IJTI Korda Cimahi-KBB Soroti Maraknya Kasus Ancaman dan Kekerasan oleh Oknum yang Mengatasnamakan Wartawan
Masih maraknya aksi ancaman dan pemerasan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan wartawan salah satu persoalan yang disoroti banyak pihak. Sebab, aksi-aksi atau tindakan tersebut telah meresahkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Masih maraknya aksi ancaman dan pemerasan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan wartawan salah satu persoalan yang disoroti banyak pihak. Sebab, aksi-aksi atau tindakan tersebut telah meresahkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Persoalan tersebut menjadi fokus pembahasan pada seminar yang diinisiasi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Cimahi-Bandung Barat yang menghadiri 200 peserta yang terdiri dari tenaga pendidik dan perwakilan pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Acara ini berlangsung di Floating Market, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat belum lama ini.
Mengusung tema 'Peran Jurnalis dalam Mengawal Keterbukaan Informasi Publik untuk Memajukan Dunia Pendidikan di Kabupaten Bandung Barat', IJTI mengundang sejumlah narasumber yang peduli akan perkembangan jurnalisme positif di Indonesia, seperti Ketua IJTI Pusat Herik Kurniawan, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers Yadi Hendriana, dan Kasatreskrim Polres Cimahi AKP Dimas Charis Suryo Nugroho.
Turut hadir jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bandung Barat, yakni Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Bandung Barat Yoppie Indrawan dan Kapolres Cimahi AKBP Tri Suhartanto.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Cimahi AKBP Tri Suhartanto menekankan pentingnya kolaborasi antara media dan dunia pendidikan.
"Tentu saja kolaborasi ini dapat menghasilkan pembelajaran luar biasa untuk menyiapkan generasi emas menuju Indonesia Emas 2045," kata Tri.
Terkait adanya oknum wartawan yang melanggar hukum, Tri menjelaskan bahwa bukan medianya yang bermasalah, melainkan individu yang mengaku sebagai wartawan tanpa kompetensi yang benar.
"Jangan takut dan jangan antipati terhadap media. Dewan Pers sudah menyediakan aplikasi untuk memastikan legalitas media tersebut," tegasnya.
Tri pun berpesan kepada masyarakat tidak ragu melaporkan jika menemukan wartawan yang melakukan pelanggaran hukum, seperti pemerasan.
"Kalau sudah ada ancaman atau pemerasan, segera laporkan ke kepolisian," katanya.
Sementara berkaitan dengan penyebaran hoaks, Tri menyebutkan bahwa patroli siber yang dilakukan di Cimahi dan KBB masih dapat mengendalikan situasi.
Kendati demikian, Tri meminta media untuk lebih berhati-hati dan melakukan cross-check sebelum menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan penegakan hukum.
"Rekan media harus terus berkarya dan berprestasi tanpa sensasi," pesannya.
Ketua IJTI Pusat Herik Kurniawan mengatakan, banyak lembaga pendidik dan kepala sekolah mengeluhkan maraknya oknum wartawan. Mereka dipaksa memberikan uang kepada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Bahkan sampai mengancam untuk menulis dugaan penyalahgunaan dana bantuan operasional sekolah.
“Ada yang bertanya kepala sekolah dari salah satu SMPN di Padalarang, dia mengeluhkan mendapat intervensi dan lainnya. Karena itu melalui seminar ini, saya sampaikan bagaimana kerja jurnalis yang sebenarnya,” kata Herik Kurniawan.
Menurutnya, ketidakpahaman masyarakat tentang cara kerja media massa, maka jumlah wartawan-wartawan gadungan itu semakin banyak karena menganggap menjadi wartawan adalah bisnis yang bagus.
“Karena itu, mereka yang merasa keberatan dengan ulah semua orang yang mengaku wartawan namun memeras tidak perlu ragu untuk melaporkan hal ini kepada petugas kepolisian,” katanya.
“Saya apresiasi kegiatan seminar yang dilakukan oleh IJTI Cimahi-Bandung Barat. Selain memberikan edukasi kepada para pendidik yang hadir, juga untuk menyamakan persepsi terkait bagaimana kerja jurnalistik,” sambungnya.
Menurutnya, keberadaan jurnalis profesional memberikan manfaat lebih besar, baik itu bagi masyarakat, pemerintah ataupun lembaga pendidik. Sebab, kerja jurnalis profesional akan melihat realita dan fakta saat bekerja.
“Melalui karya-karya mereka saya yakin masyarakat ataupun lembaga pendidikan akan terbantu,” jelasnya.
Karena itu, Herik meminta kegiatan serupa terus berlanjut. “Karena saya yakin mungkin di Bandung Barat dan Cimahi akan ada para pendidik yang dikeluhkan oleh oknum tersebut. Tapi lihatlah di luar sana pasti mereka juga merasakan hal yang sama,” tambahnya.
“Maka kami IJTI, AJI, dan PWI mari kita membuat gerbrakan mulai dari kecamatan menggandeng TNI/Polri berkerja bersama-sama memberikan kenyamanan bagi masyrakat dan para guru,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Ketua IJTI Korda Cimahi-Bandung Barat Edwan Hadnansyah mengatakan pihaknya sangat fokus pada jurnalisme positif di tengah banjir informasi yang melanda masyarakat.
"Salah satu cara memajukan SDM berkualitas adalah melalui dunia pendidikan, dan jurnalis harus berperan aktif dalam hal ini," ujar Edwan.
Seminar kebangsaan ini, lanjutnya, diikuti berbagai kalangan termasuk guru, kepala sekolah, mahasiswa, karang taruna, masyarakat umum, dan jurnalis dari Cimahi dan KBB.
Edwan juga berharap kolaborasi antara jurnalis, pemerintah, dan kepolisian dapat memperkuat upaya memajukan pendidikan, sekaligus menangkal penyebaran hoaks dan fitnah.
"Kita semua punya kewajiban menciptakan anak-anak menuju Indonesia Emas 2045," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

