Jadi Pertanyaan Warga, Keberadaan Interchange Walini di Cikalongwetan Tak Kunjung Dibangun Sejak Bupati Bandung Barat Pertama

Rencana pembukaan interchange Walini di Kecamatan Cikalongwetan yang digagas Bupati Bandung Barat pertama, Abubakar nampaknya masih sekadar rencana.

Jadi Pertanyaan Warga, Keberadaan Interchange Walini di Cikalongwetan Tak Kunjung Dibangun Sejak Bupati Bandung Barat Pertama
ilustrasi

INILAHKORAN, Ngamprah - Rencana pembukaan interchange Walini di Kecamatan Cikalongwetan yang digagas Bupati Bandung Barat pertama, Abubakar nampaknya masih sekadar rencana.

Bahkan, saat KBB di bawah kepemimpinan Pj Bupati Bandung Barat Arsan Latif interchange Walini sempat ditargetkan bakal beroperasi di tahun ini.

Ironisnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda interchange Walini bakal dibangun. Padahal masyarakat KBB, khususnya di Kecamatan Cikalongwetan dan Cipeundeuy sangat membutuhkan interchange di Tol Cipularang itu. 

Hal ini pun menuai tanda tanya dari pelbagai pihak, salah satunya anggota DPRD KBB Fikri Zamzam Noor. Dia mempertanyakan kejelasan dari pembangunan interchange Walini di Kecamatan Cikalongwetan itu. 

"Sudah sejak lama interchange Walini hanya isu dan wacana saja," sindir anggota DPRD KBB dari Dapil 2 ini belum lama ini.

Fikri menilai, akses keluar masuk Tol Cipularang di Cikalongwetan (interchange) itu harus segera dibangun. Sebab, hal itu sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat terhadap kemudahan akses transportasi untuk menunjang aktivitas dan kegiatan usaha.

"Harus secepatnya dibangun, karena semenjak dibangunnya Cipularang, masyarakat Cikalongwetan dan Cipendeuy merasa terisolir karena tidak ada pintu tol di Cikalongwetan sebagai akses masuk tol," ujarnya.

Dengan beroperasinya pintu Tol Walini, ungkap Fikri, maka aktivitas masyarakat khususnya di dua kecamatan itu dan umumnya KBB bisa semakin dipermudah.

"Apalagi, aktivitas warga di Cikalongwetan dan Cipeundeuy kini tidak bisa lagi dengan bebas mengakses angkutan transportasi di ruas jalan Tol Cipularang," ungkapnya.

Hal itu setelah pihak Jasa Marga membuat pagar pembatas sehingga warga tidak bisa lagi dengan bebas naik atau turun di ruas tol tersebut. 

Meskipun hal itu melanggar, namun warga sudah terbiasa sehingga ketika dipasang pagar pembatas praktis dikeluhkan oleh warga.

"Bahkan dalam beberapa hari belakangan media sosial di Cikalongwetan ramai dengan berita kekecewaan dan keresahan terhadap kebijakan PT Jasamarga yang melakukan pemagaran atau menutup akses warga ke jalan tol," paparnya.

Kondisi tersebut juga dibenarkan aktivis pemuda yang juga anggota KNPI Jawa Barat Doni Ramlan Effendi. Menurut sebagian masyarakat di sepanjang jalan Tol Cipularang sedang ramai membicarakan terkait penutupan akses oleh pihak Jasamarga.

"Meskipun aktivitas warga itu melanggar. Tapi harus ada langkah kongkrit dari pihak terkait kususnya pemerintah pusat dan daerah melakukaan kajian dan koordinasi untuk menyelesikan masalah ini," ucapnya.

Doni menyebut, pihaknya bakal melakukan koordinasi dan audiensi dengan stekholder dan pihak berwenang (Jasamarga ) untuk mencari solusi dari permasalahan ini. 

Apalagi sejak tahun 2012 dirinya sudah menyuarakan bahwa interchange Walini harus segera dibangun. 

"Interchange Walini harus segera dibangun termasuk juga menyarankan dibangun terminal kecil agar akses masyarakat terhadap alternatif transportasi umum menjadi mudah," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana