Kematian Orisinalitas di Balik Mahakarya Instan Artificial Intelligence

Di tengah banjir konten AI, kreativitas manusia terancam kehilangan nyawa. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti visi dan kreativitas kreator.

Kematian Orisinalitas di Balik Mahakarya Instan Artificial Intelligence
Kurnia Lucky Fadillah Dosen Prodi Manajemen Produksi Media, Sekolah Vokasi, Universitas Padjadjaran.

Oleh: Kurnia Lucky Fadillah
Dosen Prodi Manajemen Produksi Media, Sekolah Vokasi, Universitas Padjadjaran

Di tengah menjamurnya konten di media sosial, kita akan disambut dengan lautan visual yang ‘seragam’. Mulai dari palet warna, komposisi desain, hingga video sinematik realistis yang berseliweran, semuanya terlihat mahal, presisi, dan nyaris tanpa cacat. Namun, di balik kesempurnaan piksel tersebut, ada ruang yang terasa sangat kosong, yaitu nyawa dan cerita.

Kita ambil contoh dari beberapa konten mengenai storytelling sejarah, mitologi hingga trailer film fiktif yang membanjiri linimasa tiktok dan Instagram. Selain itu ada video hiburan kucing yang melakukan kehidupan sehari-hari manusia, buah-buahan yang berbentuk seperti manusia yang ceritanya agak sedikit absurd. Tetapi konten-konten ini banyak dinikmati oleh khalayak karena menghibur.

Video-video komedi atau drama yang berseliweran di media sosial mungkin berkualitas tinggi, tetapi terkadang narasi yang dibuat terasa hambar dan repetitif. Mengapa? Hal ini terjadi karena beberapa kreator kini memilih jalan pintas dengan menyerahkan kursi “sutradara” sepenuhnya kepada kecerdasan buatan (AI).

Ketika algoritma ini dibiarkan mengambil alih kendali estetika serta penceritaan, cita rasa orisinalitas dan keunikan sang pencipta menjadi luntur tak tersisa. Karya menjadi sekadar produk pabrikan, bukan lagi buah pemikiran.

Pada akhirnya, Audiens akan mencapai titik jenuh ketika media sosial yang terus dijejali dengan karya visual yang terlalu sempurna. Karya tersebut mulai terasa seragam dan membosankan. Terkadang sebuah konten ini membutuhkan sentuhan manusiawi untuk bisa bernapas, dengan goresan-goresan yang sedikit tidak presisi, atau pergerakan kamera dengan handheld yang agak bergetar natural, justru memberikan kedekatan emosional yang tak tergantikan. Kesempurnaan tanpa celah dari Kecerdasan buatan ini justru perlahan akan mengikis nyawa dari karya itu sendiri.

Coba bayangkan satu skenario sederhana: server AI tumbang selama 48 jam. Apa yang akan terjadi? Para kreator instan ini pasti akan kelabakan. Otot kreatif serta kemampuan pemecahan masalah (problem-solving) mereka telah menumpul. Hal ini terjadi karena mereka terlalu dimanjakan oleh mesin kecerdasan buatan.

Para kreator ini mulai menyepelekan dasar-dasar krusial dalam pipeline produksi media, mulai dari riset, naskah, storyboarding, hingga eksekusi detail. Ketika “otak pinjaman” ini berhenti beroperasi, seluruh dapur produksi pun ikut lumpuh total. Mereka tidak lagi menguasai alat, melainkan tersandera oleh alat itu sendiri.

Dalam pipeline praproduksi, kebuntuan ide (writer’s block) bukanlah sebuah musuh yang harus dihindari. Hal ini merupakan sebuah kawah candradimuka dimana tempat sebuah orisinalitas lahir. Dimana ketika mengalami kebuntuan, seorang kreator dipaksa untuk meriset lebih dalam, mengamati sekitar serta mencari celah kosong yang bisa diisi. Kecerdasan buatan tentu sah digunakan sebagai tempat diskusi untuk memecah kebuntuan tersebut. Namun ketika kreator ini secara penuh menggunakan kecerdasan buatan ini sebagai jalan pintas menerobos fase “penderitaan” ini, mereka secara tidak langsung kehilangan suatu yang fatal dari kepekaan sosial, empati dan kemampuan menghidupkan karakter yang hanya bisa diasah melalui pergulatan pemikiran manusia.

