Ini Curhatan Mahasiswa dan Dosen USB YPKP Terkait Covid-19
Sejumlah mahasiswa Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung mencurahkan hatinya terkait pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Ada beberapa poin yang ingin disampaikan mahasiswa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Sejumlah mahasiswa Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung mencurahkan hatinya terkait pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Ada beberapa poin yang ingin disampaikan mahasiswa.
Seperti, Umiliya Saadah. Mahasiswi USB YPKP ini, wabah Covid-19 sangat mengganggu kehidupan manusia, salah satunya pereknomian.
"Sementara semua kegiatan, sebaiknya di berhentikan. Harusnya ketika di berlakukan, pemerintah memberi keringan untuk kalangan bawah dari segi perekonomiannya itu," ujar Umiliya, Rabu (25/3/2020).
Mahasiswa lainnya, Hadi Muliananda menambahkan, setelah virus Covid-19 tersebar luas ke berbagai wilayah Indonesia, hal ini sangat berdampak buruk terhadap berbagai hal terutama seperti, kegiatan Ekonomi, Sosial, Ibadah Keagamaan, Transportasi, Pembelajaran, dan lainnya.
"Hal ini tentu menjadi tantang kepada seluruh komponen-komponen bangsa agar berjuang bersama saling bergotong-royong bahu membahu, melawan, dan mengatasi untuk menormalkan kembali kegiatan kehidupan berbangsa dan bernegara agar kembali menjadi seperi seharuanya," imbuh Hadi.
Mahasiswi USB YPKP Dea Andala Putri mengatakan wabah virus Covid-19 ini semua pedagang menjadi sepi pembeli dan pendapatan menurun. Dari hasil panen jadi terganggu gara-gara virus Corona.
"Keinginan manusia yang sedang sakit seperti masker, udah tidak ada karena udah langka dan yang tidak sakit membeli masker pula sampai diborong. Dikarenakan panik gara-gara corona," imbuhnya.
Sementara Mahasiswi USB YPKP Muhammad Ihsan menambahkan kejadian apapun itu sifatnya netral, yang membedakan adalah sudut pandangnya apakah positif atau negatif. Jika berbicara dari sudut pandang perputaran ekonomi.
"Menurut saya adalah merugikan (banyak usaha yang gulung tikar karena daya beli masyarakat menurun). Kebanyakan pengusaha dan pedagang mengatakan omzet mereka turun hampir 80% dalam sehari," ucap Ihsan.
Kendati begitu, jika dilihat dari sudut pandang lain ada hal positifnya. Menurut Ihsan, #stayathome merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul dan bercengkrama lagi dengan keluarga (karena selama ini sibuk dengan kegiatan masing-masing). Misalnya, anak-anak muda bisa membaca buku, belajar mengembangkan skill dan potensi baru, mulai mendekatkan diri kepada sang Pencipta yang mungkin selama ini terhalang sama sibuknya aktivitas sehari-hari.
"Menurut saya kejadian apapun ada positif dan negatifnya, tergantung sudut pandang mana yang akan jadi fokus kita. Tanpa mengesampingkan kerugian yang terjadi, saya memilih fokus kepada hal-hal positif yang dapat kita lakukan," papar Ihsan.
Mahasiswi lainnya Hetin Supriatin. Menurut dia, dengan adanya wabah virus Covid-19 di berbagai penjuru dunia sangat menghambat aktivitas para manusia dari mulai pekerjaan, pendidikan, perekonomian, peribadahan, dan hal lainnya. Khususnya di Indonesia saat ini semakin meningkat data yang terkena virus Covid-19 ini.
"Maka dari itu selagi pemerintah menetapkan program Social Distancing, masyarakat harap patuhi aturan tersebut agar memudahkan kita semua untuk memotong tali penyebaran virus Covid-19 ini agar tidak semakin menyebar luas ke masyarakat lainnya," ucap Hetin.
Mahasiswa lainnya, Almira Putri selain diadakan social distancing, hal itu juga harus memperhatikan tenaga medis yang berada di garda paling depan. Karena kematian untuk tenaga medis cukup tinggi, dari segi fasilitas untuk tim medis sendiri kurang , belum lagi jumlah pasien yang meninggal dunia lebih banyak dibanding dengan yang sembuh.
"Menurut saya pemerintah belum berupaya maksimal dalam upaya Covid-19 ini dibandingkan dengan negara lain. Diperlukan upaya lebih bisa dilakukan oleh pemerintah itu sendiri," ucapnya.
Mahasiswa lainnya, Noberta Neti Farida menambahkan dampak covid-19 ini adalah sangat mengganggu aktivitas masyarakat seperti bekerja, sekolah dan lain sebagainya. Tetapi bukan hanya itu saja adanya wabah covid-19 ini juga dapat menimbulkan rasa panik atau takut yang berlebihan yang dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang harusnya bekerja guna untuk memenuhi kebutuhan mereka jadi terhambat karena adanya wabah ini.
"Karena adanya rasa takut dan panik berlebihan tadi akhirnya memicu masyarakat untuk membeli atau memborong barang yang berlebihan, contohnya seperti masker. Akibatnya terjadilah kelangan dan masyarakat yang seharusnya sangat membutuhkan barang tersebut jadi tidak kebagian," tambah Noberta.
Sementara itu, Wakil Dekan Fisip USB YPKP Witri Cahyati mengatakan dalam menghadapi musibah yang saat ini sedang melanda maka sikap USB YPKP Bandung adalah dengan mengikuti apa yang di sarankan oleh pemerintah yaitu dengan melakukan social distancing, jaga kesehatan, dan tetap tinggal di rumah saja serta jangan lupa banyak berdoa tan tawakal kepada Allah SWT.
"Sebagai dosen saya tetap melaksanakan tugas dengan memberikan materi perkuliahan via online serta tetap melayani bimbingan skripsi juga via online," ujar Witri.
Dia mengatakan, dengan adanya wabah covid-19, hal ini dilakukan tentu saja supaya para mahasiswa juga tetap diam di rumah masing-masing, walaupun ada keluhan dari Mahasiswa diantaranya bosan di rumah.
"Kangen kuliah dan lainnya di situlah tugas saya juga sebagainya dosen untuk tetap memotivasi para mahasiswanya agar tetap semangat belajar dan produktif," tutur Witri.
Di berharap, semoga semua warga negara Indonesia saling bahu membahu untuk bersama sama menyelamatkan bangsa ini dengan mengikuti semua yang dianjurkan oleh pemerintah.
"Semoga wabah ini segera pulih agar semunya bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala," tambah Witri. (Okky Adiana)
Editor : Doni Ramdhani


