Di Munas PPP, Ridwan Kamil Ingin Cara Kampanye Partai Islam Sesuai Zaman Now
Ridwan Kamil berharap cara-cara kampanye Partai Islam bisa mengikuti perkembangan zaman demi menarik simpati milenial.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Pada kesempatan tersebut Ridwan Kamil menyarankan agar para kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus inovatif dalam berkampanye.
"Saya itu mengamati dari dulu tahun 1955 sampe pemilu kemarin. Kenapa persentase partai Islam tak signifikan padahal umat islam 90 persen, tapi ketika nyoblos gak ke partai muslim," ujar Ridwan Kamil dalam keterangan resminya.
Menurut pemahamannya, cara partai persuadif politik harus sesuai dengan zaman. Menurutnya, ada jarak generasi yang harus dipahami para kader partai.
"Saya juga masih mencari kenapa, apakah partai islam kurang persuasif, saya hanya bisa menjawab yang saya pahami. Dalam teori generasi saya pakai jam tangan, anak saya gak punya jam tangan, itu contoh gap generasi. Ini saya pelajari, ada gap yang orangtua tak paham dengan cara konsituen generasi sekarang," tuturnya.
Saat ini, lanjut Emil -sapaan Ridwan Kamil-, masyarakat lebih melek teknologi dan mengkonsumsi segala macam informasi lewat internet termasuk sosial media.
"Nah jadi generasi Z ini tidak mengonsumsi PPP lewat baligo, tapi lewat hp. Jadi kalau kader PPP masih maen baligo itu ketinggalan zaman dan baligo itu mahal. Kalau ingin ppp bangkit investasikan ke cara generasi baru. Ubah cara dakwah politiknya, jauhi cara konvensional," tuturnya.
Emil juga menitipkan agar PPP berinvestasi pada individu terbaik jika ingin menjaga persaingan dikancah politik nasional.
"PPP harus berinvestasi pada individu terbaik yang paham zaman sudah berubah dan yang paham perubahan itu untuk kemaslahatan umat," tuturnya.
Dia berharap PPP menjadi agen dalam menjaga kondusivitas demokrasi tanah air. Sebab, kata dia, masalah utama bangsa Indonesia saat ini adalah mudah bertengkar.
"Apa masalah Indonesia hari ini, adalah mudah bertengkar. Semua negara maju sudah selesai dengan pertengkarannya. Nah kita, kapan bisa ngomongin roket ke bulan. Maka tugas partai mendidik demokrasi kepada masyarakat. Kedua pelayanan publik, jangan baiknya lima tahun sekali. Ketiga, merebut kekuasaan, ini yang paling ramai. Mudah-mudahan tiga fungsi partai seimbang," jelasnya.
Editor : inilahkoran