Mentalitas Operator

Lebih jauh lagi, ketergantungan secara menyeluruh pada mesin akan melahirkan sebuah krisis identitas bagi sang kreator. Menggampangkan proses produksi secara tidak langsung melahirkan apa yang disebut dengan “mentalitas operator”. Ketika seorang kreator membangun sebuah portofolio yang sepenuhnya hasil dari generate instan, mereka sebenarnya tidak sedang memperlihatkan keahliannya, melainkan sedang memamerkan kecanggihan sebuah algoritma. jika sebuah karya yang “bagus” bisa diciptakan oleh siapa saja dengan hanya bermodalkan prompt, kualitas “bagus” ini tidak lagi berharga; ini hanya menjadi standar pabrik murahan.

Tentu saja, penggunaan AI ini bukanlah sesuatu yang tabu tahun ini, selama kita tahu di mana harus meletakkannya. Di industri media profesional, banyak production house memanfaatkan mesin ini semata-mata untuk mengefisienkan pipeline produksi. AI menjadi asisten yang brilian pada tahap praproduksi untuk riset awal dan perancangan storyboard kilat.

Sebagai contoh dalam tahap riset awal penggunaan kecerdasan buatan digunakan sebagai brainstroming ide dalam menyusun kerangka dengan cepat, kemudian penggunaan penggunaan lainnya dalam pembedahan naskah secara otomatis mengektraksi kebutuhan logistik dengan menggunakan StudioBinder. Kemudian mesin Midjournet, DALL-E 3 atau luma yang digunakan untuk membuat sebuah moodboard, referensi desain karakter.

Memasuki tahap ekseskusi atau produksi, ruang kerja audio-visual hampir selalu diwarnai ketidaksemurnaan, mulai dari cuaca yang mendadak berubah, kesalahan teknik, hingga improvisasi dari subjek manusia. Ironisnya, dari ketidaksesuaian rencana inilah sering kali lahir dari sebuah ide -ide segar (seperti adegan bloopers spontan yang justru memperkuat karakter). Kejutan emosial ini mustahil direplikasi oleh kecerdasan buata. Mesin hanya akan mengeluarkan hasil kaku sesuai dengan apa yang diketikan pada prompt. Kehilangan elemen kejutan inilah yang menjadi garis pemisah yang paling tegas antara seorang “sutradara” yang merespon keadaan, dan “operator” yang sekedar menyuruh mesin.

Di ranah pascaproduksi, AI hadir untuk menyelamatkan proyek berbujet tipis dengan membantu eksekusi transisi. Pembuat film Blake Ridder, misalnya, kerap membagikan di media sosialnya bagaimana ia memanfaatkan AI untuk menyempurnakan proses penyuntingannya. Ia membuktikan bahwa dengan bujet minim, tetap bisa dihasilkan karya memukau, asalkan visi manusianya tetap memegang kendali penuh.

Pada akhirnya, AI merupakan sebuah alat, bukan pencipta sebuah karya. Menjadikannya sebagai asisten untuk mempercepat pekerjaan teknis adalah langkah cerdas, tetapi membiarkannya mengambil alih proses berpikir dan pemecahan masalah adalah pembunuhan kreativitas.  

Jangan biarkan kemudahan teknologi merampas kursi “sutradara” dari diri sendiri. Sebab, ketika mesin dibiarkan merancang segalanya, karya kita akan kehilangan jiwanya dan hanya akan berakhir sebagai standar pabrik yang murahan. (*)


Editor : Gin gin T Ginulur