HSolusi Pencegahan Prematuritas Lewat Bedah Buku "Bayi Prematur: Menjemput Harapan"

Angka kelahiran bayi prematur di Indonesia masih tergolong tinggi, berkisar antara 7% hingga 15,5% dari total kelahiran atau setara dengan 600.000 hingga 675.70

HSolusi Pencegahan Prematuritas Lewat Bedah Buku "Bayi Prematur: Menjemput Harapan"
Dua dari tiga penulis buku "Bayi Prematur: Menjemput Harapan", dr. I.G. Ayu Nyoman Partiwi (kanan) atau yang akrab disapa dr. Tiwi dan Dr. dr. Tetty Yuniati (kiri).

INILAHKORAN.ID - Angka kelahiran bayi prematur di Indonesia masih tergolong tinggi, berkisar antara 7% hingga 15,5% dari total kelahiran atau setara dengan 600.000 hingga 675.700 bayi lahir prematur setiap tahunnya. 

Fakta ini menguak tabir bahwa persoalan bayi prematur tak sekadar urusan medis sesaat setelah lahir, namun masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian menyeluruh, mulai dari persiapan kehamilan, pemantauan selama masa kehamilan hingga pendampingan jangka panjang pascakelahiran. 

Kondisi tersebut menjadi perhatian yang dibahas dalam acara Bedah Buku dan Diskusi "bayi prematur: Menjemput Harapan" yang digelar di Bandung, Minggu (23/8/2026). 

Dalam para ahli sepakat bahwa pencegahan harus dimulai sejak ibu merencanakan kehamilan dan perawatan bayi prematur tidak bisa dilakukan sendirian oleh tenaga medis. keterlibatan aktif keluarga menjadi kunci keberhasilan tumbuh kembang anak.

Salah satu penulis buku sekaligus pakar kesehatan reproduksi, Prof. dr. Tono Djuwantono menjelaskan secara rinci beragam penyebab kelahiran prematur yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat. 

"Infeksi saluran reproduksi menjadi penyebab terbanyak, termasuk ketuban pecah dini, namun kondisi medis ibu seperti diabetes dan preeklamsia (hipertensi dalam kehamilan) juga berkontribusi besar," kata Prof Tono.

Bahkan, lanjut dia, keluhan keputihan yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi pemicu serius. Faktor lain meliputi kehamilan kembar, kelainan bentuk rahim, hingga penggunaan teknologi reproduksi berbantu yang menangani pasien dengan kondisi medis tertentu.

"Keputihan jangan dianggap enteng, karena penyebab terbanyak kelahiran prematur adalah infeksi. Juga mulut rahim yang lemah atau rapuh bisa menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya," jelasnya.

"Oleh karena itu, semua ibu hamil harus rutin melakukan pemeriksaan kehamilan atau ANC, menjaga kebersihan diri, dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok. Bila ada keluhan sekecil apa pun, segera periksakan ke tenaga medis," bebernya.

Prof Tono juga mengingatkan, ibu hamil memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dibandingkan kondisi normal, sehingga risiko terkena penyakit seperti flu tidak boleh diremehkan. 

"Data penelitian di seluruh dunia menunjukkan ibu hamil yang terserang flu memiliki risiko lebih tinggi dirawat hingga dirawat di ruang perawatan intensif," ujarnya. 

Karena itu, vaksinasi influenza sangat dianjurkan bagi ibu hamil, idealnya pada trimester kedua atau ketiga, tidak hanya untuk melindungi ibu tetapi juga untuk membentuk kekebalan yang ditransfer ke janin melalui antibodi IgG.

"bayi prematur sangat rentan, terutama pada 6 bulan pertama kehidupan dan belum ada vaksinasi yang bisa diberikan pada usia tersebut," tuturnya.

"Maka satu-satunya perlindungan datang dari antibodi ibu yang ditransfer saat hamil dan dari ASI yang mengandung antibodi IgA. Jadi vaksinasi ibu hamil bukan sekadar menjaga kesehatan ibu, melainkan menjaga nyawa bayi sejak dalam kandungan," terangnya.

Kesehatan Sejak Remaja: Pencegahan Prematur Dimulai Sebelum Hamil

Dalam diskusi tersebut, narasumber dr. I.G. Ayu Nyoman Partiwi atau yang akrab disapa dr. Tiwi menegaskan, upaya mencegah bayi lahir prematur tidak boleh baru dimulai saat seseorang sudah hamil. 

"Kualitas kesehatan seorang perempuan sejak masa remaja sangat menentukan risiko kelahiran prematur di masa depan," ungkap dr. Tiwi.

dr. Tiwi menyebut, kondisi seperti anemia, kegemukan, obesitas, hingga sindrom ovarium polikistik (PCOS) yang sering kali tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi diabetes gestasional dan komplikasi lain saat hamil.

"Kita harus menjaga kesehatan perempuan bukan saat hamil saja, tapi sejak sebelum kehamilan, bahkan sejak mereka masih remaja. Anak perempuan harus didorong hidup sehat, aktif bergerak, menjaga berat badan ideal," ucapnya.

"Kalau tidak, risiko penyakit saat dewasa dan komplikasi kehamilan akan semakin tinggi. Obesitas dan PCOS adalah calon penyebab diabetes ibu hamil yang berujung pada kelahiran prematur," imbuhnya.

Peran Keluarga Tak Bisa Digantikan: Konsep FICARE dan Pendampingan Berkelanjutan

Sementara itu, Dr. dr. Tetty Yuniati mengungkapkan, jika bayi sudah terlanjur lahir prematur, penanganan yang tepat di fasilitas kesehatan dengan layanan perawatan intensif bayi baru lahir atau NICU sangat menentukan keselamatan.

"Namun perawatan tidak berhenti saat bayi pulang ke rumah. Pemantauan tumbuh kembang harus berlangsung terus-menerus hingga anak memasuki masa remaja," kata dr. Tetty.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat strategis melalui konsep Family Integrated Care atau FICare, di mana keluarga dilibatkan secara langsung dan aktif dalam merawat bayi bahkan sejak masih berada di ruang perawatan intensif.

"Merawat bayi prematur adalah perjalanan bersama. Bukan urusan dokter saja, bukan urusan rumah sakit saja. Orang tua adalah pemain utama," terangnya.

"Mereka harus dilibatkan, diberi pemahaman, diberi peran, sehingga saat bayi pulang ke rumah, pendampingan tetap berjalan dengan kualitas yang sama. Buku ini hadir untuk menjembatani pengetahuan medis agar mudah dipahami oleh setiap orang tua," sambungnya.

Buku Sebagai Jembatan Pengetahuan untuk Semua Kalangan

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neonatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode 2024–2027, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar menyambut baik peluncuran buku "bayi prematur: Menjemput Harapan". Menurutnya, literatur medis yang ada selama ini cenderung terlalu teknis dan sulit dipahami oleh orang tua. Buku ini hadir mengisi kekosongan tersebut dengan bahasa yang ringan, praktis, namun tetap berbasis bukti ilmiah.

"Orang tua sering kali merasa seperti penonton di luar lapangan, padahal mereka adalah pemain inti dalam kehidupan anaknya. Buku ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan medis dengan pemahaman keluarga," ujar dr. Adhi.

"Orang tua jadi tidak sekadar pasrah pada keputusan dokter, tetapi paham apa yang terjadi dan bisa ikut berperan aktif. Buku ini juga sangat membantu tenaga kesehatan, termasuk dokter di Puskesmas, bidan, hingga mahasiswa kedokteran dalam memberikan pendampingan yang lebih baik," paparnya.


Editor : Ahmad Sayuti