Dari Kepedulian Seorang Guru, PKBM Lam Alif Jadi Harapan Warga Putus Sekolah di KBB

Didirikan H. Ee Khaerudin pada 1998, PKBM Lam Alif di Cikalongwetan, Bandung Barat, kini melayani sekitar 300 peserta didik.

Dari Kepedulian Seorang Guru, PKBM Lam Alif Jadi Harapan Warga Putus Sekolah di KBB
PKBM Lam Alif, pelopor pendidikan kesetaraan di Kabupaten Bandung Barat. Didirikan 1998 oleh H. Ee Khaerudin M. Noor.

INILAHKORAN.ID-Di Kampung Ciraja, RT 02/04, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang telah menjadi tumpuan harapan warga selama hampir tiga dekade.

Lembaga bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Lam Alif itu merupakan salah satu pelopor pendidikan kesetaraan di Kabupaten Bandung Barat. Didirikan pada 1998 oleh H. Ee Khaerudin M. Noor (69), mantan Kepala SDN Tresnaraja yang pensiun pada 2017.

Ketika itu, lembaga pendidikan kesetaraan seperti PKBM masih sangat terbatas. Saat wilayah Bandung Barat belum dimekarkan, tercatat hanya sekitar 11 PKBM yang beroperasi.

Kini, setelah hampir 29 tahun berjalan, PKBM Lam Alif berkembang dari kelas kecil berisi sekitar 40 siswa menjadi lembaga yang menaungi kurang lebih 300 peserta didik aktif. Menariknya, sebagian besar peserta didik datang mendaftar atas inisiatif sendiri tanpa perlu promosi.

Kisah berdirinya PKBM Lam Alif berawal dari keprihatinan seorang pendidik yang tidak ingin melihat anak-anak putus sekolah kehilangan kesempatan untuk meraih masa depan.

Saat masih mengajar di sekolah dasar, H. Ee menyaksikan banyak anak terpaksa berhenti bersekolah akibat keterbatasan biaya, jarak, maupun usia yang tidak lagi memungkinkan mereka mengikuti pendidikan formal.

Berangkat dari kepedulian tersebut, ia membuka kelas belajar secara swadaya. Selama hampir dua dasawarsa sebelum adanya program Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), operasional lembaga sepenuhnya ditopang oleh tekad pendiri dan dukungan masyarakat.

"Dulu ditempuh enam tahun dengan ujian dua kali setahun, kini disesuaikan menjadi tiga tahun, setara jenjang sekolah formal agar lulusannya memiliki jalur yang jelas untuk melanjutkan pendidikan," kata Ee saat ditemui di lokasi, Selasa (3/11/2026).

Bertahan dengan Fasilitas Terbatas

Perjuangan membangun pendidikan kesetaraan di wilayah yang jauh dari pusat kota bukan perkara mudah. Gedung yang digunakan PKBM Lam Alif saat ini merupakan bekas bangunan SD Tresnaraja yang rusak akibat longsor.

H. Ee bahkan rela membeli tanah secara pribadi untuk relokasi sekolah tersebut. Dengan begitu, bangunan lama tidak dibongkar, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat.

Keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan hingga sekarang. Salah satunya ketersediaan komputer yang hanya berjumlah 10 unit dari bantuan pemerintah secara bertahap.

Kondisi tersebut membuat kegiatan pembelajaran komputer harus dibagi menjadi dua sesi agar seluruh peserta didik tetap mendapatkan kesempatan berlatih.

"Fasilitas komputer yang sangat terbatas, hanya 10 unit dari bantuan bertahap pemerintah, sehingga memaksa satu kelas dibagi dua sesi agar semua siswa dapat berlatih," ungkapnya.

Meski menghadapi keterbatasan sarana, PKBM Lam Alif berupaya menyesuaikan sistem pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Lembaga tersebut bahkan membangun sistem pembelajaran daring berbasis website agar siswa yang bekerja di luar kota tetap bisa mengakses materi dan mengikuti ujian tanpa harus datang setiap hari.

Menurut H. Ee, karakter peserta didik PKBM berbeda dengan siswa sekolah formal. Sebagian besar merupakan orang dewasa yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.

"Siswa PKBM Lam Alif memang unik, mereka bukan anak-anak yang dibawa orang tua ke sekolah, tetapi orang-orang dewasa yang rela meluangkan waktu sepulang kerja demi memperbaiki masa depan," ujarnya.

Sebagian peserta didik diketahui bekerja di Bekasi, Jakarta, dan sejumlah kota lainnya. Karena itu, mereka hanya bisa datang ke lokasi pembelajaran satu atau dua kali dalam sebulan.

Kondisi tersebut membuat pengelola harus menerapkan pola pembelajaran yang lebih fleksibel sekaligus menjaga komitmen peserta didik agar tetap menyelesaikan pendidikan.

"PKBM bukan alternatif bagi anak usia sekolah yang masih bisa masuk sekolah formal, melainkan jalan keluar bagi mereka yang memang sudah terlanjur putus dan butuh kesempatan kedua," ucapnya.

Tiga Alumni Jadi Kepala Desa

Perjalanan panjang PKBM Lam Alif perlahan membuahkan hasil. H. Ee menyebut, sejumlah alumninya kini berhasil menempati berbagai posisi di tengah masyarakat.

Bahkan, tiga alumni PKBM Lam Alif saat ini menjabat sebagai kepala desa, masing-masing di Desa Cipada, Desa Mekarjaya, dan Desa Mandalasari.

"Banyak yang menjadi guru, kepala sekolah, perangkat desa, bahkan atlet nasional," ucapnya.

Menurut H. Ee, ijazah Paket C yang diperoleh peserta didik menjadi salah satu jalan untuk melanjutkan pendidikan maupun membuka peluang pekerjaan. Ijazah tersebut juga dapat menjadi bekal untuk memenuhi persyaratan administrasi dalam sejumlah kesempatan, termasuk menduduki jabatan publik sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi H. Ee, keberhasilan para alumni menjadi bukti bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tidak seharusnya dibatasi oleh usia maupun kondisi ekonomi.

Prinsip itulah yang terus dipegangnya hingga kini. Setelah hampir tiga dekade mengelola PKBM Lam Alif, ia masih percaya bahwa pendidikan dapat menjadi pintu perubahan bagi siapa saja.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan wilayah, PKBM Lam Alif terus membuka kesempatan bagi warga yang ingin kembali belajar. Sebab, pendidikan tidak pernah mengenal kata terlambat.***


Editor : JakaPermana