Kemarau Tekan Produksi Ikan Saguling, Harga Pakan Naik

Produksi ikan KJA Waduk Saguling turun 490 ton dari Juli hingga September 2026. Pembudidaya tertekan kenaikan harga pakan di tengah kemarau panjang.

Kemarau Tekan Produksi Ikan Saguling, Harga Pakan Naik
Produksi ikan KJA Waduk Saguling turun 490 ton dari Juli hingga September 2026. Pembudidaya tertekan kenaikan harga pakan di tengah kemarau panjang.

INILAHKORAN.ID – Kemarau panjang membawa dampak berbeda bagi masyarakat di kawasan Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Menyusutnya debit air di bawah Jembatan Sasak Bubur, Cihampelas, dimanfaatkan warga untuk berburu ikan secara massal. Namun, kondisi tersebut justru menjadi tekanan bagi pembudidaya ikan di keramba jaring apung (KJA).

Penurunan debit air berdampak pada produktivitas ikan, sementara biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga pakan. Di sisi lain, harga jual ikan di tingkat pembudidaya relatif tidak berubah sehingga keuntungan usaha semakin tertekan.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, melalui Kepala Bidang Perikanan, Dindin Rustandi, membenarkan fenomena warga berburu ikan di kawasan Sasak Bubur, Cihampelas, yang viral melalui video di media sosial.

Menurut Dindin, aktivitas tersebut terjadi karena volume air menyusut akibat cuaca panas berkepanjangan. Bagi pembudidaya ikan, dampaknya lebih serius karena berpengaruh langsung terhadap hasil produksi dan pendapatan.

"Aksi warga yang berburu ikan di bawah Sasak Bubur Cihampelas sejak kemarin dilakukan karena air sungai yang menyusut," kata Dindin, Jumat (23/10/2026).

produksi ikan KJA Waduk Saguling Terus Menurun

Dindin mengungkapkan, penurunan produksi ikan di KJA terlihat dari data triwulan III 2026. Produksi yang mencapai 3.431 ton pada Juli turun menjadi 3.235 ton pada Agustus, kemudian kembali merosot menjadi 2.941 ton pada September.

Dengan demikian, produksi ikan KJA turun 490 ton dari Juli hingga September 2026.

Penurunan juga terjadi pada produksi ikan di perairan tenang. Pada Juli, produksinya tercatat 631 ton, kemudian turun menjadi 350 ton pada Agustus dan sedikit meningkat menjadi 360 ton pada September.

"Penurunan produktivitas ikan ini dipicu menurunnya debit air sebagai imbas dari kemarau panjang yang terjadi saat ini," ungkapnya.

Harga Pakan Naik, Harga Jual Ikan Tetap

Tekanan yang dihadapi pembudidaya tidak hanya berasal dari penurunan hasil panen. harga pakan ikan juga mengalami kenaikan Rp500 per kilogram dalam beberapa bulan terakhir, dari Rp13.000 menjadi Rp13.500 per kilogram.

Sementara itu, harga jual ikan di tingkat pembudidaya belum mengalami perubahan. Harga nila hitam masih berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, nila merah Rp26.000–Rp27.000 per kilogram, ikan mas Rp30.000–Rp32.000 per kilogram, serta patin Rp10.000–Rp15.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat pembudidaya menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni penurunan produksi dan peningkatan biaya pakan.

"Ada kenaikan harga pakan Rp500 per kilogram dalam beberapa bulan terakhir. Tapi kalau untuk harga ikannya tetap sama, tidak ada kenaikan," ungkap Dindin.

Untuk mengurangi risiko kerugian, sebagian pembudidaya mulai menyiasati kondisi tersebut dengan mengurangi jumlah bibit ikan yang ditebar.

Dispernakan KBB juga telah menerbitkan surat edaran bernomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026 tertanggal 9 Oktober 2026. Surat tersebut berisi peringatan dini dan rekomendasi langkah antisipasi bagi enam kecamatan terdampak, yakni Cililin, Batujajar, Saguling, Cipongkor, Cihampelas, dan Cipeundeuy.

Ribuan Petak KJA Tidak Lagi Beroperasi

Dindin menyebutkan, berdasarkan data 2025, jumlah KJA di Waduk Saguling tercatat sebanyak 45.464 petak dengan 1.974 pembudidaya.

Dalam perkembangan berikutnya, sebanyak 1.650 petak dilaporkan dibongkar dan 431 pembudidaya tidak lagi melanjutkan usahanya. Data yang disampaikan menyebutkan jumlah petak tersisa sebanyak 43.815.

Sementara itu, di Waduk Cirata, sensus terbaru Nusantara Power pada 2026 mencatat 27.794 petak KJA tersebar di lima desa di Kecamatan Cipeundeuy. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27.189 petak dalam kondisi baik, 537 petak mengalami kerusakan ringan, dan 68 petak mengalami kerusakan berat.

Hasil panen ikan dari kawasan tersebut sebagian besar didistribusikan ke pasar-pasar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Selain itu, ikan juga dipasarkan ke pasar lokal, termasuk Pasar Caringin dan Ciroyom di Bandung.

Kondisi kemarau yang berdampak pada produksi dan biaya usaha tersebut menjadi perhatian bagi keberlangsungan usaha pembudidaya ikan di kawasan Waduk Saguling dan sekitarnya.***


Editor : JakaPermana