Hijabfest dan Harapan Ekonomi Halal
Potensi industri fesyen muslim di Bandung tidak hanya terlihat dari kreativitas desain, tetapi juga dari ekosistem usaha yang terus berkembang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Potensi industri fesyen muslim di Bandung tidak hanya terlihat dari kreativitas desain, tetapi juga dari ekosistem usaha yang terus berkembang.
Deretan busana muslim berwarna lembut tergantung rapi di setiap stan. Di sudut lain, aroma makanan khas dari tenant kuliner lokal menguar, menarik pengunjung yang lalu-lalang di dalam gedung Sasana Budaya Ganesha.
Selama empat hari, ruang pertunjukan itu berubah menjadi panggung bagi geliat industri modest fashion dan ekonomi halal di Kota Bandung.
Ajang Indonesia Hijabfest 2026 yang berlangsung pada 5–8 Maret 2026 tidak sekadar menjadi pameran busana muslim. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang kian berkembang di Jawa Barat.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat turut memperkuat komitmennya dalam mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Setiap penyelenggaraannya, Indonesia Hijabfest diikuti lebih dari seratus pelaku usaha, terutama dari sektor fesyen muslim serta makanan dan minuman halal.
Founder Hijabfest, Sheena Krisnawati, mengingat kembali awal lahirnya acara tersebut pada 2012. Saat itu, tren hijab mulai berkembang di Indonesia dan Hijabfest hadir sebagai salah satu event pertama yang secara khusus mengangkat fesyen muslim.
“Antusiasme masyarakat saat itu sangat besar dan menjadi momentum awal berkembangnya industri modest fashion seperti saat ini,” ujarnya.
Bagi Bank Indonesia, kegiatan seperti Hijabfest bukan hanya panggung promosi produk. Lebih dari itu, acara ini juga menjadi ruang penguatan ekonomi kerakyatan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Muhamad Nur menyebut potensi pengembangan ekonomi syariah di Jawa Barat sangat besar.
Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia serta kontribusi ekonomi yang signifikan, provinsi ini memiliki peluang strategis untuk terus mendorong pertumbuhan sektor usaha halal.
“Potensi tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkuat pengembangan ekonomi syariah dan industri halal,” ujarnya.
Optimisme serupa juga disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Menurutnya, Kota Bandung memiliki ekosistem yang relatif lengkap dalam pengembangan modest fashion, mulai dari kreativitas desain, pelaku konveksi, hingga pasar yang kuat.
“Untuk Kota Bandung memang ada dua bentuk fashion yang ingin kita dorong. Salah satunya adalah modest fashion atau baju muslim dan muslimah. Dari yang paling niche sampai produksi massal semuanya ada di Kota Bandung,” kata Farhan saat menghadiri konferensi pers Hijabfest.
Ekosistem tersebut menjadikan Bandung memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri fesyen muslim nasional. Namun Farhan juga mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang harus diperbaiki, terutama dalam inovasi desain dan penguatan industri bahan tekstil.
Dia menyoroti data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur di Kota Bandung masih sangat rendah.
“Berdasarkan data BPS, tingkat pertumbuhan sektor manufacturing di Kota Bandung hanya sekitar 0,01 persen. Artinya pabrik di Kota Bandung tidak berkurang, tetapi juga tidak bertambah,” ujarnya.
Padahal, keberadaan produsen bahan tekstil dinilai penting untuk menopang perkembangan industri modest fashion. Farhan menilai pengembangan bahan tekstil yang nyaman untuk iklim tropis menjadi kebutuhan penting bagi industri tersebut.
Karena itu, dia mendorong penguatan rantai pasok industri fesyen, mulai dari bahan baku, konveksi, hingga pengembangan merek yang berbasis di Bandung.
Selain itu, perlindungan terhadap produk lokal juga menjadi perhatian. Farhan menilai sejumlah instrumen seperti sertifikasi halal dan sistem pembayaran digital nasional dapat menjadi bagian dari strategi menjaga daya saing industri lokal.
“Dua hal ini, sertifikasi halal dan QRIS, menjadi instrumen untuk memastikan ketahanan ekonomi Kota Bandung tidak diambil oleh pesaing dari luar,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyebut provinsi ini memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal. Dengan jumlah penduduk sekitar 50,7 juta jiwa dan mayoritas beragama Islam, Jawa Barat memiliki pasar sekaligus basis produksi yang kuat.
“Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, UMKM, dan akademisi sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian syariah dan industri halal di Jawa Barat,” ujarnya.
Melalui berbagai kegiatan seperti Hijabfest, Kota Bandung semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat perkembangan industri fesyen di Indonesia.
Julukan Paris van Java pun seolah menemukan bentuk barunya, bukan hanya sebagai kota mode, tetapi juga sebagai salah satu motor penggerak ekonomi halal di Tanah Air.
Editor : Doni Ramdhani

