Kemacetan di Kota Bandung Lebih Parah dari Jakarta, Ini Komentar Anggota Dewan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung tampak kecewa dan malu dengan hasil survei Asian Development Bank (ADB) yang menempatkan Kota Bandung menjadi kota termacet.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung tampak kecewa dan malu dengan hasil survei Asian Development Bank (ADB) yang menempatkan Kota Bandung menjadi kota termacet seluruh daerah di Indonesia. Bahkan, kemacetan di Kota Bandung ini lebih parah dari DKI Jakarta.
Anggota DPRD Kota Bandung, Folmer Silalahi menilai, kemacetan parah lantaran sistem transportasi di Kota Bandung belum terarah dan sistematis. Mulai dari penataan rute angkutan kota, membuka koridor baru, transmeter Bandung sampai saat ini program tersebut mandek.
"Termasuk keberadaan halte tidak terawat dengan baik, beberapa terminal sepi aktivitas, hingga rekayasa jalan masih banyak kendala," kata Folmer, Selasa (8/10/2019).
Menurut Folmer, infrastruktur di Kota Bandung masih berjalan di tempat. Misalnya, upaya penataan lalu lintas jalan raya, termasuk pembangunan flyover, pelebaran jalan, dan lainnya.
Sementara DKI Jakarta, lanjut Folmer, sudah punya Transjakarta, MRT, membangun jalan lingkar, membangun tol layang dan lain-lain sehingga upaya DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan kelihatan, progresnya ada dan sistematis.
Padahal, kata dia, semua program yang berkaitan dengan lalu lintas termasuk lingkungan sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) RT/RW dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung.
"Perda RDTR itu sudah ada sejak tahun 2015. Artinya sudah 5 tahun pembangunan sistem transportasi kita belum kelihatan hasilnya. Padahal tujuan membangun sistem transportasi itu untuk mengubah budaya warga agar tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi," ucap Folmer.
Folmer menilai, upaya Pemkot Bandung dalam menyikapi kemacetan selama ini masih sebatas rutinitas, spontanitas namun tidak terukur dengan baik. Upaya yang dilakukan hanya mengejar output-nya saja, yang menginginkan hasil 100 persen harus terlaksana.
Dia berharap agar program yang dijalankan Pemkot Bandung itu bisa terukur, sistematis, dan tepat sasaran. Tentunya lebih dipercepat lagi tahapannya dalam mewujudkan sistem transportasi di Bandung yang sesuai kebutuhan warga. (okky adiana)
Editor : suroprapanca

