Kapolda Jabar Edukasi Siswa SMPN 50 Bandung soal Bahaya Hoaks di Media Sosial

Kapolda Jabar Irjen Pol Hengki mengedukasi siswa SMPN 50 Bandung tentang bahaya hoaks melalui program Polisi Peduli Pendidikan.

Kapolda Jabar Edukasi Siswa SMPN 50 Bandung soal Bahaya Hoaks di Media Sosial
Kapolda Jabar Iren Pol Hengki disambut puluhan siswa SMPN 50 Bandung saat melakukan kunjungan dalam program Polisi Peduli Pendidikan. Istimewa

INILAHKORAN.ID – Polda Jawa Barat menggulirkan program Polisi Peduli Pendidikan untuk membentengi generasi muda dari ancaman negatif di ruang digital, khususnya penyebaran berita bohong atau hoaks.

Melalui program tersebut, Kapolda Jabar Irjen Pol Hengki turun langsung memberikan pembinaan dan edukasi mengenai bahaya hoaks kepada para siswa SMPN 50 Bandung.

Dalam kegiatan itu, Hengki menyoroti maraknya penyebaran berita bohong yang semakin mudah diakses pelajar melalui telepon pintar atau smartphone. Menurutnya, keinginan untuk menjadi orang pertama yang membagikan informasi kerap membuat pelajar mengabaikan pentingnya melakukan verifikasi atau cek dan ricek.

"Berita bohong dapat memicu kebencian, merusak persahabatan, menimbulkan keresahan di masyarakat, hingga berujung pada konsekuensi hukum yang serius," ujar Hengki, Senin (2/11/2026).

Hengki mengimbau para siswa agar tidak gegabah saat menggunakan ponsel dan mengakses media sosial. Ia mengingatkan bahwa informasi yang terlanjur diunggah dan menyebar luas di ruang digital akan sulit ditarik kembali.

"Ingat, sekali kalian menekan tombol kirim, informasi itu dapat tersebar luas dan sangat sulit ditarik kembali. Jangan sampai pelajar di Jawa Barat menjadi bagian dari penyebar hoaks," tegasnya.

Melalui program Polisi Peduli Pendidikan, jajaran Polda Jabar mendatangi sejumlah sekolah untuk memberikan pembinaan karakter sekaligus meningkatkan pemahaman hukum kepada para pelajar, khususnya terkait etika bermedia sosial.

Selain memberikan edukasi secara langsung, Hengki juga mendorong pihak sekolah untuk aktif membangun budaya berpikir kritis di kalangan peserta didik.

Para pelajar diingatkan agar selalu memeriksa kebenaran informasi, membandingkan sumber berita, serta memastikan kredibilitas sumber sebelum membagikannya kembali melalui berbagai platform digital.

Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi digital generasi muda sekaligus mencegah pelajar terlibat dalam penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan dampak sosial maupun hukum.


Editor : Ahmad Sayuti