Jadi Solusi Energi Murah, Dua Warga Melong Cimahi Ciptakan Bahan Bakar Petasol dari Sampah Kresek

Inovasi yang diciptakan Wahyu dan Leo ini mampu mengubah 1 kilogram sampah kantong plastik menjadi sekitar 1 liter bensin.

Jadi Solusi Energi Murah, Dua Warga Melong Cimahi Ciptakan Bahan Bakar Petasol dari Sampah Kresek

INILAHKORAN, cimahi - petasol, merupakan nama bahan bakar bensin yang dihasilkan mesin pengolah sampah kantong plastik.

Tak hanya ramah lingkungan, bahan bakar bensin yang tercipta dari tangan dingin dua putra daerah asal Kelurahan melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi ini disebut-sebut berpotensi besar menajdi solusi energi murah lantaran berbahan dasar sampah rumah tangga.

Inovasi yang diciptakan Wahyu dan Leo ini mampu mengubah 1 kilogram sampah kantong plastik menjadi sekitar 1 liter bensin.

Meski begitu, Petasol ini ternyata sudah mengantongi izin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan dinyatakan lolos uji kelayakan dari Dirjen Migas Kementerian ESDM yang mencakup 17 indikator keamanan dan kenyamanan pemakaian jangka panjang.

"Kami mendukung penuh teknologi yang dikembangkan Wahyu dan Leo merupakan teknologi tepat guna karena bahan bakunya berasal dari sampah plastik jenis kresek. Syaratnya, kreseknya harus dalam keadaan bersih," kata Lurah Melong, Dian Rohmat belum lama ini.

Kendati demikian, jelas Dian, apabila kondisi kreseknya kotor tidak masalah lantaran terdapat mesin gibrik. Di mesin tersebut, kantong kresek ditampung terlebih dahulu sebelum proses pengolahan.

"Jadi plastik-plastik direbus dulu oleh alatnya, nanti setelah itu ada yang menetes dan menjadi uap," jelasnya.

Dian menyebut, uap inilah yang nantinya menjadi bahan bakar Petasol dan hasilnya pun bisa menyerupai pertamax. Bahkan, bahan bakar pesawat dengan kandungan lebih dari 92 oktan.

"Menurut Wahyu dan Leo selaku pembuatnya, mesin tersebut sudah ada perjanjian dengan PLN untuk permintaan bahan bakarnya," sebutnya.

Dikatakan Dian, bahan bakar Petasol ini bisa dijual di bawah harga SPBU dan tidak merusak mesin. Bahkan, salah satu mobil milik PLN sudah menggunakan Petasol yang diproduksi dari bank sampah induk Kelurahan Melong.

"Izinnya sudah dari BRIN juga, kami berencana mengundang Wali Kota untuk melihat langsung mesin itu. Kami ingin tahu apakah bisa diberdayakan lebih luas, ketimbang harus membeli keresek dari luar Melong atau bahkan dari luar Cimahi," jelasnya.

Tak cuma itu, Kelurahan Melong juga mulai menyusun rencana edukasi kepada petugas penarik sampah bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar plastik-plastik bisa langsung dipilah dan dijual ke pengolah Petasol. 

Saat ini, ungkap Dian, satu kilogram kresek dihargai Rp400, namun pihaknya berkomitmen bakal mengajukan agar harganya bisa dinaikkan.

"Wahyu dan Leo itu warga RW 26 Kelurahan Melong, jadi mereka asli orang Melong. Mereka yang merakit alat itu, dan sebelumnya juga pernah bekerja sama di Bandung," ungkapnya.

Meski alat tersebut sederhana dan masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya, namun hasilnya sudah sangat layak digunakan.

"Satu mesin bisa mengolah 100 kilogram sampah dan menghasilkan 100 liter bahan bakar. Itu terpecah jadi air, pertamax, dan solar," katanya.

Kendati demikian, ungkap Dian, hasil akhirnya bergantung dari jenis sampahnya. Sebab, jika bahan baku banyak mengandung stereofoam, maka output nya akan lebih banyak bensin. Tapi kalau sampah plastik biasa, dominannya solar.

"Sampah bekas kopi dan sejenisnya nggak bisa. Jadi khusus hanya untuk kresek saja," tandasnya. *** (agus satia negara) 


Editor : Ahmad Sayuti