Ini Kado Idaman Para Guru dari Pemerintah

INILAH, Cibinong - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) berharap pemerintah membenahi masalah-masalah guru yang selama ini selalu hadir.

Ini Kado Idaman Para Guru dari Pemerintah
Presiden RI Joko Widodo saat menghadiri HUT PGRI di Stadion Pakansari
INILAH, Cibinong - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) berharap pemerintah membenahi masalah-masalah guru yang selama ini selalu hadir.

Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, sampai saat ini para guru yang bertugas di lapangan masih merasakan bagaimana berbelit-belitnya administrasi. Termasuk rumitnya penyaluran tunjangan profesi guru (TPG) dan penyelesaian masalah guru honorer.

Unifah berharap, karena tidak semua guru honorer mendapatkan kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena terkendala masalah usia. Dia berharap pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

"Semoga menjadi kado Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun 2018. Selain itu, kami menyadari masih banyak agenda perjuangan guru, baik negeri, swasta, tetap, dan tidak tetap, yang harus secara konsisten diperjuangkan PGRI,” kata Unifah dalam pidato sambutan Hari Guru Nasional ke-79 di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (01/12).

Dia melanjutkan, PGRI mendorong pemerintah untuk mengembalikan mata pelajaran informatika sebagai pengganti mata pelajaran TIK yang sempat terhapus.

Masalah mata pelajaran bahasa asing, desentralisasi urusan kenaikan pangkat ke daerah, dan penyelesaian beragam persoalan yang dirasakan guru, akan terus diperjuangkan PGRI agar guru-guru dapat berdaulat dan bermartabat, serta fokus mengajar.

Dalam era revolusi 4.0 ini, lanjutnya, sistem pendidikan nasional dihadapkan pada tantangan yang sangat kompleks, tetapi menarik. Oleh karena itu, PGRI sebagai organisasi profesi juga ditantang untuk mampu menggerakkan guru, pendidik, dan tenaga kependidikan, untuk memberikan andil dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

PGRI juga terpanggil melahirkan pemikiran transformatif dalam pengembangan kebijakan pemerintah, pengelolaan program pembangunan di pusat dan daerah, serta melahirkan berbagai gagasan dan tindakan inovatif sesuai tantangan abad ke-21.

Terkait hal itu, ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian. Pertama, inovasi pembelajaran dalam jaringan (daring) yang dirancang terbuka, saling berbagi, terhubung atau berjejaring satu sama lain. Dengan prinsip ini, setiap orang akan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Kedua, mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk melakukan pekerjaan spesifik dalam membantu tugas-tugas keseharian manusia.

“Di bidang pendidikan, artificial intelligence membantu pembelajaran secara individual, yang mampu melakukan pencarian informasi dan menyajikannya dengan cepat, akurat, dan interaktif. Perkembangan teknologi mengubah secara fundamental kegiatan belajar-mengajar. Ruang kelas mengalami evolusi ke arah pola pembelajaran digital yang menciptakan pembelajaran lebih kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh,” ujarnya.

Ketiga, guru memiliki peran penting dalam kontekstualisasi informasi serta membimbing peserta didik dalam diskusi daring. Pembelajaran multi-stimulan akan lebih menyenangkan dan menarik.

“Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, peran guru berubah dari semula menjadi pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, inspirator, serta pengembang imajinasi, kreativitas, nilai-nilai karakter, team work, dan empati sosial, karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin,” ujarnya. (Daulat)


Editor : inilahkoran