa. Benda pusaka yang diwariskan turun-temurun dan kini disimpan di Keraton Sumedang Larang itu diyakini menjadi simbol legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda.
Merujuk naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut pertama kali dibuat di Kerajaan Galuh sebagai lambang otoritas kerajaan. Ketika Pajajaran runtuh, empat utusan kerajaan disebut menyerahkan Mahkota Binokasih kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang.
Ahli Arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian mengungkapkan, Mahkota Binokasih menyimpan filosofi mendalam mengenai kosmologi masyarakat Sunda, yakni konsep Tritangtu yang menitikberatkan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Menurut Harry, desain mahkota tidak dibuat sembarangan karena merepresentasikan tiga unsur penting dalam struktur kepemimpinan Kerajaan Sunda. Rama, Ratu atau Prabu, dan Resi.
Bagian atas mahkota menggambarkan Rama, kelompok pemimpin spiritual yang menjaga adat, nilai agama, dan kebijaksanaan. Ornamen stupa serta bunga teratai dimaknai sebagai simbol kepemimpinan yang memberi manfaat dan keteladanan.
Sementara bagian tengah melambangkan Ratu atau Prabu, sebagai pemegang otoritas pemerintahan. Ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur di bagian belakang menjadi simbol keberanian pemimpin dalam melindungi rakyat serta menjalankan pemerintahan dengan bijak.
Adapun bagian bawah mencerminkan Resi, kelompok intelektual dan penasihat kerajaan yang berfungsi memberikan ilmu pengetahuan serta pertimbangan moral.
Filosofi tersebut berkaitan dengan ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati, tokoh penting Sunda-Galuh abad ke-14 yang dikenal memperkuat spiritualitas dan tatanan sosial masyarakat.
Nilai sejarah dan filosofi yang melekat pada Mahkota Binokasih, membuat pusaka tersebut selama ini dijaga ketat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun, dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota itu dibawa ke sejumlah daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas perjalanan Pajajaran.
Langkah tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, untuk mengenali kembali sejarah Sunda dari perspektif yang lebih ilmiah, mendalam, dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kajian akademik yang tengah didorong, Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih diharapkan tak lagi hanya dipandang sebagai simbol budaya, tetapi juga sumber pengetahuan tentang fondasi peradaban Sunda.
Editor : Doni Ramdhani

