Hari Pahlawan 2021: Kisah Nani Sulyani, Kepsek Sekaligus Pejuang Literasi dari Saguling...

Kisah Nani Sulyani, kepsek yang Berjuang melawan rendahnya minat baca masyarakat sangat layak menjadi inspirasi di Hari Pahlawan 2021.

Hari Pahlawan 2021: Kisah Nani Sulyani, Kepsek Sekaligus Pejuang Literasi dari Saguling...
Nani Sulyani, Pejuang Literasi sekaligus Kepsek yang kisahnya layak menjadi inspirasi di Hari Pahlawan 2021.

INILAHKORAN, Bandung- Bertepatan dengan Hari Pahlawan 2021, kisah Kepala Sekolah (Kepsek) Nani Sulyani sangatlah inspiratif. Dia mengabdikan hidupnya untuk berjuang menumbuhkan minta baca masyarakat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis serentak pada hari Selasa, 3 Desember 2019.

Berdasarkan hasil studi yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487.

Baca Juga: Curiga Terus ke Pasangan Memata-matai Bak Agen FBI, Dalam Islam Disebut Tajassus, Begini Hukumnya...

Kemudian untuk skor rata-rata matematika mencapai 379 dengan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains, skor rata-rata siswa Indonesia mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489. Artinya, Indonesia berada pada kuadran low performance dengan high equity.

Kemudian, ditemukan juga bahwa gender gap in performance ketimpangan performa belajar antara perempuan dan laki-laki tidak besar. Siswa perempuan lebih baik dari siswa laki-laki dalam semua bidang di PISA.

Berangkat dari permasalahan pendidikan tersebut, Nani Sulyani (53) seorang Kepala Sekolah di SMP Negeri 3 Saguling berinisiatif menggagas sebuah gerakan literasi sekolah (GLS) guna menanamkan minat baca dan menulis serta berpikir kritis.

Baca Juga: Asyik... Akademisi dan Masyarakat Kini Bisa Akses Portal MBKM UTama

"Awal mula saya tertarik untuk memperkenalkan literasi adalah berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) bahwa Indonesia menduduki posisi yang mengkhawatirkan," katanya kepada INILAH, Minggu 7 November 2021.

Menurutnya, sebagai insan pendidikan dirinya tertarik untuk memulai literasi dalam dunia pendidikan.

"Jadi kita lebih ke arah praktis bagaimana memulai literasi ini dikenalkan kepada anak-anak karena guru memiliki interaksi langsung dengan mereka, sehingga guru bisa memiliki keterampilan untuk memperkenalkan literasi, mulai dari diri kita sebagai pendidik untuk mengubah, membantu dan meningkatkan mutu pendidikan," tuturnya.

Sebagai langkah awal, jelas dia, pihaknya bersama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) membentuk fasilitator gerakan literasi sekolah di wilayahnya untuk jenjang pendidikan dasar.

Baca Juga: Polisi Serahkan Barang-barang Milik Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah ke Pihak Keluarga

Kemudian, fasilitator inilah yang menjadi pioner untuk mengajak para guru-guru di sekolah. Selanjutnya, fasilitator ini kemudian membentuk juga para koordinator untuk di tiap-tiap sekolah, sehingga seperti berjenjang.

"Para koordinator ini juga kemudian membentuk guru-guru pembimbing ditiap sekolah. Dan tentunya ini berdasarkan arahan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB)," jelasnya.

Berbagai strategi pun ia tempuh untuk membangkitkan literasi melalui kerjasama yang dibangun dengan beberapa SKPD, seperti tahun-tahun sebelumnya bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) untuk mengajak para siswa berliterasi di objek wisata Bandung Barat, khususnya di objek wisata yang belum tersentuh.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Siaga Banjir Bandang, Ini Imbauan Bupati Ade Yasin untuk Warga

Selain mengunjungi objek wisata, anak-anak ini bisa sambil membaca, menjelaskan dan menuliskan objek wisata yang dikunjunginya.

"Di sini mereka bisa melihat sisi terbaiknya dari objek wisata tersebut, bahkan mereka juga mulai bisa melihat potensi-potensi yang ada di KBB ini besar, dalam hal ini bidang pariwisata," bebernya.

Kemudian di tahun sebelumnya, pihaknya juga menggandeng Dinas Perpustakaan daerah dan mengajak anak untuk melakukan literasi di perpustakaan, karena selama ini anak-anak hanya mengunjungi dan mengenal perpustakaan sekolah.

Baca Juga: JADWAL RESMI Persib Bandung di Seri Ketiga BRI Liga 1, Kedalaman Skuat Maung Bandung Diuji!

"Dengan adanya kerjasama dengan perpustakaan daerah, anak-anak bisa langsung berkunjung dan mereka senang melihat perpustakaan yang lebih besar daripada perpustakaan yang ada di sekolahnya," sambungnya.

Menurutnya, hal ini sangat menarik lantaran anak-anak didiknya bisa berjalan-jalan melihat hal menakjubkan di luar sekolahnya. "Saat ini kami telah menjalankan program Tantangan Membaca Bandung Barat.

"Alhamdulillah ini sudah memasuki tahun kelima program ini berjalan. Kami namakan program tantangan membaca Bandung Barat karena kami menangtang anak-anak Bandung Barat untuk membaca, membaca lingkungan, membaca dunia sekitarnya.

Jadi, tidak hanya membaca buku saja. Oleh sebab itu dalam program ini kami menangtang mereka juga untuk menghasilkan karya berupa karya tulis," urainya.

Baca Juga: Persib Pincang Ladeni Persija di Seri Ketiga BRI Liga 1, Ini Daftar Pemain yang Absen

Dalam program tersebut, terang dia, anak-anak didik harus membuat karya tulis seperti cerpen, puisi, artikel yang dibukukan. Karya ini disebut karya sekolah lantaran buku tersebut adalah buku kumpulan yang ditulis oleh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa. Jadi ini disebutnya karya tulis bersama.

"Kedua, kami menangtang mereka dengan karya inovatif, di sini mereka membuat karya-karya yang bisa menginspirasi atau meotivasi pihak lain. Kami mengundang mereka untuk melihat literasi dari sisi yang lebih dalam," terangnya.

"Jadi membuat karya-karya yang bertema literasi dan karya ini merupakan karya-karya yang inovatif, misalnya karya tilikan mereka tentang sumpah pemuda, tentang hari pahlawan, itu mereka buat dalam sebuah video, infografis, dan itu bisa inspiratif dan memotivasi pihak lain untuk lebih mengenal tema-tema tersebut dan lebih memahami tentang literasi digital," tambahnya.

Baca Juga: Lakukan Hal Mudah tanpa Ribet ini di Pagi Hari, Risiko Kanker Bakal Berkurang Drastis...

Sebelum masa pandemi, kata dia, dirinya mencanangkan program ini selama 10 bulan. Tapi karena pandemi dirinya hanya membuat program ini selama tiga bulan.

"Jadi dalam tiga bulan itu mereka ditantang untuk menghasilkan karya tulis bersama berupa buku ISBN dan menangtang mereka untuk membuat video-video kreatif dan inovatif, serta inspiratif sebanyak tiga buah video," katanya.

Dalam sebuah perjuangan tentunya ada jalan terjal atau kendala yang pastinya dihadapi. Keberhasilan seseorang tak bisa terpisahkan dari bagaimana ia mampu mengatasi kendala yang dihadapinya.

Baca Juga: Man United Dibungkam Man City, Solskjaer Yakin Tak Dipecat, Justru Bilang Pemain Butuh Liburan

Begitu pun dengan Nani, selain belum semua siswa turut berpartisipasi dalam tantangan membaca, pandemi COVID-19 juga menjadi penghambat terbesarnya untuk bisa konsisten menggalakkan kegiatan literasinya.

"Selain itu, hampir semua siswa belum menyukai literasi, belum semua siswa suka membaca. Jadi misalnya dalam satu sekolah itu terdapat 500 orang siswa, tidak seluruhnya menyukai membaca," bebernya.

Kendati demikian, ia mengakui, dengan adanya program ini sedikit-sedikit minat literasi anak mulai bertambah lantaran para siswa mulai tertarik untuk membaca.

Baca Juga: Tubagus Joddy, Sopir Vanessa Angel Kini Menanti 'Nasib' Usai Pengakuannya Ngebut Sambil Main Handphone

"Oleh karenanya, saya optimis bisa terus menggaungkan program ini untuk meningkatkan jumlah anak-anak yang senang membaca," tandasnya*** (agus satia negara)


Editor : inilahkoran