Ini Alasan BEM Unikom Tak Gelar Aksi di Jalanan

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Nur Ikhsan mengungkapkan pihaknya memilih menahan diri dan tidak turun aksi di Kota Bandung. Mereka lebih memilih menggelar diskusi untuk membahas isu-isu terkini dan mencari solusi atas permasalah tersebut.

Ini Alasan BEM Unikom Tak Gelar Aksi di Jalanan
(Foto: Ridwan Abdul Malik)

INILAH, Bandung - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Nur Ikhsan mengungkapkan pihaknya memilih menahan diri dan tidak turun aksi di Kota Bandung. Mereka lebih memilih menggelar diskusi untuk membahas isu-isu terkini dan mencari solusi atas permasalah tersebut.

Menurutnya, BEM Unikom akan lebih berhati-hati dalam aksi turun ke jalan, termasuk menyikapi seruan aksi tanggal 20 Oktober 2019 mendatang. Pasalnya, sebelum melakukan aksi pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu terkait isu yang akan diusung dalam aksi demonstrasi.

"Kita akan lebih mempertimbangkan dulu. Isu apa yang akan diusung. Kalau harus turun ke jalan, subtansi nya harus jelas. Untuk yang sekarang (aksi depan gedung sate) kami tidak paham subtansinya, karena memang tidak turut dalam konsolidasi tadi malam," ucap Ikhsan dalam kegiatan diskusi publik di Unikom, Jalan Dipatikukur, Kota Bandung, Kamis (17/10/2019).

Saat disinggung aksi mahasiswa saat ini pecah. Nur Ikhsan membantah hal tersebut. Pasalnya, pihaknya masih berada di garis depan dalam membela kepentingan rakyat. Namun, tidak dengan cara melakukan aksi demonstrasi.

"Ga sepakat karena yang mahasiswa harus bersatu saat ada dirasakan salah di negara ini. Aksi tapi tetap atas kajian yang kami pahami," ujarnya.

Ditemui ditempat yang sama, satu diantara mahasiswa STHB Kota Bandung, Purnama Alam menuturkan, sudah seyogyanya mahasiswa sebelum melakukan aksi demonstrasi menggelar dulu kajian atau diskusi ilmiah terkait permasalahan yang akan dibawa.

Pasalnya, saat ini, lanjut Purnama, tidak sedikit mahasiswa yang tidak memahami subtansi daripada isu yang mereka suarakan. Bahkan, ada mahasiswa baru yang tidak mengerti apapun dibawa serta untuk melakukan aksi demonstrasi.

"Mungkin emang mayoritas yang turun ke jalan, dan suarakan aksi, mereka dari kalangan sosilologis yang berdampak pada begitu aturan ditetapkan, berdampak pada hak-hak mereka yanh asalnya tidak diatur jadi diatur," tuturnya.

"Cuma, kita tidak bisa salahkan ya, pasto ada kekurangan, kalau ada kekurangan paham secara substansi, saya bisa katakan ya, karena mereka bukan dari akademisi hukum," pungkas Purnama. (Ridwan Abdul Malik)

 


Editor : Bsafaat