Kedelai Pindah Harga, Subsidi Jadi Senjata untuk Perajin Tahu Tempe
Disperindag Jabar mengaku kenaikan harga kedelai sangat signifikan dan bakal memberikan subsidi harga untuk perajin tahu dan tempe
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DIsperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengakui, harga kedelai naik signifikan sejak 2026.
Bahkan kenaikannya mencapai 40 persen, ketimbang 2025. Di mana harga kedelai saat ini di kisaran Rp13.800 per kilogram dan sedangkan tahun lalu masih di angka Rp8.000.
Pindah harga ini diakui Nining tidak dapat ditolak, karena 94 persen impor dari Amerika Serikat. Hanya 6 persen dari kebutuhan yang mampu dipenuhi secara domestik. Sehingga melemahnya rupiah terhadap dolar, diakuinya sangat memengaruhi harga kedelai.
Sebab itu, upaya telah dilakukan dengan mendorong pemerintah pusat meringankan para pelaku usaha tahu dan tempe yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku utama.
"Akan ada bantuan distribusi, setiap kilogram itu dikasih subsidi Rp2.000 sehingga mengurangi harga," ujar Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis (11/6/2026).
Untuk subsidi ini sambung dia, pemerintah pusat menyiapkan kuota sebanyak 250 ribu ton untuk nasional. Masing-masing daerah kata dia, akan mendapatkan sesuai kebutuhan.
Tidak hanya itu, Pemprov Jabar kata Nining, juga telah mengusulkan agar pemerintah pusat memberikan relaksasi bea masuk kedelai impor agar harga tidak terlalu tinggi di pasaran.
"Supaya harganya tidak terlalu tinggi, walaupun ada pelemahan rupiah," ucapnya.
Sebelumnya, sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung mulai kesulitan seiring melemahnya rupiah terhadap dolar karena menyebabkan harga kedelai terus naik.
Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M Zamaludin mengatakan, mayoritas kedelain yang digunakan perajin impor dari Kanada, Amerika dan Brazil.
"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu Rp9.000-an per kilogram lah, Rp8 ribu sampai Rp9.000, sekarang sudah nyampai ada yang Rp11.000 perkilogram," ujarnya.
Bahkan pihaknya sempat merencanakan melakukan aksi, karena sudah semakin sulit memproduksi tahu dan tempe akibat kenaikan harga kedelai.
"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 kita akan terulang lagi. Kita akan demo, kita ya ingin menaikkan harga susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya kita ya solusinya salah satunya ya kita demo mogok," katanya.
Pada 2023 lalu, para perajin tahu di Jawa Barat sempat melakukan aksi mogok dengan tidak beroperasi dan membuat tahu dan tempe hilang di pasar. Zamal menegaskan, jika pemerintah tidak mampu memberikan solusi, maka mogok produksi akan terjadi.
"Mogok masal produksi, seperti yang terjadi tahun 2023, kita mogok masal," katanya.
Untuk sementara, Zamal mengaku para perajin masih memiliki stok kedelai yang dimiliki sebelum dolar naik. Sehingga, beberapa diantaranya masih beroperasi dan menjual dengan ukuran yang sesuai tidak diperkecil.
"Kalau ukuran masih tetap, enggak ada pengurangan ukuran, harga kita masih tetap. Cuma ya itu, kita berkurang dari keuntungan aja, malahan ada sampai ada yang merugi juga," ucapnya.
Ia berharap, ada langkah taktis dari pemerintah guna menjaga stabilitas harga kedelai agar para perajin tahu dan tempe tetap bisa berproduksi.
"Harapan saya pemerintah segera turun tangan, bantu. Dulu juga bisa pemerintah turun tangan, salah satunya ya subsidi atau ya apa beanya seperti plastik lah, beanya di-nol kan, itu kan bisa plastik, kenapa kedelai enggak gitu, impor kedelai," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

