Invasi Rusia ke Ukraina Diyakini Akademisi Unpad akan Berakhir di Meja Perundingan

Invasi Rusia ke Ukraina mengguncang perilaku internasional. Namun, akademisi Unpad meyakini konflik itu akan berakhir di meja perundingan.

Invasi Rusia ke Ukraina Diyakini Akademisi Unpad akan Berakhir di Meja Perundingan
Invasi Rusia ke Ukraina diyakini akademisi Unpad akan berakhir di meja perundingan.

INILAHKORAN, Bandung - Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 mengguncang perilaku internasional. Namun, akademisi Unpad meyakini konflik itu akan berakhir di meja perundingan.

Supian, akademisi Unpad dari Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Sastra Rusia menyebutkan Invasi Rusia ke Ukraina itu merupakan konflik 'antarsaudara kandung'. Kedua negara itu berasal dari satu rumpun budaya yang sama, Slavia Timur.

Dari perjalanan historis, Supian menilai Rusia dan Ukraina itu 'saudara kandung' yang tidak bisa dipisahkan. Konflik berupa Invasi Rusia ke Ukraina tersebut diyakini akademisi Unpad itu terjadi akibat soal politik. Berdasarkan hal itui, dia pun meyakini konflik tersebut bisa selesai di meja perundingan.

Baca Juga: Bahas Perang Rusia-Ukraina, Ridwan Kamil: Dunia Sedang Tidak Baik-baik Saja

“Saya yakin konflik ini akan berakhir di meja perundingan,” kata Supian, Minggu 27 Februari 2022.

Terlebih, dia melihat sejarah membuktikan bagaimana diplomat Uni Soviet mampu menghindarkan konflik perang nuklir pada 1962 silam.

“Ada satu moto yang dipegang teguh para diplomat Rusia-Ukraina hingga saat ini, yaitu ‘lebih baik 10 tahun berunding daripada 1 hari berperang’. Slogan ini jadi kurikulum wajib calon diplomat,” kata Supian.

Moto tersebut lahir dari Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Gromyko. Ia berhasil menjadi “pahlawan” yang mampu menghindarkan konflik perang nuklir di Kuba melalui meja perundingan.

Baca Juga: Pasukan Rusia Makin ganas, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy Minta Komunitas Dunia Tak Hanya Bicara!

Menyelisik profil Andrei, sang pahlawan Uni Soviet, ternyata menarik. Supian menemukan, Andrei Gromyko berdarah Ukraina. Hal ini terlihat dari nama belakangnya yang merupakan marga Ukraina. Meski berasal dari Ukraina, Andrei kemudian besar di Moskow sampai wafat.

Supian yang pernah tinggal selama 7 tahun di Kota Moskow dan Voronezh, perbatasan Rusia-Ukraina menuturkan, Rusia dan Ukraina layaknya seperti Indonesia dan Malaysia. Karena itu, secara karakter masyarakat dan bahasa, Rusia-Ukraina tidak jauh berbeda.

Dari pengalamannya ia menemukan banyak warga negara Ukraina yang sehari-hari sekolah ataupun bekerja di Rusia. Dua di antaranya berasal dari Provinsi Donestk dan Luhansk, wilayah di Ukraina yang akhirnya diakui kedaulatannya oleh Rusia. Setiap akhir pekan, mereka mudik ke Ukraina.

“Secara kekerabatan masyarakat, sebenarnya tidak ada masalah. Sampai sekarang pun masyarakat Rusia dan Ukraina biasa saja,” tuturnya.

Baca Juga: Imbas Invasi Rusia ke Ukraina, Venue Final Liga Champions Dipindahkan ke Paris

Kendati serumpun, budaya ternyata menjadi akar pemicu perang Rusia-Ukraina. Supian menjelaskan, larangan penggunaan bahasa Rusia di sekolah Donestk dan Luhansk memicu lahirnya konflik tersebut. Padahal, bahasa Rusia menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan di dua provinsi tersebut.

Faktor ekonomi memperburuk masalah tersebut. Sebagai negara bekas pecahan Uni Soviet, tingkat ekonomi Ukraina ternyata tidak semaju Rusia yang notabene memegang saham terbesar dari aset Uni Soviet.

Karena itu, Ukraina membuka peluang investasi yang besar dari luar agar bisa mengatasi ketertinggalan di bidang ekonomi.

Baca Juga: Rusia Lancarkan Serangan ke Ukraina, NATO Akan Perkuat Pasukan

“Sedikit demi sedikit kemudian semua ingin seperti Amerika, kemudian masuk juga invasi Eropa Barat ke Ukraina,” kata Supian.

Alumnus Pushkin State RL Institute Rusia ini mengatakan, secara budaya, rumpun Slavia Timur sulit berbaur dengan rumpun Indo-Jerman Barat. Ada banyak perbedaan yang tampak dari budaya Slavia dengan budaya negara-negara Barat. Hal ini kemudian menuai kritik keras dari Rusia.

“Jadi konflik ini murni lebih ke politik. Akar masyarakat Rusia dan Ukraina itu sangat kuat, dan mereka sama-sama menganut Ortodoks,” tambahnya. (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran