Indonesia Jajaki Investasi Minyak di Guyana dan Suriname Perkuat Ketahanan Energi
Indonesia melalui Pertamina menjajaki investasi sektor hulu migas di Guyana dan Suriname untuk diversifikasi sumber minyak dan memperkuat ketahanan energi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan Indonesia tengah mengkaji peluang Investasi di sektor hulu Minyak dan gas bumi (Migas) di Amerika Latin, khususnya Guyana dan Suriname.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia melakukan diversifikasi sumber Minyak sekaligus memperkuat Ketahanan Energi nasional di tengah situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI Grata Endah Werdaningtyas mengatakan, PT Pertamina (Persero) telah melakukan penjajakan kerja sama eksplorasi dan Investasi di sektor hulu Migas di Guyana dan Suriname.
“Pertamina sudah melakukan penjajakan untuk kerja sama eksplorasi di kawasan ini serta Investasi di sektor hulu Migas Guyana dan Suriname,” kata Grata dalam temu media di Jakarta, Senin.
Menurut Grata, cadangan Minyak lepas pantai di Guyana dan Suriname memiliki prospek yang menjanjikan. Tingkat produksi Minyak dari kawasan tersebut diproyeksikan dapat mencapai sekitar 200 ribu barel per hari pada 2028.
Diversifikasi sumber Minyak ke Amerika Latin dinilai dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pasokan tertentu.
Langkah tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk situasi di Selat Hormuz yang berkaitan dengan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indonesia Tak Hanya Beli Minyak
Grata menegaskan, apabila Indonesia nantinya memutuskan mengambil pasokan Minyak dari Guyana dan Suriname, kerja sama yang dibangun tidak sebatas pembelian Minyak.
Indonesia juga diarahkan untuk memiliki Investasi di sumber Minyak tersebut sehingga pasokan dapat lebih terjamin.
“Investasi berarti ada kepemilikan kita di sumber tersebut, sehingga suplai dari sana akan semakin pasti bagi kita,” ujar Grata.
“Dengan langkah tersebut, kita jadi pemain yang lebih cerdas di bidang Migas,” tambahnya.
Menurut dia, pendekatan Investasi tersebut akan memberikan posisi yang lebih strategis bagi Indonesia dalam mengamankan sumber energi dari luar negeri.
Perdagangan Indonesia-Amerika Latin Terus Menguat
Penjajakan Investasi Migas di Guyana dan Suriname berlangsung di tengah meningkatnya kinerja perdagangan Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Berdasarkan data Kemlu RI, nilai ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Latin dan Karibia pada 2025 mencapai 7,6 miliar dolar AS. Sementara itu, nilai impor Indonesia dari kawasan tersebut pada tahun yang sama tercatat sebesar 8,5 miliar dolar AS.
Meski demikian, porsi perdagangan dan Investasi Indonesia di Amerika Latin dan Karibia masih relatif kecil. Kontribusinya baru sekitar 3 persen terhadap total perdagangan global Indonesia.
Kemlu menilai angka tersebut belum mencerminkan besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Untuk meningkatkan keterlibatan dunia usaha Indonesia di kawasan tersebut, Kemlu RI kembali mengirim misi bisnis Indonesia ke Amerika Latin dan Karibia atau INA-LAC.
Tahun ini, kegiatan INA-LAC akan dipusatkan di Chile pada 1–2 Oktober 2026.
Langkah tersebut diharapkan semakin membuka peluang kerja sama perdagangan dan Investasi Indonesia, termasuk di sektor strategis seperti energi, dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia.***
Editor : JakaPermana

