Jadi Ajang Silaturahmi Saat Lebaran, Warga Garut Kembali Gelar Tradisi Ngapungkeun Balon
Setelah vakum akibat pandemi Covid-19 tradisi Ngapungkeun Balon saat Lebaran kembali digelar warga Garut sebagai ajang silaurahmi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Garut - Tradisi Ngapungkeun Balon kembali digelar warga Garut untuk memeriahkan perayaan Lebaran 2022 atau Lebaran Idul Fitri 1432 Hijriyah.
Tradisi Ngapungkeun Balon atau menerbangkan balon berukuran besar digelar di lapangan terbuka Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin 2 Mei 2022.
Salah seorang pemuda perwakilan penyelenggara tradisi Ngapungkeun Balon Dwi Azhar Ramdan mengatakan pada momentum ajang silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah menerbangkan empat balon dengan diameter sekitar 10 meter dan tinggi sekitar 6 meter.
Baca Juga: Asyiknya Menikmati Mudik Lebaran di Jalur Wisata Kabupaten Garut
"Semuanya ada empat titik, jadi tadi ada empat yang sudah terbang," kata Dwi.
Ia menuturkan tradisi yang sudah berjalan 20 tahun itu merupakan wujud kegembiraan masyarakat yang diselenggarakan di sejumlah tempat setelah menunaikan Salat Id.
Masyarakat setempat maupun warga luar kota yang mudik ke Garut, kata dia, menyambut antusias kegiatan menerbangkan balon di hari pertama Lebaran itu.
"Antusias warga alhamdulillah ramai kang, menjadi suguhan tontonan juga buat tamu yang datang ke Panawuan," katanya.
Baca Juga: Cek Jadwal SIM Keliling Garut Sabtu 30 April 2022
Dwi menyampaikan pembuatan balon tersebut dilakukan oleh kalangan pemuda, anak-anak Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Panawuan, serta masyarakat umum yang dilakukan secara gotong royong selama beberapa hari sebelum Lebaran.
Dalam kegiatan tahun ini, kata dia, warga Panawuan membuat 10 balon, setiap satu balonnya menghabiskan dana sekitar Rp1 juta yang diterbangkan secara bertahap tergantung kondisi angin di lapangan.
"Kalau semuanya se-Panawuan kurang lebih 10 balon, hari ini baru sebagian yang diterbangkan karena kendala angin," katanya.
Baca Juga: Innalillahi....Sudah 1.274 Orang Warga Kabupaten Garut Meninggal Dunia, Ini Pemicunya
Ia menyampaikan tradisi tahunan itu tidak hanya untuk hiburan, melainkan sebagai ajang silaturahmi masyarakat dengan berkumpul bersama saat Hari Raya Idul Fitri.
Balon tersebut, kata dia, dibuat dari kertas minyak yang direkatkan menggunakan lem, kemudian diterbangkan dengan tenaga angin dari tungku api di bawahnya.
"Balon ini diterbangkan, dilepas bebas saja," katanya. (ant)
Editor : inilahkoran

