Heboh Gus Miftah Dituding Olok-olok Penjual Es Teh, Buya Yahya Singgung Sifat Nabi yang Tak Rendahkan Orang Lain

sikap Gus Miftah pun kerap dikait-kaitkan dengan ceramah Buya Yahya yang menyinggung soal sikap umat Muslim agar tidak mengolok-olok dengan tujuan merendahkan orang lain.

Heboh Gus Miftah Dituding Olok-olok Penjual Es Teh, Buya Yahya Singgung Sifat Nabi yang Tak Rendahkan Orang Lain

INILAHKORAN, Bandung - Belakangan ini Gus Miftah yang dituding mengolok-olok penjual es teh menjadi viral dan menuai kecaman netizen di media sosial.

Pernyataan Gus Miftah tersebut membuat dirinya diminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai utusan khusus presiden.

Tak hanya itu, sikap Gus Miftah pun kerap dikait-kaitkan dengan ceramah Buya Yahya yang menyinggung soal sikap umat Muslim agar tidak mengolok-olok dengan tujuan merendahkan orang lain.

"Jangan biasa merendahkan orang lain, guyonan-guyonan yang merendahkan itu adalah bukan akhlaknya orang yang mulia," kata Buya Yahya.

Menurut Buya Yahya orang yang gemar merendahkan orang lain membuat wibawanya jatuh, bahkan di hadapah Tuhan.

Sikap seperti demikian juga tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw yang memiliki derajat tinggi.

"Tidak boleh merendahkan orang lain, bukan caranya Nabi. Nabi tidak pernah merendahkan orang lain, padahal Nabi sangat tinggi pangkatnya, sangat mulia," tambahnya.

"Kita ini siapa kok berani merendahkan orang itu. Akhlak apa itu?," tegasnya.

Buya Yahya kemudian menjelaskan perkataan Imam Ghazali tentang nasib seseorang yang bisa saja berubah dan tidak mengalami kejadian serupa keesokan harinya.

"Orang itu memang jelek hari ini, tapi bisa saja esok hari menjadi lebih bagus dari saya," imbuh Buya Yahya menirukan kata Imam Ghazali.

Menurut Buya Yahya, seorang pendakwah atau guru yang memberikan pelajaran seharusnya tidak memandang rendah jamaah atau murid yang diajarnya.

"Dalam mengajak kebaikan dengan dakwahnya Nabi adalah memandang mereka dengan pandangan cinta dan kasih sayang bukan dengan pandangan merendahkan," bebernya.

"Seorang ustaz memandang jemaah murid dengan pandangan merendahkan, dia runtuh bukan ustaz lagi. Dia perlu belajar lagi," pungkasya.


Editor : Firda Rachmawati