Karhutla Gunung Putri Garut Hanguskan 2 Hektare, Bara Api Masih Mengancam

Karhutla di Gunung Putri, Garut, menghanguskan 2 hektare lahan. BPBD mewaspadai bara api dan mengintensifkan patroli hingga 31 Oktober 2026.

Karhutla Gunung Putri Garut Hanguskan 2 Hektare, Bara Api Masih Mengancam
Ilustrasi Karhutla

INILAHKORAN.ID - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Putri, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, menghanguskan sekitar 2 hektare lahan. Meski kobaran api sebagian besar telah mereda, potensi kebakaran susulan masih diwaspadai karena bara api belum sepenuhnya padam.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun meneruskan laporan BPBD Garut menjelaskan, kebakaran terjadi pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB di Blok Cisakti, Kampung Cimuncang, Desa Rancabango.

"Pengawasan perlu terus dilakukan, untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala dan meluas ke area sekitarnya," ujar Teten, Senin (26/10/2016).

Berdasarkan hasil asesmen petugas, sekitar pukul 21.00 WIB api dilaporkan telah mengecil dengan estimasi 95 persen. Namun, bara yang tersisa pada tunggul kaliandra masih berpotensi memicu kebakaran kembali.

Guna mengantisipasi perambatan api, pemantauan dan patroli di kawasan Gunung Putri tetap dilakukan hingga 31 Oktober 2026.

Dalam laporan tersebut, Teten menjelaskan petugas gabungan menghadapi kendala medan terjal dan curam yang menyulitkan akses menuju titik kebakaran. Kondisi vegetasi yang kering, angin kencang, serta keterbatasan peralatan turut memperbesar risiko api kembali meluas.

"Kendalanya di lapangan medan yang terjal, akses menanjak, angin kencang, serta minimnya peralatan pemadaman," ucapnya.

Petugas mendapati api masih membesar di sejumlah titik, saat asesmen berlangsung. Bahkan, kobaran api telah merambat ke lahan perkebunan warga yang berada di atas lokasi kebakaran.

Habitat Satwa Liar Terancam

Kebakaran Gunung Putri tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga berpotensi mengganggu habitat satwa liar. Lokasi kejadian berdekatan dengan kawasan konservasi sumber daya alam (KSDA) Seksi Wilayah V Garut.

Vegetasi yang terdampak meliputi bambu, ilalang, kaso, kaliandra, kirinyuh, serta jati putih atau jabon.

Sementara itu, satwa yang habitatnya terancam antara lain macan kumbang, ular sanca, ular hijau atau ular pucuk, king cobra, kucing liar, dan kera.

Ancaman kebakaran juga perlu diwaspadai karena terdapat peternakan domba adu dan domba pedaging sekitar 50-100 meter dari titik api. Adapun jarak titik api terdekat dengan permukiman diperkirakan sekitar 800 meter.

Suara dentuman bambu yang terbakar disertai kepulan asap pekat sempat memicu kepanikan warga di sekitar lokasi.

Medan Terjal Hambat Pemadaman

BPBD Kabupaten Garut bersama unsur Kecamatan Tarogong Kaler, Koramil 1111 Tarogong, Polsek Tarogong Kaler, pemerintah desa, Tagana, Masyarakat Peduli Api (MPA) Bukit Tegal Malaka, dan masyarakat setempat melakukan asesmen, pemantauan, serta penyekatan untuk menghambat perambatan api.

Penanganan dibagi menjadi dua regu. Regu pertama ditempatkan di Bukit Tegal Malaka sebagai pos pemantauan dengan koordinator Irsan F. Ansori. Sementara itu, regu kedua menangani kebakaran di Blok Cisakti di bawah koordinasi Tono Hartono.

Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala utama, terutama untuk menjangkau titik api di rumpun bambu. Akses jalan yang menanjak juga menyulitkan kendaraan tangki air BPBD maupun pemadam kebakaran mencapai lokasi.

BPBD merekomendasikan pemadaman dan penyekatan berkelanjutan sampai seluruh titik api dan bara dipastikan terkendali. Kesiapsiagaan kendaraan pemasok air juga perlu dipertahankan selama masih terdapat risiko kebakaran susulan.

Selain tambahan personel dan logistik, petugas membutuhkan peralatan pemadaman lahan berupa jet shooter, gebyok, dan garuk tajam.

Patroli hingga 31 Oktober 2026 menjadi langkah antisipasi, untuk memantau kondisi kawasan setelah kebakaran. Masyarakat di sekitar Gunung Putri juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya saat vegetasi mengering dan angin bertiup kencang. 


Editor : Ahmad Sayuti