INILAH, Bandung - Institut Teknologi (Bandung) kini mengembangkan teknologi nano memanfaatkan pasir, buah-buahan dan sumber daya alam lainnya. Guru Besar ITB Brian Yuliarto mengatakan, teknologi mutakhir itu salah satunya sebagai alat deteksi berbagai penyakit mematikan.
Menurutnya, sumber daya alam Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk inovasi teknologi nano itu jumlahnya relatif melimpah. Saat ini, dia mengembangkan teknologi nano untuk tiga bidang. Selain sensor kesehatan, inovai teknologi nano itu dapat diaplikasikan sebagai sensor lingkungan dan energi.
"Kita berharap kekayaan alam Indonesia ini menjadi kekuatan kita dalam bersaing dengan perkembangan teknologi dengan yang dilakukan di luar negeri," ujar Brian usai acara Orasi Ilmiah Guru Besar ITB, Sabtu (16/3/2019).
Dia menuturkan, untuk sensor kesehatan itu teknologi nano yang dikembangkan dapat mendeteksi penyakit berbahaya, seperti kanker dan diabetes. Dia berharap, lewat karyanya mampu menciptakan kemandirian pada sektor kesehatan di negeri ini.
Sebab, saat ini masyarakat masih ketergantungan produk luar negeri yang relatif lebih mahal. Dengan hadirnya teknologi ini, setidaknya akan meringankan masyarakat dalam mengakses kesehatan di kemudian hari.
"Nah kita coba mengembangkan, seperti sensor untuk deteksi kanker prostat. Itu kita ambil dari pasir dari Tulung Agung. Nah kita coba ektraksi pasirnya, kita buat menjadi sensor. Ternyata hasilnya tidak kalah dengan hasil hasil yang ada di luar negeri juga," jelas dia seraya menyebutkan saat ini fokusnya ke sensor kesehatan karena kebutuhannya sangat tinggi.
Potensi alam pun diaplikasikan pada teknologi nano sensor energi yang dia ciptakan. Yaitu, dengan memanfaatkan kulit buah-buahan yang mengadung antosianin maupun klorofi untuk mengembangkan solar sel.
"Itu kita jadikan dia sebagai bahan baku solar sel. Meskipun saat ini capaiannya masih belum siap untuk komersial. Tetapi perlu kita terus kembangan dan itu cukup potensial," kata Guru Besar Teknik Fisika ITB itu.
Solar sel diakuinya sebagai pilar utama untuk energi listrik masa depan. Sayangnya, pengembangan industri teknologi ini belum maksimal di Indonesia.
"Karenanya kita coba mengembangkan generasi tiga solar sel. Salah satunya solar sel berbasis dye sensitize," imbuhnya.
Di bidang lingkungan, teknologi nano yang dikembangkan salah satunya sensor deteksi gas berbahaya. Ini bisa diterapkan untuk mengantisipasi dampak polusi. Sensor itu pun bisa untuk mendeteksi kebocoran di industri.
Brian mengharapkan, teknologi nano di Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain. Namun, dia tak menampik tantangan dalam persaingan dengan negara lain itu terkait anggaran riset yang belum maksimal di negeri ini. Meski demikian, pihaknya telah mengembangkan laboratorium yang cukup baik. Sehingga, mampu meningkatkan produktivitas mahasiswa guna menciptakan inovasi.
Sebagai lembaga riset, pihaknya hanya sekadar membuat prototipe dari teknologi. Harapannya, prototipe inovasi tersebut bisa diproduksi secara masif dengan kolaborasi bersama industri. Selain itu, pihaknya menjalin kerja sama dengan peneliti dalam negeri dan kampus luar negeri untuk melakukan riset.
"Sinergitas antarkampus dan pemerintah pun menjadi hal yang penting dalam menelurkan inovasi. Kebersamaan inilah yang mungkin kita bisa jadikan kekuatan untuk bersaing melawan pengembangan teknologi di luar negeri yang jelas sangat maju," ujarnya.