Isi Kuliah Umum di Unjani, Luhut: Indonesia Harus Kompak Hadapi Ketidakpastian Global
Luhut Binsar Pandjaitan menyebut dunia sedang menghadapi tingkat ketidakpastian tertinggi sepanjang sejarah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut dunia sedang menghadapi tingkat ketidakpastian tertinggi sepanjang sejarah.
Hal itu disampaikan Luhut saat menjadi pembicara kuliah umum di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) yang mengusung tema "Optimalisasi Peran dan Karakter Mahasiswa dalam Pemanfaatan Bonus Demografi Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045", Rabu 11 Maret 2026.
"Ekonomi dunia dihadapkan pada ketidakpastian yang sangat tinggi. Apa yang saya sajikan merupakan data yang sudah kami olah di DEN, bukan berdasarkan suka tidak suka atau informasi dari sosial media," tegas Luhut.
Luhut menjelaskan, Indonesia terlibat langsung dalam perundingan tarif yang diperkenalkan Amerika Serikat dan telah melakukan komunikasi berkali-kali dengan Menteri Perdagangan Amerika Serikat.
Menurutnya, klaim kebijakan tersebut merugikan Indonesia tidak sepenuhnya benar lantaran pihaknya telah melakukan langkah yang tepat.
"Kita sama-sama untung dan tidak bodoh-bodoh amat. Kalian sebagai mahasiswa jangan terlalu cepat terpengaruh dengan konten di sosial media," tuturnya.
Sementara terkait kebijakan lingkungan, Luhut mengakui dirinya pernah berselisih pandang dengan Sekretaris Negara Amerika Serikat untuk Urusan Iklim John Kerry yang dianggap mendikte Indonesia.
Pria berusia 78 tahun itu kemudian menyampaikan pesan dari cucunya yang menyelesaikan studi di Tsinghua University dan kini bekerja di Asia Society New York.
"Pesan cucuku sangat sederhana, 'Opung, jangan pernah membuat kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan generasi saya.' Saya bilang kepada John Kerry bahwa saya punya tanggung jawab terhadap generasi mendatang Indonesia," katanya.
Tak cuma itu, Luhut juga menyebutkan adanya perubahan rantai pasokan global, perlambatan ekonomi China, serta konflik di berbagai belahan dunia seperti Perang Ukraina-Rusia dan ketegangan di Timur Tengah menjadi bagian dari ketidakpastian yang harus dihadapi.
Kendati demikian, ia menegaskan, kerja sama dengan China selama 10 tahun terakhir telah membantu Indonesia melakukan hilirisasi sehingga ekspor negara ini mengalami surplus selama 63 bulan berturut-turut.
"Kita harus percaya diri dan tidak bisa diatur-atur oleh orang asing. Gunakanlah berbagai sumber informasi seperti Google atau AI untuk mendapatkan gambaran yang akurat," ujarnya.
Luhut juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi AI, yang menurutnya bergantung pada kemampuan di bidang matematika dan fisika.
Sebagai Ketua Komite Teknologi Pemerintah, Luhut mengungkapkan, pemerintah sedang mengintegrasikan AI ke dalam sistem teknologi pemerintahan untuk membersihkan dan memperbarui data secara otomatis.
"Kita juga sedang membangun ekosistem untuk mengurangi korupsi, seperti melalui E-Katalog yang kini mencakup 95 persen pengadaan pemerintah," ujarnya.
"Nantinya dengan dukungan AI, proses akan lebih transparan karena berinteraksi dengan mesin bukan manusia," jelasnya.
Sementara itu, Rektor Unjani, Agus Subagyo, menjelaskan bahwa kegiatan kuliah umum ini bertujuan untuk menguatkan karakter mahasiswa dalam rangka Smart Military University.
Menurutnya, nilai-nilai kepemimpinan yang dimiliki Luhut sangat patut diteladani, terutama setelah kontribusinya dalam penanganan pandemi Covid-19 dan inisiasi program Citarum Harum.
"Dengan bonus demografi yang akan datang pada 2030-2040, kami berharap mahasiswa bisa menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045," kata Agus. ***
Editor : Ahmad Sayuti

