Kasus TPPO Kembali Terulang, Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jangan Tergiur Janji Manis dan Bakal Keluarkan Aturan Anyar

Pemulangan Reni Rahmawati, perempuan asal Sukabumi yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di China, memantik peringatan keras dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Kasus TPPO Kembali Terulang, Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jangan Tergiur Janji Manis dan Bakal Keluarkan Aturan Anyar
Pemulangan Reni Rahmawati, perempuan asal Sukabumi yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di China, memantik peringatan keras dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

INILAHKORAN, Bandung - Pemulangan Reni Rahmawati, perempuan asal Sukabumi yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di China, memantik peringatan keras dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Ia menegaskan, bahwa kasus serupa sering terjadi dan meminta warga Jabar lebih waspada terhadap iming-iming pekerjaan atau pernikahan dengan warga negara asing, tanpa kejelasan status.

Reni hilang sejak September 2025 dan belakangan diketahui dibawa ke Quanzhou, Provinsi Fujian, China, untuk dinikahi warga setempat. Dua pelaku yang menjual Reni telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Barat.

Dedi menyampaikan terima kasih kepada jajaran kepolisian yang berhasil memulangkan Reni ke Indonesia.

"Tim Polda Jabar sudah berangkat ke sana dan kita suport dan hari ini mereka sudah kembali. Bagi saya bahagia sebagai gubernur bisa menangani berbagai masalah termasuk yang dialami warganya di luar negeri," kata Dedi di Sabuga, Kota Bandung, Selasa 18 November 2025.

Dedi menyoroti pola TPPO yang terus berulang. Banyak perempuan yang dijebak dengan janji gaji tinggi atau tawaran menikah dengan orang asing yang ternyata berujung pada eksploitasi.

"Kepada warga Jawa Barat saya ingatkan, terutama perempuan di Jabar jangan berorientasi kalau nikah sama orang asing terus kemudian belum jelas statusnya siapa dia terus akan jadi kaya," ujarnya.

Menurutnya, kasus seperti yang dialami Reni bukan kejadian baru. Saat menjabat Bupati Purwakarta, ia mengaku sering menangani korban-korban serupa.

"Perilaku ini bukan hanya satu, dulu waktu jadi bupati gak tahu menangani berapa teteh-teteh yang ada di Tiongkok, saya balikan. Saya minta ini peristiwa terakhir kan gak baik rasanya warga Jabar mudah banget dirayu orang apalagi sama laki-laki ke luar negeri," kata Dedi.

Ia menegaskan bahwa warga harus memastikan legalitas dan kejelasan status sebelum menerima ajakan pernikahan dari warga asing.

"Kalau menikahi harus jelas status kewarganegaraannya, nikahnya harus resmi, kemudian ada keluarganya ke sini, ini yang harus jadi rambu-rambu bagi warga Jabar. Akhirnya yang beranggapan hidup bahagia dan punya harta akhirnya jadi menderita," tuturnya.

Dedi juga menanggapi dugaan TPPO terhadap Rizki, atlet muda asal Dayeuhkolot yang diduga dieksploitasi di Kamboja. Meski belum menerima laporan lengkap, ia menegaskan pemerintah akan turun tangan.

"Kami tangani siapapun. Kalau saya profesi (PMI ilegal) itu jelas melarang, kalau perlu saya keluarkan lagi peraturan gubernur larangan warga Jabar untuk pergi ke negara ini, negara ini. Yang kemudian di negara itu menimbulkan penderitaan ini harus ditangani," tegasnya.

Menurutnya, semakin banyak pekerja migran ilegal yang meminta dipulangkan karena penipuan hingga tidak menerima hak gaji.

"Dan sekarang yang speak up itu orang yang kerja di luar kemudian ditipu mandornya gak dibayar, kita harus memulangkan lagi biaya lagi, gak ada problem tapi apabila itu gak terjadi kan pembiayaan bisa diarahkan untuk kepentingan lain," katanya.

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan memastikan proses hukum terhadap para pelaku terus berjalan.

"Ini terjadi karena ada tipu muslihat, ada sebuah perbuatan pidana yang dilakukan oleh dua orang yang kita sudah tetapkan sebagai tersangka," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pemulangan Reni tidak lepas dari peran KJRI di China.

"Alhamdulillah teh Reni sudah bisa diamankan ditolong oleh KJRI di sana. Diproses untuk kembalinya diselesaikan masalah-masalah hukum yang tersisa di Guangzhou sana," jelasnya.***


Editor : JakaPermana