Pecahkan 2 Persoalan Sampah, Inovasi Petasol Jadi Solusi Lingkungan dan Energi Murah

Bank Sumberdaya Sampah Induk Melong26 menghadirkan inovasi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak jenis solar yang diberi nama Petasol.

Pecahkan 2 Persoalan Sampah, Inovasi Petasol Jadi Solusi Lingkungan dan Energi Murah
Pengelola Bank Sumberdaya Sampah Induk Melong26 memperlihatkan inovasi bahan bakar solar dari limbah plastik atau petasol.

INILAHKORAN.ID – Persoalan sampah plastik yang kerap menjadi beban lingkungan dan sulit terurai kini mulai terjawab lewat terobosan cerdas di Kota Cimahi. 

Bank Sumberdaya Sampah Induk Melong26 menghadirkan inovasi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak jenis solar yang diberi nama Petasol

Inovasi ini sekaligus memecahkan dua persoalan besar sekaligus, yakni menumpas tumpukan sampah plastik yang mencemari lingkungan, serta menyediakan sumber energi alternatif yang harganya jauh lebih terjangkau di tengah tingginya harga bahan bakar minyak konvensional.

Berlokasi di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, teknologi ini fokus mengolah jenis sampah plastik bernilai rendah yang selama ini sulit didaur ulang, seperti kantong kresek, bungkus makanan ringan, kemasan refill, dan berbagai jenis plastik tipis lainnya yang sering terabaikan. 

Prosesnya dimulai dengan pemilahan sampah, kemudian bahan baku dimasukkan ke dalam rangkaian alat pirolisis yang meliputi reaktor, tungku pemanas, kondensor, hingga tangki penampungan. 

Lewat proses pemanasan dalam kondisi tanpa oksigen, limbah plastik tersebut akhirnya diubah wujudnya menjadi cairan bahan bakar yang siap pakai.

Inisiator Petasol, Lionardi Sutandi menjelaskan, teknologi pirolisis ini telah dikembangkan bersama timnya sejak tahun 2014 di Banjarnegara, sebelum akhirnya diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut di Kota Cimahi. 

Ia membuktikan, sampah yang dianggap tidak berguna ini justru memiliki nilai ekonomi tinggi. 

"Dari setiap 75 kilogram sampah plastik yang diolah, dapat dihasilkan sekitar 60 hingga 70 liter bahan bakar jenis solar," kata Lio, Rabu (6/5/2026).

Angka ini, terang Lionardi, menunjukkan efisiensi tinggi sekaligus menjadi bukti nyata solusi atas persoalan limbah yang selama ini membebani masyarakat.

“Hasil olahan ini sudah kami distribusikan dan digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari petani untuk mesin pengolahan lahan hingga kontraktor untuk operasional alat berat," terangnya.

"Responnya sangat positif karena kualitasnya setara namun harganya jauh lebih bersahabat,” ucapnya.

Lionardi mengungkapkan, daya tarik utama Petasol terletak pada harganya yang kompetitif, yakni hanya dijual seharga Rp15.000 per liter. Angka ini tentu jauh lebih murah dibandingkan harga solar di pasaran saat ini. 

"Berkat keunggulannya, permintaan masyarakat melonjak tinggi, bahkan tim pengelola mengaku kewalahan melayani antrean pesanan yang terus bertambah dari berbagai sektor kebutuhan," ujarnya.

Selain menawarkan solusi energi yang lebih hemat, sambung Lionardi, inovasi ini dinilai membawa manfaat ganda yang besar. Di satu sisi, membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik yang butuh ratusan tahun untuk terura.

Di sisi lain, memberikan kontribusi nyata bagi ketersediaan energi alternatif bagi masyarakat maupun dunia usaha.

"Ke depan, pengembangan Petasol diharapkan dapat terus berkembang kapasitasnya, meluas ke daerah lain, dan menjadi salah satu model utama solusi pengelolaan sampah berbasis energi di Indonesia," tandasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti