INILAH, Bandung - Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menandatangani nota kesepahaman dengan Chaintope Inc. Kerja sama yang dijalin itu mencakup riset teknologi blockchain dengan perusahaan asal Jepang.
Koordinator Riset dan Kerjasama FTI ITB Iwan Prasetiyo mengatakan, dengan adanya memorandum of understanding (MoU) ini, dalam waktu dekat pihaknya akan mengadakan join workshop terkait pengembangan platform teknologi blockchain."Kesepahaman ini sebuah inisiasi dan strategi responsif kita terhadap platform teknologi baru blockchain. Karena, pada dasarnya kita tidak bisa terhindar dari perkembangan kemajuan teknologi," kata Iwan usai seremoni penandatanganan MoU di kampus FTI ITB, Senin (19/11/2018).
Menurutnya, setelah join workshop pihaknya pun akan menggelar join research. Selain melibatkan resources yang dimiliki FTI, riset gabungan itu pun rencananya akan melibatkan kalangan industri. Keterlibatan itu diharapkan mampu mengembangkan dan menghasilkan output berupa aplikasi yang relatif spesifik.
Iwan menyebutkan, pengembangan teknologi blockchain tersebut awalnya akan disesuaikan dengan bidang yang dikembangkan FTI ITB. Seperti bidang energi, supply chain, logistik, dan smart grid. Ke depan, output aplikasi yang dihasilkan nantinya bisa dimanfaatkan dunia industri.Kesepahaman yang dijalin tersebut diakuinya berlaku selama dua-tiga tahun ke depan. Meski demikian, dampaknya akan dirasakan pada lima-sepuluh tahun berikutnya.
Secara umum, pihaknya sejauh ini masih meraba-raba teknologi blockchain ini. Namun, dia meyakini adanya teknologi tersebut serupa dengan perkembangan teknologi internet yang impact-nya relatif besar saat ini. Ini pun seiring dengan revolusi industri yang kini menginjak revolusi 4.0.
"Basically, teknologi blockchain ini berbeda dengan internet. Kalau internet itu datanya sentralistik, dengan blockchain itu datanya relatif desentralisasi. Selain itu, validasi datanya juga bisa lebih mudah," tutur Iwan.
CEO Chaintope Inc Hideki Shoda menjelaskan perusahaannnya bergerak di bidang fondasi dasar teknologi blockchain. Platform blockchain ini diakuinya merupakan teknologi yag mampu mengatasi permasalahan di internet. "Dua hal yang dibantu melalui teknologi blockchain ini yakni bisa memastikan setiap data yang mengalir di internet itu benar atau salah, bisa divalidasi. Kedua, ini juga mampu memberikan nilai tambah dari informasi yang ada di internet saat ini," ucapnya.
Dia mengaku, saat ini pola yang berkembang sekarang hanya perusahaan besar yang memberikan layanan itu. Dengan blockchain, nantinya perusahaan dengan skala kecil juga bisa memberikan layanan serupa.
Kesepahaman alih teknologi yang dijalin itu digunakan sebagai pemanfaatan teknologi blockchain. Kehadirannya diakui ada pada saat revolusi kedua setelah internet. Sebagai outputnya, penelitian bersama tersebut akan membuat model bisnis yang sama sekali belum ada saat ini.