Kemarau, Petani Keluhkan Membengkaknya Biaya Operasional

Musim kemarau yang terjadi selama beberapa bulan belakangan memberi dampak kerugian bagi para pelaku pertanian di Kota Cimahi. Satu di antaranya membengkaknya biaya perawatan tanaman. 

Kemarau, Petani Keluhkan Membengkaknya Biaya Operasional
Foto: Ahmad Sayuti

INILAH, Cimahi - Musim kemarau yang terjadi selama beberapa bulan belakangan memberi dampak kerugian bagi para pelaku pertanian di Kota Cimahi. Satu di antaranya membengkaknya biaya perawatan tanaman. 

Jajang Suhendi (29), petani di Kampung Torobosan, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi mengaku biaya produksi pertanian jadi membengkak lantaran ada biaya yang dikeluarkan untuk menyiram tanaman di lahan kebun. Dia harus membeli air dari PDAM dengan kebutuhan hampir 50 kubik setiap dua hari sekali.

"Kemarau ini sudah hampir tiga bulan. Jadi tidak ada hujan yang menyiram tanaman.  Otomatis untuk menyiram kan air juga harus beli setiap hari," kata Jajang saat ditemui di lahan perkebunannya, Kamis (4/7/2019).

Untuk membeli air dari PDAM Tirta Raharja, dirinya harus mengeluarkan uang sebesar Rp450 ribu per hari. Dalam sepekan, penyiraman itu bisa mencapai tiga kali.

Tiga hektare lahan kebun miliknya ditanami berbagai jenis sayuran. Mulai dari kembang kol, brokoli, kol, tomat, hingga cabai. Per hektare lahan itu membutuhkan biaya sebesar Rp50 juta.

"Modalnya sekitar Rp50 juta. Uang itu untuk beli bibit, benih, dan ongkos kerja. Kalau kemarau, jumlahnya bisa meningkat sampai Rp80 juta. Soalnya, penyiraman dan pemupukanan itu kan harus bayar lagi ke pekerjanya. Bisa balik modal lagi juga sudah untung, yang penting engga nombok," ujarnya.

Kendati pada musim kemarau itu harga sayuran mengalami peningkatan, namun pihaknya mengalami penurunan omzet karena suplai yang berkurang. Dia pun mengeluhkan, hasil panen saat ini menurun. Biasanya, semua jenis sayuran itu bisa panen sampai 80 ton tapi saat kemarau ini hasil panen itu hanya 25 ton. 

Dia menambahkan, saat ini kebun yang digarap 25 orang pekerja tersebut sedang menunggu masa panen. Setelah panen, kemungkinan lahan akan didiamkan dan menunggu musim hujan untuk kembali ditanami.

Ruhiat (40), salah satu petani penggarap mengaku kualitas tanaman saat kemarau sangat menurun. Semisal, kembang kol yang dipanen kini beratnya hanya 500 gr. Padahal, biasanya satu kembang kol itu bisa mencapai 2 kg.

"Besarnya juga menyusut, paling ini 500 gram paling bagus 1 kg. Belum tomat, dari awal ditanam dua bulan lalu ya besarnya juga tidak maksimal, kecil. Meskipun disiram dan dipupuk tiap hari, tapi pertumbuhannya dipaksa," kata Ruhiat. 

Setelah panen selesai, dia yang mengandalkan pekerjaan jadi buruh tani itu bersiap mencari pekerjaan sementara untuk menyambung hidup. (Ahmad Sayuti)


Editor : Doni Ramdhani