SDN Girimukti Terancam Roboh, Siswa Belajar Bergiliran Bertahun-tahun
Kondisi darurat fasilitas pendidikan menimpa SDN Girimukti yang berlokasi di Kampung Rajamandala RT 03/12, Desa Mandala Mukti, Kecamatan Cikalongwetan, KBB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kondisi darurat fasilitas pendidikan menimpa SDN Girimukti yang berlokasi di Kampung Rajamandala RT 03/12, Desa Mandala Mukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sebuah ruang kelas mengalami rusak berat dan rawan roboh, sementara sisa bangunan lain mengalami kerusakan menyeluruh. Imbasnya, sebanyak 120 siswa terpaksa harus menjalani proses belajar mengajar secara bergiliran lantaran keterbatasan ruang yang layak pakai.
Keprihatinan mulai mencuat ke permukaan lantaran kerusakan ini bukanlah peristiwa baru. Kendati risiko bahaya sudah nyata, belum ada perbaikan signifikan atau perhatian serius dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berdasarkan data di lapangan, dari total enam ruang kelas yang tersedia, satu di antaranya sebagian strukturnya sudah ambruk, sedangkan lima ruangan lainnya mengalami kerusakan kronis mulai dari plafon bolong, hingga dinding dan lantai yang retak merata.
Hanya ruang perpustakaan dan ruang guru yang kondisinya masih bisa bertahan. Belum lagi lapangan upacara yang masih berupa tanah merah, berdebu saat kemarau dan becek di musim hujan tanpa ada penanganan memadai.
Tak cuma itu, kondisi sanitasi pun memprihatinkan dan melanggar standar layak sekolah. Pasalnya, keempat unit MCK yang ada bagi siswa semuanya rusak total dan tidak bisa digunakan, sementara satu unit untuk guru pun kondisinya memburuk.
Akibatnya, siswa terpaksa menahan keinginan buang air atau harus berjalan keluar lingkungan sekolah menuju masjid atau pesantren terdekat.
Upaya sekolah melayangkan puluhan proposal perbaikan berulang kali menemui jalan buntu. Terakhir kali rehabilitasi dilakukan pada tahun 2018, dan harapan untuk tahun 2026 pun pupus usai alokasi dana yang dijanjikan dialihkan ke sekolah lain di wilayah yang sama.
Anggota Komite SDN Girimukti Sukma Mulyana mengaku khawatir dengan risiko keselamatan siswa. Menurutnya, posisi bangunan yang rawan roboh berada berderet dengan ruang kelas aktif lainnya, sehingga jika runtuh dapat menimpa area belajar yang masih digunakan.
"Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari setahun. Saat MPLS kemarin pun pelaksanaannya tidak maksimal karena kami kekurangan ruang, sehingga siswa harus bergantian," kata Sukma, Jumat (24/7/2026).
"Ruangan yang rusak parah biasanya dipakai kelas satu dan dua, kini mereka harus berbagi tempat dengan kelas lain. Kami sangat cemas jika ada anak yang tidak sengaja masuk ke zona berbahaya itu saat bermain," bebernya.
Sukma menegaskan, baik pihak orang tua dan warga sekolah menolak tindakan reaktif. Permintaan perbaikan bukan sekadar demi kenyamanan, melainkan menjamin hak dasar dan keselamatan anak didik.
"Kami memohon Pemda dan Dinas Pendidikan segera turun tangan. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa atau luka parah baru bertindak," ungkapnya.
"Kami ingin anak-anak belajar dengan tenang, orang tua tenang, dan fasilitas pendidikan di sini benar-benar layak huni," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

