Kenaikan Kedelai Ganggu Konsumsi Harian, DKPP Pertimbangan Pemberian Subsidi Harga

Naiknya harga kedelai mengganggu konsumsi harian dan DKPP Kota Bandung bakal mempertimbangkan adanya subsidi harga kedelai

Kenaikan Kedelai Ganggu Konsumsi Harian, DKPP Pertimbangan Pemberian Subsidi Harga
Harga kedelai naik hingga 40 persen, DKPP Kota Bandung pun mempertimbangkan untuk mendorong adanya subsidi harga. Foto ilustrasi perajin tahu dok Inilahkoran

INILAHKORAN.ID - Harga kedelai yang melonjak hampir 40 persen, mulai menekan produsen tahu dan tempe di Kota Bandung. Dampak sosial pun terasa, karena pangan berbasis kedelai selama ini menjadi sumber protein murah bagi masyarakat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menyebut, kenaikan harga kedelai bukan hanya memengaruhi pelaku usaha. Tetapi juga konsumen yang terbiasa mengandalkan tahu, dan tempe sebagai makanan sehari-hari.

“Sekarang satu kilo kedelai yang biasanya Rp6.000, naik menjadi Rp9.000 sampai Rp10.000. Hampir 40 persen kenaikannya, dan kenaikan ini terjadi karena hampir seluruh kebutuhan kedelai masih bergantung pada impor," kata Gin Gin Ginanjar, Sabtu (11/4/2026).

Ketergantungan tersebut, dituturkannya membuat produsen kecil harus beradaptasi. Beberapa pengrajin tempe dan tahu, memilih mengurangi ukuran produk agar harga jual tetap bisa dijaga. Kondisi itu sambung dia, menimbulkan fenomena yang dikenal sebagai ‘mengecilnya ukuran dengan harga sama’ yang langsung dirasakan masyarakat.

“Produk pangan berbasis kedelai memang sangat tergantung pada pasokan luar negeri. Kalau untuk konsumsi masyarakat, bisa diganti dengan sumber protein lain. Tapi tahu dan tempe, itu sulit digantikan,” ucapnya.

Selain itu, DKPP menilai masyarakat mulai memilah pola konsumsi dengan mencari alternatif protein lain. Namun bagi produsen tahu dan tempe, pilihan tersebut tidak tersedia karena bahan baku utama tetap kedelai.

Pihaknya, melihat solusi jangka pendek berupa memperluas distribusi agar pasokan lebih lancar. Gin Gin menegaskan, langkah tersebut diharapkan bisa menekan gejolak harga di pasaran.

“Ke depan mungkin harus ada semacam subsidi dari pemerintah untuk kedelai. Kalau harga tetap tinggi, tentunya daya beli masyarakat akan menurun,” ujar dia.


Editor : Ahmad Sayuti