Ini Awal Mula dan Alasan Situs Gunung Padang Sempat Disebut Piramida
Situs Gunung Padang pernah memicu perdebatan panjang setelah sempat disebut-sebut sebagai piramida kuno, bahkan diklaim sebagai yang tertua di dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan salah satu situs megalitikum paling terkenal di Indonesia.
Akan tetapi, di balik ketenarannya sebagai punden berundak, situs ini pernah memicu perdebatan panjang setelah sempat disebut-sebut sebagai piramida kuno, bahkan diklaim sebagai yang tertua di dunia.
Lantas, bagaimana awal mula anggapan tersebut muncul?
1. Kemiripan Bentuk Jadi Pemicu Utama
Anggapan Gunung Padang sebagai piramida berawal dari bentuk fisiknya yang menyerupai bangunan bertingkat. Jika dilihat dari kejauhan, struktur Gunung Padang tampak mengerucut ke atas dengan susunan teras yang berlapis-lapis. Visual ini memunculkan kesan serupa dengan piramida di Mesir maupun Amerika Tengah, meski dibangun dengan material dan teknik berbeda.
Bentuk berundak inilah yang kemudian memancing interpretasi bahwa Gunung Padang bukan sekadar bukit alami atau punden berundak biasa, melainkan bangunan monumental yang disengaja dengan desain tertentu.
2. Penelitian Geofisika Picu Spekulasi Struktur Besar di Bawah Tanah
Spekulasi semakin berkembang ketika pada awal 2010-an dilakukan penelitian geofisika dan pengeboran di kawasan Gunung Padang. Dari hasil survei tersebut, muncul dugaan adanya lapisan-lapisan batuan di bawah permukaan yang dianggap sebagai struktur buatan manusia.
Temuan ini memunculkan narasi bahwa Gunung Padang bukan hanya tersusun di bagian permukaan, tetapi memiliki struktur besar yang tertimbun di dalam tanah, mirip piramida berlapis. Dari sinilah istilah “piramida Gunung Padang” mulai populer di ruang publik.
3. Klaim Usia Sangat Tua Memperkuat Narasi piramida
Alasan lain yang membuat teori piramida semakin menarik perhatian adalah klaim usia situs yang sangat tua. Beberapa interpretasi hasil penanggalan radiokarbon menyebutkan usia lapisan tertentu mencapai puluhan ribu tahun.
Jika klaim ini benar, maka Gunung Padang dianggap jauh lebih tua dibanding piramida Mesir yang berusia sekitar 4.500 tahun. Klaim usia ekstrem tersebut mendorong asumsi bahwa peradaban maju telah ada jauh sebelum sejarah yang selama ini dikenal, sehingga Gunung Padang disebut-sebut sebagai piramida tertua di dunia.
Pemugaran Tegaskan Gunung Padang Bukan piramida
Seiring berjalannya waktu, kajian ilmiah yang lebih mendalam pun dilakukan. Terbaru, pemugaran situs Gunung Padang yang berlangsung sejak Desember 2025 kembali menegaskan bahwa situs tersebut bukanlah piramida.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menjelaskan bahwa pemugaran dilakukan untuk menata ulang struktur situs agar bentuk aslinya semakin terbaca, bukan untuk mengubah karakter bangunan.
“Pemugaran itu bukan membangun ulang, tapi menata. Batu-batu yang posisinya tidak rapi diluruskan agar struktur aslinya bisa terbaca dengan baik,” ujar Iendra, dikutip Senin, 5 Januari 2025.
Menurutnya, kajian arkeologis dan proses ekskavasi di Gunung Padang sejatinya telah dilakukan sejak lama. Dari hasil penggalian sementara, tidak ditemukan struktur batuan yang mengarah pada bangunan piramida.
“Batunya tidak sampai ke dalam. Setelah diekskavasi, paling dalam hanya sekitar 1 sampai 1,5 meter. Jadi tidak ditemukan struktur piramida,” jelasnya.
Gunung Padang Dipastikan Punden Berundak
Hasil ekskavasi justru memperkuat kesimpulan bahwa situs Gunung Padang merupakan punden berundak, yaitu bangunan megalitikum yang lazim digunakan masyarakat kuno Nusantara untuk aktivitas ritual dan kepercayaan.
“Yang ada itu undak berundak. Batu di bagian dalam diperkirakan sebagai pondasi, lalu bagian atasnya ditata. Bentuknya tidak akan banyak berubah, hanya semakin rapi dan terbaca,” paparnya.
Punden berundak sendiri merupakan ciri khas kebudayaan megalitikum di Indonesia, yang banyak ditemukan di wilayah Jawa dan Sumatra. Struktur ini biasanya digunakan sebagai tempat pemujaan atau ritual, bukan sebagai makam raja atau pusat pemerintahan.
Menunggu Kajian Final Kementerian Kebudayaan
Iendra menegaskan bahwa narasi Gunung Padang sebagai piramida tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat jika merujuk pada hasil ekskavasi terbaru. Meski begitu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap menunggu hasil akhir kajian yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan.
“Ini masih penilaian awal. Tapi dari kementerian sudah menyampaikan bahwa tema besar situs ini adalah ritual, bukan pusat kerajaan,” tuturnya.
Editor : Firda Rachmawati

